Pertemuan para pemimpin negara-negara maju yang tergabung dalam G7 (G7 Summit) baru saja berakhir. Pertemuan ini diikuti seluruh anggota yang terdiri dari Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, Inggris dan Amerika Serikat.
Ketujuh negara maju ini menguasai hampir 40% perekonomian dunia. Selain kaya, negara-negara ini juga menyumbang sekitar 25% emisi gas rumah kaca global. Sehingga tanggung jawab mereka dalam mengurangi emisi gas rumah kaca juga sangat besar. Terutama untuk mencapai target Persetujuan Paris atau Paris Agreement.
Pada bulan Desember 2015, lebih dari 190 penandatangan Persetujuan Paris, setuju untuk membatasi kenaikan suhu bumi di bawah 2° C (3,6° F) di atas level pra-industri, dengan harapan mencapai target 1,5° C (2,7°F).
Pertanyaannya, bagaimana mengukur potensi pengurangan emisi dari negara-negara G7 ini?
Global Compact bekerja sama dengan CDP/Carbon Disclosure Project mewakili Science Based Targets initiative (SBTi), lembaga yang mendorong perusahaan untuk memangkas emisi gas rumah kaca mereka, menemukan caranya.
Laporan mereka yang berjudul “Taking the Temperature” mengungkapkan, salah satu cara untuk mengukur potensi pengurangan emisi di negara-negara G7 adalah dari kinerja dan komitmen perusahaan-perusahaan G7 yang masuk dalam bursa saham utama.
Perusahaan-perusahaan publik adalah penggerak ekonomi utama di negara-negara industri dan negara-negara maju. Sehingga perusahaan-perusahaan publik di negara-negara G7 ini menurut SBTi juga memiliki tanggung jawab untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sehingga menyumbang pencapaian target Persetujuan Paris.
Jauh dari Target
Dalam laporan SBTi ini terungkap, kinerja pengurangan emisi perusahaan-perusahaan publik negara-negara G7 masih jauh dari target Persetujuan Paris.
Kinerja perusahaan-perusahaan utama tersebut rata-rata masih akan menyumbang peningkatan emisi, yang memicu kenaikan suhu bumi hingga 2,95° Celcius. Bahkan,
SBTi juga mencatat, 57% perusahaan-perusahaan publik di bursa-bursa utama negara G7 masih akan memicu kenaikan suhu bumi hingga dan di atas 3° C atau jauh di atas target Persetujuan Paris.
Sehingga tidak heran jika para menteri lingkungan hidup dan perubahan iklim baru-baru ini menyeru kepada perusahaan untuk menyesuaikan kinerja bisnis mereka agar sejalan dengan target pengurangan emisi Persetujuan Paris.
Mereka menuntut perusahaan-perusahaan publik G7 – beserta para investornya – untuk menetapkan target net zero emissions selambat-lambatnya di 2050.
“Perusahaan G7 berpotensi memicu ‘efek domino’ – dari perubahan positif yang mereka lakukan – di ekonomi global,” ujar Lila Karbassi, Kepala Program, UN Global Compact dan Ketua Dewan SBTi.
Saat ini 70% perusahaan yang masuk dalam indeks SPTSX 60 Kanada, masih memicu peningkatan suhu bumi hingga 3,1°C. Sementara hampir 50% perusahaan yang masuk dalam indeks FTSE MIB Italia memicu kenaikan suhu bumi hingga 2,7°C.
Para investor juga diperingatkan bahwa hanya 19% dari perusahaan publik di bursa saham utama G7, memiliki target iklim yang sejalan dengan Persetujuan Paris.
Empat Prioritas Mendesak
Untuk itu, laporan “Taking the Temperature” mengidentifikasi empat prioritas aksi perubahan iklim yang bisa dilakukan oleh perusahaan-perusahaan besar ini.
Prioritas pertama, perusahaan dan pemerintah negara G7 harus berkolaborasi dan saling memperkuat aksi perubahan iklim.
Prioritas kedua, perusahaan harus bekerja dengan para pemasok untuk mendekarbonisasi (memangkas emisi gas rumah kaca) di rantai pasokan mereka.
Prioritas ketiga, investor perlu mengintegrasikan target berbasis sains dan standar keuangan berbasis iklim dalam praktik “investasi hijau” (sustainability-linked bonds) mereka.
Prioritas terakhir, laporan tersebut menyarankan lembaga-lembaga keuangan untuk membangun portofolio produk-produk investasi yang memiliki target berbasis sains dengan “underlying assets” yang mampu menciptakan efek domino positif di semua sektor ekonomi.
Redaksi Hijauku.com
Leave A Comment