Denmark adalah salah satu negara paling efisien dalam penggunaan energi. Mari kita belajar dari mereka.

Melalui program yang ambisius, Denmark berhasil mencapai pertumbuhan ekonomi tanpa meningkatkan konsumsi energi.

Denmark juga berhasil menciptakan lapangan kerja baru dan memiliki industri ramah lingkungan (green sector) yang kuat.

Menurut laporan berjudul Less Energy – More Growth, Prosperity Through Efficiency yang disusun oleh Lean Energy Cluster, konsumsi energi Denmark tidak mengalami pertumbuhan dalam 30 tahun terakhir namun ekonominya bertumbuh 70%.

Lebih dari seperlima listrik yang dipakai Denmark bersumber dari energi terbarukan.
Dua fenomena tersebut berarti bahwa jumlah emisi CO2 di Denmark juga terus turun.

Sejak krisis energi pada 1970-an, hanya sedikit negara yang memiliki prestasi seperti Denmark: mampu meningkatkan efisiensi energi pada skala industri dan mengurangi konsumsi energi rumah tangga.

Denmark berhasil menghapuskan mitos yang menghubungkan pertumbuhan ekonomi dan peningkatan konsumsi energi.

Saat krisis minyak pertama melanda dunia, Denmark adalah salah satu dari banyak negara harus mengimpor energi. Bahkan hampir seluruh energi di Denmark diimpor.

Ketergantungan yang sangat besar terhadap energi impor ini membawa dampak serius pada ekonomi Denmark saat itu.

Semangat yang positif dari masyarakat dan pemerintah Denmark akhirnya mampu menjadikan krisis sebagai peluang perubahan.

Mereka menjadikan isu kemandirian dan efisiensi energi ini sebagai agenda politik bersama.

Beberapa kebijakan kemudian diterapkan. Denmark melakukan eksplorasi di Laut Utara (North Sea) untuk menemukan sumber minyak.

Pemerintah mendukung peralihan ke energi terbarukan dan tidak hanya menjadikan isu ini sebagai slogan dan bahan pencitraan.

Denmark juga melakukan investasi untuk membangun infrastruktur yang mendukung efisiensi energi.

Pelajaran yang bisa diambil dari Denmark adalah; masyarakat dan pemerintah harus bersatu dan bekerja sama untuk mengurangi ketergantungan atas energi fosil.

Pemerintah Denmark menerapkan kebijakan ini secara konsisten dan dalam jangka panjang.

Melalui kebijakan pengenaan pajak energi, penghematan energi pada bangunan, dan pemberian subsidi untuk program efisiensi energi, Denmark berhasil memertahankan tingkat konsumsi energinya pada 2010 setara dengan tingkat konsumsi energi pada tahun 1980.

Struktur energi di Denmark juga banyak berubah dalam 30 tahun terakhir. Energi terbarukan dan gas alam menggantikan minyak bumi dan batu bara sehingga tingkat polusi di Denmark juga berhasil dipangkas.

Pemerintah dan masyarakat Denmark berprinsip, energi yang paling murah adalah energi yang tidak pernah digunakan. Artinya, efisiensi energi adalah target bersama yang harus dicapai.

Dan peluang untuk mengurangi permintaan energi melalui program efisiensi masih sangat besar.

Dalam 25 tahun ke depan, konsumsi energi dunia akan terus naik hingga 30%. Harga minyak juga terus naik dalam sepuluh tahun terakhir.

Karena pertumbuhan ekonomi negara saat ini masih banyak yang bergantung pada bahan bakar fosil, persaingan memerebutkan sumber energi dunia akan semakin sengit.

Konflik bersenjata yang saat ini masih berlangsung di sejumlah negara ditenggarai bermotif pada perebutan akses energi.

Denmark memberikan pelajaran yang sangat berharga terkait kebijakan energi terbarukan dan efisiensi energi.

Menurut penelitian terbaru berjudul Cleantech The Golden Egg of Danish Economy yang disusun oleh Brondum dan Fliess, lebih dari 1.200 perusahaan teknologi ramah lingkungan (cleantech companies) kini beropreasi di Denmark – seperlima dari perusahaan ini bergerak di sektor efisiensi energi.

Nilai ekspor teknologi energi ramah lingkungan Denmark pada 2010 mencapai US$9,2 miliar atau 9,5% dari nilai total ekspor negara tersebut. Kinerja ini melampaui negara-negara Eropa yang lain.

Dalam sepuluh tahun terakhir, nilai ekspor teknologi ramah lingkungan Denmark naik 97,7% sementara negara lain hanya naik 61,7%.

Industri teknologi ramah lingkungan kini menduduki posisi penting dalam ekspor dan ekonomi Denmark. Yang mampu meningkatkan efisiensi energi, ekonomi dan menciptakan lapangan kerja baru yang ramah lingkungan.

Redaksi Hijauku.com