Indonesia, yang saat ini sudah menjadi negara pengimpor minyak, akan menjadi negara pengimpor energi dalam waktu kurang dari dua dekade.

Hal ini terungkap dalam dalam buku Outlook Energi Indonesia 2011 yang diluncurkan oleh BPPT di Jakarta, Rabu lalu (14 Desember). Indonesia diperkirakan akan menjadi pengimpor energi pada tahun 2030 karena produksi energi domestik sudah tidak bisa memenuhi konsumsi dalam negeri. Kebutuhan energi domestik akan meningkat 4,2 kali lipat pada 2030 dari tingkat kebutuhan pada 2009, sementara produksi energi dalam negeri hanya tumbuh 2 kali lipat.

Sektor transportasi dan industri diperkirakan menjadi konsumen energi terbesar, mencapai 73% dari pemakaian energi total pada tahun 2030.

Menurut Kepala BPPT, Marzan A Iskandar, sebagaimana dikutip dalam siaran pers BPPT, sektor industri diharapkan menjadi penggerak perekonomian sementara sektor transportasi penting karena menjadi penghubung sektor-sektor lainnya.

BPPT memperkirakan, kebutuhan LPG pada tahun 2030 akan mencapai 12 juta ton dan sebanyak 9 juta ton akan dipenuhi dari impor.

Konsumsi listrik juga akan naik 7 kali lipat dari 135 TWh tahun 2009 menjadi 890 TWh tahun 2030 atau tumbuh sekitar 9,4 persen per tahun.

Guna memenuhi kebutuhan listrik, diperlukan peningkatan kapasitas pembangkit listrik sebesar 6 kali lipat dari 34 gigawatt pada tahun 2009 menjadi 183 gigawatt pada tahun 2030.

Energi baru terbarukan (EBT) berpeluang tumbuh hingga mencapai 524 juta setara barel minyak (SBM), naik 12,4 persen dari kondisi saat ini. Jenis EBT yang berpotensi dikembangkan antara lain adalah bahan bakar nabati dan panas bumi.

Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi Informasi Energi dan Material (TIEM) BPPT, Unggul Priyanto menyatakan, Indonesia perlu mengurangi peran minyak bumi dan meningkatkan efisiensi penggunaan energi guna mengantisipasi terjadinya defisit energi.

Pengurangan BBM yang utama harus dilakukan di sektor transportasi karena selain bisa menekan konsumsi energi, efisiensi di sektor transportasi juga bisa mengurangi emisi, terutama emisi karbondioksida (CO2).

EBT juga bisa menggantikan peran pembangkit listrik berbahan batubara yang tidak ramah lingkungan. Batubara melepaskan CO2 empat kali lebih banyak dari gas alam dan dua kali lebih besar dari minyak.

Ancaman defisit energi juga bisa menjadi peluang untuk lebih meningkatkan daya saing EBT yang harganya saat ini masih relatif mahal.

Redaksi Hijauku.com