Jumlah penduduk di wilayah sangat rentan yang mengalami kelaparan akut diperkirakan akan meningkat hampir 50 juta jiwa akibat memburuknya fenomena cuaca El Niño di seluruh dunia. Data terbaru ini disampaikan oleh Program Pangan Dunia Perserikatan Bangsa Bangsa (WFP), Rabu, 5 Agustus.

Kondisi kelaparan akut merujuk pada keadaan dimana warga atau penduduk di suatu wilayah yang tidak mampu memenuhi kebutuhan makanan harian mereka. WFP menyatakan, penambahan jumlah penduduk yang akan menghadapi kelaparan akut akibat El Niño akan mencapai 49 juta orang yang akan terjadi mulai September ini. Penduduk di wilayah Amerika Tengah dan Afrika Selatan diperkirakan akan menjadi penduduk yang paling parah terdampak.

Setelah menganalisis data di 45 negara yang dianggap sudah tidak aman pangan, serta belajar dari fenomena El Niño di masa lampau – yang secara signifikan memengaruhi pola curah hujan, suhu, banjir, dan kekeringan, WFP memperkirakan jumlah total penduduk yang mengalami kondisi kekurangan pangan akut akibat El Niño di 2026-2027 akan meningkat dari 225 juta menjadi 274 juta orang atau naik sekitar 22 persen.

Dampak iklim paling ekstrem akibat El Niño, sebagian besar akan dialami oleh negara di wilayah Amerika Tengah dan Afrika Selatan. Negara di wilayah Afrika timur, Asia Selatan dan Asia Tenggara termasuk Indonesia, juga akan menanggung dampak yang tak kalah signifikan.

“Beberapa negara sudah mengalami curah hujan di bawah rata-rata, banjir, dan suhu yang sangat panas, sementara negara lain diperkirakan akan menghadapi kondisi yang memburuk selama musim tanam dan panen yang akan datang,” tulis laporan WFP.

WFP memperkirakan, jumlah penduduk yang mengalami ketidakamanan pangan akan mengalami lonjakan tajam di wilayah Amerika Latin dan Karibia yang akan berdampak pada lebih dari 16 juta orang. Wilayah Amerika Tengah diproyeksikan mengalami peningkatan proporsional terbesar (83,1 persen) dari semua wilayah yang dianalisis dalam laporan WFP.

Penduduk di Afrika Timur dan Selatan juga menghadapi risiko besar saat El Niño memicu penurunan curah hujan yang sangat penting bagi produksi pangan. Penduduk di wilayah Afrika Selatan sangat bergantung pada pertanian tadah hujan. Sehingga jumlah penduduk yang ketahanan pangannya menurun akan mencapai lebih dari 18 juta atau naik 26 persen.

Jumlah penduduk yang mengalami kondisi kerawanan pangan akut di Asia dan Pasifik diperkirakan akan bertambah 8,2 juta orang. Sementara di Afrika Barat dan Tengah jumlahnya diperkirakan bertambah hampir enam juta orang, atau meningkat sebesar 12 persen.

Belajar dari Masa Lalu

Berdasarkan pengalaman El Niño sebelumnya, El Niño diperkirakan akan mencapai puncaknya antara September dan Desember tahun ini, namun dampaknya akan terasa sepanjang tahun 2027 di banyak negara sehingga mempengaruhi kualitas panen di masa depan. WFP memperingatkan, “Kondisi kekeringan, banjir, dan suhu ekstrem sudah mengancam komunitas.”

Bekerja sama dengan FAO, OCHA, dan mitra lainnya, WFP melaksanakan rencana pencegahan aktif di lebih dari 50 negara dan mendukung pemerintah serta komunitas untuk mengurangi risiko.

Sejak Mei, WFP telah memimpin aksi antisipatif di Sudan Selatan, Chad, Mauritania, Uganda, Guatemala, dan El Salvador, menyalurkan bantuan lebih dari $14 juta untuk menyelamatkan setengah juta jiwa dari kelaparan. Jumlah tersebut termasuk biaya untuk memperluas mekanisme pembiayaan yang telah diatur sebelumnya, seperti asuransi risiko bencana, kredit, dan pembayaran digital, agar lebih banyak bantuan yang tersedia dengan biaya yang lebih murah.

Upaya tersebut, menurut WFP, membantu komunitas dan pemerintah dalam mempersiapkan diri dan bertahan menghadapi guncangan mendadak, sekaligus mengurangi kebutuhan kemanusiaan di masa depan. Faktanya, pengalaman dari peristiwa El Niño sebelumnya menunjukkan, investasi $1 untuk program antisipasi bencana, bisa mengurangi kerugian dan biaya respon hingga $3-7. Lebih baik bersiap dan mencegah daripada mengobati.

Redaksi Hijauku.com