Para Selebritas yang Tak Takut Memertaruhkan Kenyamanannya untuk Membela Palestina

Oleh: Jalal

Pertengahan September lalu, di New Jersey, Macklemore berdiri di depan puluhan ribu penonton konser Ed Sheeran dan mengucapkan dua kata yang, menurutnya sendiri, telah lama ingin ia teriakkan di panggung sebesar itu: “Free Palestine!” Tak lama setelah itu ia dicoret dari tur. Robert Kraft, pemilik Gillette Stadium dan donatur utama berbagai lembaga Israel, dikabarkan menekan pengelola stadion lain agar tidak mengizinkan sang rapper tampil. Kraft membenarkan langkahnya dengan menyebut “riwayat panjang retorika dan citra antisemitik” Macklemore.  Tuduhan itu tak pernah dijelaskan lebih jauh dan yang oleh banyak pengamat dibaca sebagai kabut untuk menutupi alasan yang lebih sederhana: sikap terbuka membela Palestina masih bisa membuat karier seseorang runtuh dalam semalam. Buat Macklemore, tuduhan antisemitik sungguhlah menggelikan, lantaran warga Palestina sendiri adalah bagian dari bangsa-bangsa Semit, sehingga genosida yang dilakukan Israel di Gaza adalah tindakan antisemitik yang sesungguhnya.

Yang terjadi kemudian adalah gelombang solidaritas—Finneas, Lukas Graham, dan beberapa nama lain mundur dari tur itu, sementara Macklemore mengumumkan akan menyumbangkan seluruh bayarannya, satu juta dolar, untuk organisasi kemanusiaan Palestina. Sheeran sendiri, yang berusaha menjaga citra apolitisnya, mengaku “sangat khawatir” dengan gagasan bahwa tempat pertunjukan kini bisa menyaring isi pertunjukan sebelum naik panggung.  Citra apolitis itu lalu runtuh lantaran para pengamat menunjukkan Sheeran bahkan membuat konser khusus untuk Ukraina. Sementara, di panggung kosong lantaran ditinggalkan band-band lain yang seharusnya tampil, Sheeran malah menunjukkan permintaan maaf yang seperempat hati.  Alih-alih bicara soal kesengsaraan warga Palestina, ia bicara soal kesengsaraan dirinya yang ditinggalkan banyak kolega dan sahabat.

Kisah ini terasa baru, tapi bagi saya yang mengikuti sepak terjang aktivisme para selebritas sesungguhnya ia hanyalah babak terbaru dari sebuah tradisi panjang: para seniman yang bersedia memertaruhkan reputasi, kontrak, bahkan keselamatan pribadi, untuk membela hak-hak rakyat Palestina. Sejarah ini dimulai jauh sebelum tagar dan kecaman viral melalui media sosial.  Dan ini membuat seluruhnya pantas ditelusuri, bukan sekadar sebagai daftar nama, melainkan sebagai garis waktu keberanian yang, meski berulang kali dicap kontroversial, tak pernah benar-benar padam.

Menurut saya, tak ada figur yang lebih layak membuka riwayat ini selain Vanessa Redgrave. Pada 1977, aktris Inggris pemenang dua Oscar itu mendanai dan menjadi narator “The Palestinian,” sebuah dokumenter yang menampilkan kehidupan warga Palestina di pengasingan dan di bawah pendudukan—dan memuat adegan dirinya menari sambil mengangkat senapan di sebuah kamp pelatihan PLO, gambar yang kelak dikutip berulang kali oleh para pengecamnya. Setahun kemudian, ketika ia menerima Oscar untuk perannya dalam “Julia,” pidato kemenangannya berubah menjadi pernyataan politik yang memicu kemarahan sedemikian rupa hingga anggota Jewish Defense League membakar patung dirinya dan bioskop yang memutar dokumenternya dibom.

Redgrave tidak surut. Ia melanjutkan perjalanannya ke Lebanon Selatan, tidur di lantai dan tenda darurat di bawah gempuran artileri Israel, mewawancarai pemimpin PLO Abu Jihad—yang kelak dibunuh oleh komando Israel di Tunis—dan pada akhirnya Yasser Arafat sendiri. Dalam otobiografinya ia menulis keyakinan yang menjadi pegangan seumur hidupnya: perjuangan melawan antisemitisme yang sesungguhnya, bukan versi yang dikorup Zionis, dan perjuangan untuk penentuan nasib sendiri rakyat Palestina adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan. Ketika ia dipecat dari sebuah pertunjukan Boston Symphony Orchestra pada 1984 karena dukungannya kepada PLO, ia menggugat dan menang. Redgrave adalah perempuan bernyali baja.

Hampir tiga dekade kemudian, giliran seorang musisi rock legendaris yang menemukan jalannya ke Palestina lewat kebetulan yang berubah menjadi panggilan hidup. Roger Waters, salah satu pendiri Pink Floyd, awalnya dijadualkan tampil di Tel Aviv pada 2006 sebagai bagian dari sebuah tur. Surat-surat dari warga Palestina yang memintanya membatalkan konser itu memertemukannya dengan Omar Barghouti, salah satu penggagas gerakan Boycott, Divestment, Sanctions (BDS), yang sejak itu menjadi sahabat dekatnya. Waters lalu memindahkan konsernya ke sebuah desa di antara Tel Aviv dan Yerusalem, namun menyaksikan sendiri bagaimana warga Palestina dari Tepi Barat tak bisa hadir karena pembatasan pergerakan. Momen tersebut membuka matanya untuk pertama kali. Setahun berikutnya ia kembali ke Palestina, menyusuri Tepi Barat, mendalami karya penyair Mahmoud Darwish, dan mulai menyemprotkan lirik “The Wall” pada tembok pemisah di dekat Betlehem. Sejak itu ia menjadi salah satu suara paling gigih—dan paling kontroversial—dalam gerakan boikot budaya terhadap Israel, kerap mengkritik sesama musisi yang tetap memilih tampil di sana.

Delapan tahun kemudian, saat Israel melancarkan Operasi Protective Edge ke Gaza pada 2014, dua aktor dari dua benua berbeda mengambil sikap publik pertama mereka pada saat yang nyaris bersamaan. Mark Ruffalo, yang dikenal luas sebagai Hulk dalam waralaba Marvel, menulis kritik keras terhadap serangan Israel ke Rumah Sakit al-Wafa di Gaza, dan menolak narasi bahwa Hamas menjadikan warga sipil sebagai perisai manusia. Sejak momen itu Ruffalo tak pernah benar-benar berhenti: satu dekade kemudian ia menjadi salah satu penggerak Artists4Ceasefire, mengenakan pin kelompok itu di panggung Oscar 2024, ikut menandatangani surat kepada 700 lebih anggota SAG-AFTRA yang menuntut serikat aktor menyerukan gencatan senjata, dan pada 2025 secara terbuka menyerukan BDS bahkan penuntutan hukum terhadap Israel, dan mendesak dunia menyeret Benjamin Netanyahu ke The Hague untuk memertanggungjawabkan kejahatannya.

Pada tahun yang sama, di Spanyol, Javier Bardem bersama istrinya Penelope Cruz menggalang lusinan tokoh perfilman dan musik untuk menandatangani surat terbuka kepada Uni Eropa yang mengecam pengeboman “darat, laut, dan udara” terhadap warga sipil Gaza. Tuduhan antisemitisme yang menyusul memaksa Bardem mengklarifikasi bahwa kritiknya ditujukan kepada kebijakan militer, bukan kepada rakyat Israel—sebuah pembedaan yang terus ia pertahankan hingga bertahun-tahun kemudian, ketika ia mengenakan pin keffiyeh di Emmy Awards, menyerukan “Free Palestine!” dari panggung Oscar, dan menegaskan tak akan pernah bekerja dengan siapa pun yang “membenarkan atau mendukung genosida.”

Serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 dan pembantaian ratusan ribu warga Gaza oleh Israel setelahnya menjadi titik balik yang menyeret gelombang baru selebritas ke dalam barisan ini, dan kali ini dengan risiko profesional yang jauh lebih nyata dan langsung. Tilda Swinton, peraih Oscar yang lama dikenal berpihak pada isu-isu progresif, ikut menandatangani surat lebih dari dua ribu seniman pada Oktober 2023 yang menuduh pemerintah-pemerintah Barat “bukan hanya membiarkan kejahatan perang, tetapi turut membantu dan bersekongkol.” Pada Februari 2025, saat menerima Golden Bear kehormatan di Festival Film Berlin, ia menggunakan pidatonya untuk mengecam apa yang disebutnya “pembunuhan massal yang dilakukan negara dan difasilitasi secara internasional”—sebuah rujukan yang tak sulit ditebak arahnya.

Susan Sarandon, yang lebih dulu dikenal sebagai aktivis gerakan antiperang Irak dan kritikus vokal Donald Trump, membayar harga paling nyata di antara semua nama ini: sebulan setelah serangan Hamas terhadap warga Israel, ia dicoret oleh agensinya, United Talent Agency, setelah pernyataannya dalam sebuah aksi solidaritas Palestina di New York dianggap kontroversial. Ia tak surut. Ia terus hadir dalam demonstrasi, termasuk di Universitas Columbia, dan pada 2026 mengaku masih kehilangan tawaran peran karena agensi-agensi lain memeringatkan produser untuk tidak memekerjakannya—sebuah pengakuan yang ia sampaikan sambil menegaskan bahwa narasi publik tentang Palestina, menurutnya, justru telah berubah secara mendasar.

Yang paling muda dalam barisan ini adalah Hannah Einbinder. Pada malam kemenangannya di Emmy Awards 2025 untuk perannya dalam “Hacks,” ia menutup pidatonya dengan kalimat yang langsung memicu kehebohan nasional: seruan bagi timnya di liga football, umpatan terhadap ICE, dan dukungan pada kemerdekaan Palestina. Di ruang wawancara belakang panggung ia menjelaskan bahwa ia memiliki kawan-kawan yang bekerja sebagai tenaga medis di garis depan Gaza bagian utara, dan bahwa sebagai seorang Yahudi ia merasa berkewajiban memisahkan identitas keagamaannya dari kebijakan negara Israel—sebuah kalimat yang mengundang pujian sekaligus kecaman tajam. Ia kemudian menandatangani ikrar Film Workers for Palestine dan ikut serta dalam aksi sipil bersama Jewish Voice for Peace.  Beberapa jam sebelum saya menuliskan artikel ini, Einbinder dan Sarandon ditahan polisi New York dalam sebuah demonstrasi menentang kunjungan Netanyahu ke New York.

Masih banyak selebritas lainnya yang bisa disebutkan yang dengan kapasitas masing-masing menunjukkan pembelaan yang benderang terhadap Palestina.  Beberapa yang bisa saya sebutkan adalah Riz Ahmed, Cate Blanchett, Andrew Garfield, Ariana Grande, Bella dan Gigi Hadid, John Legend, Annie Lennox, Hasan Minhaj, Cynthia Nixon, Sinead O’Connor, Joaquin Phoenix, Jon Stewart, dan The Weeknd (Abel Tesfaye).

Apa yang menyatukan Redgrave di panggung Oscar 1978, Waters di tembok pemisah Betlehem, Ruffalo dan Bardem di tahun 2014, hingga Swinton, Sarandon, Einbinder dan sejumlah selebritas lainnya di masa genosida Gaza, atau jauh sebelumnya, bukanlah kesamaan pandangan politik dalam setiap detail, melainkan kesediaan untuk menanggung akibat dari berbicara ketika diam jauh lebih aman secara finansial dan profesional. Kasus Macklemore hanyalah pengingat bahwa harga yang harus dibayar itu belum pernah benar-benar hilang.  Setengah abad setelah patung Redgrave dibakar, seorang rapper masih bisa dicoret dari sebuah tur karena mengucapkan dua kata di depan mikrofon. Yang jelas sangat berbeda adalah jumlah orang yang kini bersedia berdiri di sampingnya ketika itu terjadi. Redgrave melakukannya sendirian, sementara solidaritas buat Macklemore sedemikian kuatnya.  Semoga ini menandai segera berakhirnya kolonialisme, apartheid, dan genosida yang diderita warga Palestina sejak delapan dekade lampau.

–##–

Depok, 26 September 2026 09:15