Yordania tergolong salah satu negara terkecil di Timur Tengah. Jumlah penduduk Yordania sebesar 6 juta orang dengan total Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar US$ 27.5 miliar.

Tidak seperti negara-negara Arab lain, Yordania tidak memiliki sumber minyak dan hanya memiliki sumber daya alam dan mineral dalam jumlah terbatas. Sebanyak 13.3% penduduk Yordania hidup di bawah garis kemiskinan. Yordania juga menghadapi kondisi pengangguran kronis, tingkat inflasi dan defisit anggaran yang terus meningkat.

Semua masalah tersebut memberikan tekanan besar pada sumber daya alam. Kesenjangan ekonomi di Yordania semakin lebar seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk.

Tantangan terbesar yang dihadapi oleh Yordania saat ini adalah akses ke air bersih, baik dari sisi kualitas maupun kuantitasnya. Tantangan ini diikuti oleh semakin langkanya lahan pertanian, meluasnya lahan kering, menurunnya kualitas tanah dan penggundulan hutan.

Nilai kerusakan lingkungan itu diperkirakan mencapai 5% dari PDB Yordania atau setara dengan US$ 1,25 miliar per tahun. Angka ini dua kali lipat lebih tinggi dibanding jumlah bantuan yang diterima Yordania pada 2009.

Untuk keluar dari berbagai masalah di atas pemerintah Yordania saat ini berupaya mendukung berbagai kebijakan, inisiatif dan program menuju ke ekonomi hijau (green economy), yang menjadi prasyarat pembangunan berkelanjutan (sustainable development).

Dalam Program Eksekutif 2010, pemerintah Yordania telah menciptakan target-target menuju ekonomi yang ramah alam dengan cara membangun program industri dan layanan yang memenuhi standar lingkungan dengan target menjadikan Yordania “pusat jasa dan industri ramah lingkungan (hijau) di kawasan Timur Tengah.”

Yordania menyatukan konsep dan tujuan ekonomi hijau itu dalam agenda nasional yang dilaksanakan tahun ini. Pemerintah Yordania bekerja sama dengan Program Lingkungan PBB (UNEP) melakukan tinjauan berkala atas investasi yang dilakukan pemerintah dan dampaknya investasi tersebut terhadap transisi menuju ekonomi hijau termasuk mengaji peluang-peluang yang menjanjikan di berbagai sektor ekonomi.

Yordania – walau tergantung pada bahan bakar fosil impor – telah mampu mandiri dalam sektor energi dengan melakukan investasi di teknologi energi terbarukan dalam skala kecil maupun besar. Yordania juga terus berupaya meningkatkan efisiensi penggunaan energi di gedung-gedung dan proses-proses industri.

Secara total, investasi di konservasi lingkungan Yordania diperkirakan mampu menciptakan 50.000 tenaga kerja dan memberi pemasukan sebesar lebih dari US$ 1.8 miliar dalam jangka waktu 10 tahun.

Untuk mewujudkan semua manfaat itu diperlukan sebuah pendekatan yang terintegrasi dan terkoordinasi yang melibatkan semua unsur pemerintah, swasta dan unsur-unsur di masyarakat.

Dengan menciptakan situasi yang kondusif bagi ekonomi hijau, Yordania secara otomatis juga akan menciptakan lingkungan yang kondusif bagi investasi yang ramah lingkungan.

Semua itu bisa dilakukan dengan menciptakan kebijakan, skema pembiayaan dan regulasi yang tepat serta melakukan reformasi fiskal dan penguatan kelembagaan.

Konferensi PBB yang akan diselenggarakan di Rio de Jeneiro tahun depan (yang dikenal dengan nama Rio+20) akan menjadi panggung bagi negara seperti Yordania untuk tidak hanya menunjukkan komitmen mereka menuju ekonomi hijau namun juga untuk memperoleh dukungan dari dunia internasional dan regional atas upaya transisi hijau mereka.

Salah satu langkah penting yang diambil oleh pemerintah Yordania adalah pembentukan satuan kerja permanen yang diisi oleh professional dari berbagai pihak yang berkepentingan serta sub-komite bidang pembangunan berkelanjutan dan ekonomi hijau.

Langkah ini juga disertai dengan upaya menciptakan kebijakan fiskal dan ketenagakerjaan yang mendukung ekonomi hijau dan memobilisasi serta mewujudkan investasi di berbagai sektor, khususnya di sektor makanan, energi, air dan sampah. Pemerintah Yordania juga berupaya menciptakan sistem pemantuan guna melacak nilai sumber daya alam Yordania di lingkungan aslinya.

Redaksi Hijauku.com