Peralihan ke praktik bisnis yang berkelanjutan mampu menciptakan keuntungan sekaligus menyelamatkan lingkungan.

Hal ini terungkap dalam laporan terbaru Program Lingkungan PBB (UNEP) berjudul “The Business Case for the Green Economy: Sustainable Return on Investment” yang disusun bekerja sama dengan SustainAbility dan GlobeScan.

Dengan menggunakan data-data ilmiah dan ekonomi, laporan ini berhasil mengungkap manfaat riil peralihan ke ekonomi hijau.

Contoh pertama datang dari perusahaan multinasional, Unilever. Melalui program bernama “Sustainable Living Plan”, Unilever berhasil menghemat biaya lebih dari US$10 juta setiap tahun dengan menerapkan praktik bisnis yang berkelanjutan.

Upaya Unilever menciptakan formula deterjen sekali cuci atau “one rinse washing formula” mampu menghemat air hingga 30 liter dalam sekali pencucian. Deterjen ini saat ini dipakai di lebih dari 12,5 juta rumah tangga di seluruh dunia – naik 60% dibanding tahun lalu.

Siemens, perusahaan teknologi asal Jerman tidak mau kalah dengan memroduksi separuh (2.000MW) dari kapasitas terpasang turbin angin lepas pantai dunia. Aksi hijau Siemens ini mampu menghemat 4 juta ton CO2 setiap tahun. Baru-baru ini, Siemens mengumumkan investasi baru senilai €150 juta guna lebih mengembangkan bisnis pembangkit listrik tenaga bayunya.

Grupo Bimbo dari Meksiko mampu menghemat US$700.000 dan 338.400 m3 air dalam tiga tahun melalui program penghematan airnya.

AVIVA, yang tahun lalu meluncurkan produk asuransi yang berfokus pada produk ramah lingkungan dan rendah karbon terus menikmati pertumbuhan bisnis yang nilainya diperkirakan mencapai UK£45 miliar pada 2015. Keberhasilan ini juga didukung oleh kebijakan dan insentif keuangan dari pemerintah.

PUMA – bekerja sama dengan Pricewaterhousecooper dan Trucost – menerapkan sistem akuntansi yang menghitung dampak positif dan negatif kinerja perusahaan terhadap lingkungan pada 2010. Dampak negatif yang berhasil dihitung oleh PUMA mencapai €145 juta yang dianggap kerugian bagi perusahaan.

Dengan menggunakan sistem ini, PUMA berhasil mengurangi dampak negatif operasional perusahaan terhadap lingkungan dan meningkatkan margin operasi dengan memertimbangkan risiko-risiko yang ada. PUMA juga berkomitmen memroduksi 50% produknya dari bahan-bahan terbarukan sebelum 2015.

Di Mesir, proyek kompos yang diinisiasi oleh Grup SEKEM berhasil menghemat lebih dari 300.000 ton emisi setara CO2 antara tahun 2007-2011 dan meningkatkan penjualan dari EGP788.400 menjadi lebih dari EGP10,5 juta pada tahun 2010.

General Motors menghemat lebih dari US$30 juta dalam 6 tahun melalui program produktivitas sumber daya alam, mereka juga berhasil mengurangi limbah hingga 40%.

Di China, keuntungan perusahaan perikanan Zhangzidao Fishery Group naik 40% per tahun antara tahun 2005 dan 2010 (lebih tinggi dibanding rata-rata industri yang 13%) dengan menggunakan metode monokultur alternatif yaitu pendekatan Multi-Tropic Aquaculture yang terintegrasi yang memertimbangkan kualitas dan kondisi lingkungan lokal.

Penelitian mengungkapkan, dengan beralih ke praktik bisnis yang berkelanjutan, perusahaan akan bisa meningkatkan penjualan dan pangsa pasar mereka. Mereka juga bisa memerbaiki reputasi, nilai merek (brand value) dan kesetiaan pelanggan. Konsumen saat ini juga bersedia membayar lebih mahal untuk produk perusahaan yang ramah lingkungan. Semua ini semakin memercepat terwujudnya bisnis dan ekonomi yang berkelanjutan.

Redaksi Hijauku.com