Presiden COP28 turut mendukung penyataan yang mengajak terwujudnya “aksi transformatif untuk menjaga suhu 1.5°C tetap dalam batas aman dan berkontribusi pada komunitas yang rentan dan terdampak.”
Konferensi ini diselenggarakan oleh Majelis Hukama Muslimin (MHM) atau Muslim Council of Elders (MCE) yang bekolaborasi dengan Kepresidenan COP28, United Nations Environment Programme (UNEP), dan Kementerian Toleransi dan Hidup-Berdampingan Uni Emirat Arab.
“Dokumen ini merupakan penyataan niat yang kuat dan perlu didengar oleh seluruh dunia.”
“Dengan menyatukan berbagai kepercayaan untuk sebuah tujuan yang sama, pernyataan ini menunjukkan bahwa meskipun terdapat beragam perbedaan di dunia, kita dapat bersatu untuk kepentingan bersama yaitu aksi iklim.”
Presiden COP28 mengajak para pemimpin agama untuk membantu dirinya: “mengirimkan pesan toleransi, perdamaian, optimisme, dan kemakmuran dari Uni Emirat Arab ke seluruh dunia.”
Pada pernyataan tersebut, para pemimpin agama mengajak untuk adanya “dialog inklusif, pada saat dan di luar COP, bersama dengan para pemimpin agama, kelompok rentan, anak muda, organisasi perempuan, dan komunitas ilmuwan untuk membentuk sebuah aliansi yang akan memperkuat pengembangan aksi berkelanjutan.”
Mereka yang turut menandatangani pernyataan ini merupakan “representasi dari keberagamaan agama dan masyarakat adat” yang bertemu untuk menyatakan “kekhawatiran bersama terkait eskalasi dampak iklim yang terus menggerus bumi tercinta kita, termasuk komitmen bersama kami untuk turut bersuara pada krisis global ini.”
Dr. Al Jaber menyebut bahwa COP28 merupakan “sebuah momen untuk memberikan bukti dan hasil yang selaras dari seluruh proses negogiasi bagi setiap negara, setiap agama, setiap komunitas, setiap keluarga, dan setiap makhluk hidup yang tinggal di planet ini.”
COP28 akan menggelar Paviliun Keagamaan (Faith Pavilion) pertama di COP, yang didedikasikan untuk meningkatkan keterlibatan komunitas agama.
Abu Dhabi, 7 November 2023 – Presiden COP28 Dr. Sultan Al Jaber menyampaikan pidato pada KTT Global Faith Leaders di Abu Dhabi, menerima Pernyataan Antaragama di Abu Dhabi tentang perubahan iklim dari para pemimpin agama, dan berjanji untuk menyampaikan pesan mereka kepada dunia di COP28.
KTT Global Faith Leaders ini diselenggarakan di bawah naungan Yang Mulia Syeikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan, Presiden UEA dan dihadiri oleh Syeikh Nahyan bin Mubarak Al Nahyan, Menteri Toleransi dan Hidup Berdampingan; Yang Mulia Profesor Mohamed Al Duwani Wakil Al Azhar Al Sharif mewakili Yang Mulia Imam Besar Al Azhar Ahmed Al Tayed, dan Yang Mulia Kardinal Pietro Parolin, Sekretaris Negara Vatikan, mewakili Yang Mulia Paus Fransiskus.
Para pemimpin agama, akademisi, dan pakar lingkungan berpartisipasi dan António Guterres, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, memberikan pidato melalui video.
KTT Global Faith Leaders ini menyatukan 28 pemimpin agama untuk duduk bersama dan menandatangani ‘Confluence of Conscience: Uniting for Planetary Resurgence’ atau dikenal sebagai “Pernyataan Antaragama di Abu Dhabi untuk COP28”, sebagai komitmen untuk terus menyuarakan perubahan iklim dan meningkatkan ambisi aksi iklim sebelum COP28, yang akan diselenggarakan di Dubai pada akhir November nanti.
Pernyataan Antaragama di Abu Dhabi untuk COP28’ ini dicapai setelah kolaborasi berbulan-bulan dan ditandatangani pada acara tersebut, yang diselenggarakan oleh Majelis Hukama Muslimin (MHM) atau Muslim Council of Elders (MCE) yang bekolaborasi dengan Kepresidenan COP28, United Nations Environment Programme (UNEP), dan Kementerian Toleransi dan Hidup-Berdampingan Uni Emirat Arab.
Dr. Al Jaber menyatakan bahwa dokumen ini merupakan “sebuah pernyataan niat yang kuat dan perlu didengar oleh seluruh dunia.” Menurutnya, ini merupakan “sebuah pernyataan atas kedaruratan, persatuan, solidaritas, tanggung jawab, dan harapan.”
Ia menyampaikan pada seluruh pemimpin agama, “Kita menyatukan seluruh agama di seluruh dunia dalam satu pesan tentang kemanusiaan. Para hadirin sekalian merupakan penjaga dan pemelihara keyakinan serta aspirasi dari sebagian besar manusia yang hidup di planet ini, dan suara yang dimiliki oleh hadirin sekalian sangatlah kuat bagi banyak komunitas yang seringkali tidak didengarkan. Keyakinan kolektif yang dimiliki oleh hadirin sekalian akan terus menginspirasi semua orang untuk bisa hidup berdampingan dengan alam dan menjaga dunia kita yang rapuh ini.”
Dr. Al Jaber menambahkan, “Kita telah menyatukan beragam agama untuk mencapai satu tujuan yang sama, dan telah menunjukkan bahwa di dunia yang beragam ini kita dapat bersatu dalam aksi iklim.”
Pernyataan Antaragama di Abu Dhabi ini “menuntut adanya aksi transformatif untuk menjaga suhu 1.5°C tetap dalam batas aman dan berkontribusi pada komunitas yang rentan dan terdampak.”
Mereka yang turut menandatangani pernyataan ini merupakan “representasi dari keberagamaan agama dan masyarakat adat” yang bertemu untuk menyatakan “kekhawatiran bersama terkait eskalasi dampak iklim yang terus menggerus bumi tercinta kita, termasuk komitmen bersama kami untuk turut bersuara pada krisis global ini.”
KTT Global Faith Leader ini diselenggarakan dua hari setelah ‘pertemuan luar biasa’ di Abu Dhabi yang membahas terkait Dana Kerugian dan Kerusakan, yang akan turut membantu mereka yang terdampak oleh bencana iklim dapat bangkit kembali.
“Dengan senang hati saya nyatakan bahwa kita selangkah lebih dekat untuk menyalurkan Dana Kerugian dan Kerusakan,” kata Dr. Al Jaber, “Para pihak telah bersatu untuk menunjukkan bahwa multilateralisme masih dapat bermanfaat bagi semua orang, terutama kelompok yang paling rentan.”
Dr. Al Jaber menyebut bahwa COP28 merupakan “sebuah momen untuk memberikan bukti dan hasil yang selaras dari seluruh proses negogiasi bagi setiap negara, setiap agama, setiap komunitas, setiap keluarga, dan setiap makhluk hidup yang tinggal di planet ini.”
Presiden COP28 mengajak para pemimpin agama untuk membantu dirinya: “mengirimkan pesan toleransi, perdamaian, optimisme, dan kemakmuran dari Uni Emirat Arab ke seluruh dunia.”
Kepresidenan COP28 telah menyusun sebuah Rencana Aksi dalam empat poin utama untuk menjaga 1.5°C tetap dalam batas aman dan tidak ada siapapun yang tertinggal. Empat poin ini adalah mempercepat transisi energi yang adil dan selaras, memperbaiki pendanaan iklim, berfokus pada masyarakat, alam, kehidupan dan penghidupan, serta melaksanakan seluruh prosesnya secara inklusif.
Terkait dengan inklusivitas, Dr. Al Jaber turut menyatakan, “Inklusivitas akan menjadi poin utama dari COP28, karena kami di UEA memahami bahwa kemajuan perlu didukung oleh kemitraan, dan kesuksesan hanya dapat dicapai melalui solidaritas. Itulah sebabnya saya sangat berterima kasih atas deklarasi yang disampaikan hari ini.”
Inklusivitas juga menjadi poin utama dalam pernyataan ini di mana para pemimpin agama mengajak untuk adanya “dialog inklusif, pada saat dan di luar COP, bersama dengan para pemimpin agama, kelompok rentan, anak muda, organisasi Perempuan, dan komunitas ilmuwan untuk membentuk sebuah aliansi yang akan memperkuat pengembangan aksi berkelanjutan.”
Majlis Perubahan bertajuk ‘Agama dan Sains: Aksi Peduli untuk Lingkungan’ juga diselenggarakan pada KTT tersebut dan menyatukan para pemimpin agama, ilmuwan, dan para pengambil keputusan untuk mendorong pertukaran pengetahuan dan membangun kepercayaan demi dunia yang lebih aman dan berkelanjutan.
Dalam perannya sebagai Presiden COP28 Dr. Al Jaber bertemu dengan Paus Fransiskus pada bulan Oktober lalu dan membahas peran yang dapat dimainkan oleh komunitas agama dalam mengatasi perubahan iklim.
Kepresidenan COP28 akan menyelenggarakan Paviliun Keagamaan (Faith Pavilion) sepanjang COP28, bersama MCE dan UNEP. Ini merupakan Paviliun Keagamaan pertama sepanjang sejarah COP. Paviliun ini akan didedikasikan untuk meningkatkan keterlibatan komunitas agama dan akan menampilkan ‘Pernyataan Antaragama di Abu Dhabi untuk COP28’.
Paviliun Keagamaan ini akan menjadi tuan rumah bagi panel-panel yang diisi oleh para pemimpin agama, ilmuwan, dan pemimpin politik, serta mendorong dialog antargenerasi yang melibatkan para pemimpin agama muda dan perwakilan masyarakat adat.
Pernyataan Antaragama ditandatangani oleh para pemimpin agama sebagai berikut:
- Yang Mulia Kardinal Pietro Parolin, Sekretaris Negara Vatikan, mewakili Yang Mulia Paus Fransiskus
- Yang Mulia Patriark Bartholomew Yang Pertama, Patriark Ekumenis Konstantinopel
- Maulen Ashimbayev, Ketua Kongres Pemimpin Agama Dunia dan Tradisional
- K.H. Muhammad Cholil Nafis, Ketua Majelis Ulama Indonesia
- Guru Dharma Hsin Tao, Pendiri Perkumpulan Buddhis Gunung Ling Jiou
- Dokter Yang Terhormat Shinkai Kori, Kepala Imam Besar Kuil Nenbutsushu Sampozan Muryojuji
- Pastor Grigoriy Matrusov, mewakili Yang Mulia Patriark Kirill, Patriark Moskow dan Seluruh Rusia
- Bhai Sahib Dokter Satpal Singh Khalsa, Kepala Otoritas Keagamaan dan Spiritual Agama Sikh di Belahan Barat
- Yang Mulia Mahabrahmrishi Shree Kumar Swami Jee, Presiden Parlemen Kemanusiaan Dunia
- Swami Amritaswarupananda, Murid Utama Sri Mata Amritanandamayi Devi
- Acharya Lokesh Muni, Pendiri Vishwa Shanti Kendra
- Kebajikannya Syekh-Ul Islam Allahshukur Pashazadeh, Mufti Agung Kaukasus
- Suster Maureen Goodman, Direktur Brahma Kumaris di Inggris
- Uskup Umum Anba Ermia, Presiden Pusat Kebudayaan Ortodoks Koptik
- Yang Mulia Syeikh Rishama Sattar Jabar Hilo, Pemimpin Mandean-Sabean di Irak dan Dunia
- Uskup Agung Julio Murry dari Gereja Anglikan Amerika Tengah, mewakili Yang Terhormat Justin Welby, Uskup Agung Canterbury
- Husain Burhanuddin mewakili Yang Mulia Syedna Muffadal Saiffuddin, Sultan Komunitas Bohra
- Yang Mulia Mor Ignatius Aphrem Yang Kedua, Patriark Antiokhia dan Seluruh Timur
- Pendeta Jerry Pillay, Sekretaris Jenderal Dewan Gereja Dunia
- Rabbi Moshe Lewin, Wakil Presiden Konferensi Para Rabi Eropa
- Bani Dugal, Perwakilan Utama Komunitas Internasional Baha’i
- Bhai Sahib Mohinder Singh Ahluwalia, Pemimpin Guru Nanak Nishkam Sewak Jatha
- Kepala Rabbi David Rosen, Presiden Internasional Agama Untuk Perdamaian
- Dr. Salem Bin Mohammed Al Malik, Direktur Jenderal Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Dunia Islam
- Uskup Thomas Schirrmacher, Sekretaris Jenderal World Evangelical Allianc
- Debra Boudreaux, CEO Yayasan Buddha Tzu Chi
- Tokita Hozumi mewakili Pdt. Kōō Okada Pemimpin Spiritual Sukyo Mahikari
Catatan untuk Editor COP28 UEA:
COP28 UEA akan berlangsung di Expo City pada tanggal 30 November – 12 Desember 2023. Konferensi ini diperkirakan akan mengumpulkan lebih dari 70.000 peserta, termasuk kepala negara, pejabat pemerintah, pemimpin industri internasional, perwakilan sektor swasta, akademisi, pakar, pemuda, dan aktor non-pemerintah.
Sebagaimana diamanatkan oleh Perjanjian Iklim Paris, COP28 UEA akan memberikan Global Stocktake pertama – evaluasi komprehensif kemajuan terhadap tujuan iklim.
UEA akan memimpin proses bagi semua pihak untuk menyepakati peta jalan yang jelas untuk mempercepat kemajuan melalui transisi energi global pragmatis dan mengadopsi pendekatan “tidak meninggalkan siapapun” untuk aksi iklim inklusif.
Leave A Comment