Kota-kota Asia yang dulu semarak dengan aktifitas berjalan kaki, kini mulai sepi oleh aktifitas yang sehat dan ramah lingkungan ini. Penyebabnya tidak lain adalah minimnya fasilitas bagi pejalan kaki dan kurang layaknya layanan transportasi publik.

Peningkatan jumlah kendaraan pribadi, terutama kendaraan roda dua, akibat pertumbuhan ekonomi dan proses urbanisasi, juga semakin memperparah kondisi ini, memperburuk polusi udara dan konsentrasi gas rumah kaca, sehingga pejalan kaki semakin termarjinalkan.

Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), lebih dari separuh kecelakaan lalu lintas di dunia melibatkan pejalan kaki, pengendara sepeda dan sepeda motor. Dan lebih dari 90% kecelakaan itu terjadi di negara berkembang.

Semua ini terungkap dalam laporan yang diterbitkan oleh Clean Air Initiative for Asian Cities (CAI-Asia Center), yang didukung oleh Bank Pembangunan Asia (ADB) dan Lembaga Kerjasama Pembangunan Internasional (International Development Cooperation Agency) dari Swedia, Februari lalu.

Guna mengurai krisis transportasi ini, pemerintah pada umumnya bereaksi dengan menambah kapasitas jalan raya. Namun bagai menciptakan lingkaran setan, kebijakan ini selalu berujung pada semakin bertambahnya kendaraan bermotor sehingga makin memperparah polusi, konsentrasi gas rumah kaca dan kecelakaan di jalan raya. Dan lagi-lagi pejalan kaki yang akan dikorbankan.

Untuk itu, diperlukan sistem pengelolaan kebutuhan dan pasokan transportasi secara komprehensif guna memenuhi kebutuhan angkutan orang dan barang ini.

Aktifitas berjalan kaki harus menempati posisi utama dalam sistem transportasi publik karena hampir semua perjalanan dimulai dan diakhiri dengan berjalan kaki. Untuk perjalanan jarak pendek, aktifitas jalan kaki bahkan bisa menggantikan kendaraan pribadi.

Di India misalnya, banyak destinasi di kota-kota besar India yang bisa diakses dengan berjalan kaki atau bersepeda. Hal ini karena penduduk India menempuh perjalanan rata-rata antara 1 hingga 7 kilometer setiap hari. Di Bangalore, hanya 20% dari perjalanan berjarak kurang dari 2 km yang ditempuh dengan menggunakan sepeda motor. Sementara untuk perjalanan di bawah 5 km, peran sepeda motor hanya 26%.

Hasil penelitian di Ha Noi, Vietnam juga menemukan fenomena yang sama. Banyak destinasi yang bisa dicapai hanya dengan berjalan kaki atau bersepeda, karena jarak rata-rata perjalanan yang sangat pendek. Namun buruknya infrastruktur bagi pejalan kaki dan pesepeda memaksa masyarakat Hanoi untuk meninggalkan dua kebiasaan yang sehat dan ramah lingkungan ini dan beralih menggunakan sepeda motor.

Menurut CAI-Asia, upaya menfasilitasi kebutuhan pejalan kaki ini terhambat oleh sejumlah masalah, diantaranya adalah masalah birokrasi, kelembagaan, masalah kebijakan hingga kurangnya dukungan politik. Masalah alokasi dana dan penggunaan anggaran juga semakin menghambat upaya ini.

Sebanyak 41% responden yang diteliti oleh CAI-Asia Center menyatakan, fasilitas bagi pejalan kaki di kota-kota besar Asia buruk atau sangat buruk. Jika kota-kota besar di Asia tidak memberikan kenyamanan bagi pejalan kaki, sebanyak 67% responden menyatakan mereka akan beralih menggunakan kendaraan bermotor, yaitu kendaraan roda dua (10%) atau kendaraan pribadi/mobil (29%).

Situasi di Manila memperjelas fakta ini. Hampir 35% destinasi di Manila sebenarnya bisa ditempuh dalam jangka waktu 15 menit dengan berjalan kaki atau bersepeda. Namun kenyataannya, mayoritas perjalanan masih dilakukan dengan mengendarai angkutan kota seperti jeepney atau kendaraan pribadi lain akibat buruknya fasilitas bagi pesepeda dan pejalan kaki.

Di Surabaya, lebih dari 60% perjalanan – di kota yang panjangnya hanya 15 km dari ujung ke ujung ini – menempuh jarak kurang dari 3 km. Namun mayoritas perjalanan di Kota Pahlawan ini dilakukan dengan menggunakan kendaraan bermotor, baik sepeda motor maupun angkutan kota.

Buruknya fasilitas bagi pejalan kaki juga ditemukan di Davao, Filipina. Banyak jalan di kota ini yang tidak memiliki trotoar di sisi kiri dan kanan jalan. Sehingga sisi-sisi jalan banyak digunakan untuk tempat parkir kendaraan. Kondisi ini memaksa masyarakat menggunakan jalan raya, yang sesungguhnya sangat berbahaya, untuk berjalan kaki.

Jikapun ada trotoar, banyak trotoar di Davao yang juga digunakan untuk parkir atau dikuasai oleh pedagang kaki lima, terutama jalan-jalan di dekat fasilitas pendidikan.

Kondisi ini mengingatkan kita kepada kondisi di ibu kota kita tercinta, Jakarta. Menurut penelitian CAI-Asia, masyarakat ibu kota masih merasa tidak aman (dan nyaman) jika harus berjalan kaki di Jakarta. Hal ini selain karena ancaman kriminalitas, juga karena buruknya dan terbatasnya fasilitas bagi pejalan kaki di Jakarta.

Akankah Jakarta dan kota-kota besar lain di Asia berubah? Hanya waktu yang akan menjawabnya. Namun perubahan selalu bisa dimulai dari diri sendiri. Ayo galakkan kembali aktifitas berjalan kaki dan pastikan Anda menggunakan masker udara untuk melindungi diri Anda dari polusi.

Redaksi Hijauku.com