Cibinong – Humas BRIN. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong penguatan konservasi, ketersediaan bahan baku, dan standardisasi purwoceng (Pimpinella pruatjan) guna mendukung pengembangan industri herbal nasional berbasis riset dan inovasi.

Komitmen tersebut mengemuka dalam Webinar EstCrops Corner #28 bertema “Purwoceng (Pimpinella pruatjan): Tantangan Konservasi, Ketersediaan Bahan Baku, dan Standardisasi untuk Mendukung Industri Herbal Nasional” yang diselenggarakan Pusat Riset Tanaman Perkebunan (PRTP), Organisasi Riset Pertanian dan Pangan (ORPP) BRIN secara daring, pada Selasa (14/7).

Kepala ORPP BRIN Puji Lestari mengatakan purwoceng merupakan tanaman obat endemik Indonesia yang memiliki nilai ekonomi tinggi karena banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku jamu, obat tradisional, dan fitofarmaka. Namun, pengembangannya masih terkendala keterbatasan bahan baku, ancaman terhadap populasi di alam, serta belum optimalnya standardisasi mutu.

“Purwoceng sebagai tanaman endemik Indonesia harus kita konservasi, harus kita budidayakan, dan harus kita standarisasi agar menjadi bahan baku herbal unggulan yang mampu menopang kemandirian industri fitofarmaka nasional,” kata Puji.

Menurut dia, BRIN memiliki tanggung jawab menghasilkan pembuktian ilmiah mengenai manfaat purwoceng, mulai dari karakterisasi senyawa aktif, pembuktian khasiat, hingga pengembangan teknologi budidaya dan pascapanen. Hasil riset tersebut diharapkan mampu meningkatkan daya saing produk herbal nasional sekaligus memberikan nilai tambah bagi petani sebagai penyedia bahan baku.

Puji menambahkan pengembangan purwoceng memerlukan penelitian yang terintegrasi dari hulu hingga hilir, meliputi pemuliaan tanaman, peningkatan kualitas genetik, teknik budidaya, penanganan pascapanen, rantai pasok, hingga penyusunan standar bahan baku sesuai kebutuhan industri. Ia juga menekankan pentingnya konservasi agar eksploitasi di alam tidak mengancam kelestarian tanaman endemik tersebut.

Sementara itu, Kepala PRTP BRIN Setiari Marwanto menjelaskan purwoceng memiliki kandungan senyawa bioaktif yang berpotensi dikembangkan sebagai bahan baku obat tradisional dan produk kesehatan berbasis bahan alam. Namun, pemanfaatannya masih menghadapi tantangan berupa terbatasnya populasi alami, rendahnya ketersediaan bahan baku berkelanjutan, serta belum optimalnya standardisasi mutu.

“Webinar ini diharapkan menjadi forum untuk memperkuat sinergi antara lembaga riset, perguruan tinggi, pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat dalam membahas strategi konservasi, teknologi budidaya, standardisasi bahan baku, hingga hilirisasi hasil riset menjadi produk yang berdaya saing,” tutur Setiari.

Dalam sesi ilmiah, Peneliti Ahli Utama PRTP BRIN Otih Rostiana memaparkan berbagai inovasi pemuliaan purwoceng, mulai dari seleksi sumber daya genetik, pelepasan varietas unggul, hingga teknik perbanyakan melalui benih dan kultur jaringan. Ia menilai, purwoceng yang hanya tumbuh alami di dataran tinggi, terutama kawasan Dieng, kini berstatus terancam punah (Endangered) akibat degradasi habitat dan alih fungsi lahan. Karena itu, konservasi dan budidaya menjadi langkah penting untuk menjamin keberlanjutan bahan baku tanaman obat tersebut.

Di sisi lain, Peneliti Ahli Utama PRTP BRIN Ireng Darwati menerangkan, BRIN juga mengembangkan teknologi kultur kalus dan kultur akar rambut (hairy root culture) untuk memproduksi metabolit sekunder purwoceng secara lebih stabil tanpa bergantung sepenuhnya pada budidaya di lapangan.

Ia berpendapat, teknologi tersebut berpotensi memenuhi kebutuhan bahan baku industri sekaligus mengurangi tekanan terhadap populasi purwoceng di habitat alaminya. “Selain mengandung senyawa seperti sitosterol, stigmasterol, flavonoid, alkaloid, dan furanokumarin, purwoceng juga memiliki potensi untuk dikembangkan lebih lanjut sebagai bahan baku fitofarmaka, termasuk kandidat antikanker,” pungkas Otih.

Webinar EstCrops Corner #28 juga menghadirkan narasumber dari PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk yang membahas inovasi proses pascapanen purwoceng sebagai bagian dari upaya memperkuat rantai pasok dan hilirisasi tanaman obat nasional. (sh,nurm/ed.ade,trs)