Lebih dari 50% kebutuhan ikan dunia akan dipasok dari budidaya perikanan, baik dari budidaya ikan air tawar maupun air laut.

Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) menyeru agar pemerintah mendukung upaya budi daya perikanan atau yang lebih dikenal dengan istilah aquaculture ini.

Istilah budi daya perikanan merujuk pada produksi ikan air tawar maupun air laut dalam kondisi yang terkontrol sebagai alternatif dari kegiatan menjaring atau memancing ikan di lautan.

Menurut laporan FAO, saat ini ikan hasil budi daya adalah sumber protein hewani yang paling cepat pertumbuhannya, tumbuh lebih dari 60% antara tahun 2000 dan 2008, dari 32,4 juta ton menjadi 52,5 juta ton.

Potensi budi daya ikan ini sangat besar untuk menggantikan industri penangkapan ikan yang terus memperoleh tekanan dari bertambahnya permintaan dan jumlah penduduk.

Menurut laporan FAO berjudul World Aquaculture in 2010 yang diterbitkan November lalu, industri budi daya perikanan telah berperan penting dalam mengurangi kemiskinan di banyak wilayah di dunia.

Walaupun pertumbuhannya tidak sama antara satu daerah dengan daerah lainnya – sebelas dari 15 negara pembudi daya ikan terbesar berasal dari wilayah Asia Pasifik.

Pada 2008 mereka mennyumbang 89,1% produksi dunia. Negara pembudi daya ikan terbesar adalah China yang menyumbang 62,3% produksi ikan di Asia Pasifik pada tahun yang sama.

Karakteristik budi daya perikanan berbeda di masing-masing negara. China, Thailand, Vietnam, Indonesia dan India misalnya, lebih banyak memroduksi udang kecil dan udang besar, sementara Norwegia dan Chili lebih banyak memroduksi ikan salmon.

FAO menyeru agar negara melakukan investasi di budi daya perikanan lokal sehingga mereka bisa terus menikmati manfaat dan mengatasi tantangan di industri ini.

FAO juga menyatakan, keberhasilan industri budi daya perikanan sangat tergantung dari komitmen pemerintah untuk menyediakan dan mendukung sistem tata kelola perikanan yang baik di industri ini.

Komitmen pemerintah bisa diwujudkan dengan menciptakan standar kualitas dan keamanan produk perikanan, serta sertifikasi dan label ramah lingkungan (eco-labelling).

Perubahan iklim dan krisis ekonomi juga mengancam budi daya perikanan global sehingga FAO meminta pemerintah membantu para produsen sekala kecil terutama di wilayah Asia dan Afrika.

Caranya adalah dengan membentuk asosiasi dan melakukan edukasi guna memastikan mereka bisa memenuhi standar dan tuntutan industri perikanan dunia.

Redaksi Hijauku.com