Oleh: Jalal
Selepas dari sesi di mana saya bicara di Pathumwan Princess Hotel, saya memilih berjalan kaki. Di rangkaian acara Bangkok Climate Week itu saya diundang membicarakan gagasan yang sudah lama saya bawa ke mana-mana: izin konsesi dari pemerintah Indonesia hanyalah separuh cerita buat perusahaan. Sambutan peserta hangat, dan beberapa di antaranya bahkan mengundang saya membicarakan tema yang sama di negara mereka.
Hati saya terasa ringan ketika berjalan kembali ke hotel melewati MBK Center, sampai sebuah raungan gitar menghentikan langkah. Di salah satu sudut, sebuah konser rock mini sedang berlangsung, dan lagu yang dimainkan adalah The Emptiness Machine milik Linkin Park. Saya tersenyum sendiri lantaran mendengar nama yang baru saja melambung tinggi di dunia hiburan disebut. Hanya nama itu yang saya paham, sisanya entah apa artinya. Tapi itu memenuhi pikiran saya sepanjang jalan ke hotel.
Separuh Cerita yang Pertama
Di Indonesia, bisnis perusahaan tambang, migas, perkebunan, dan kehutanan lahir dari selembar izin: izin usaha pertambangan, kontrak kerja sama, hak guna usaha, atau persetujuan pemanfaatan hutan. Tanpa dokumen itu, tak ada yang boleh menggali, mengebor, menanam, atau menebang. Itulah legal license to operate, lisensi yang diberikan negara.
Masalahnya, surat izin itu hanya menjawab satu pertanyaan: apakah negara mengizinkan? Ia tidak menjawab pertanyaan yang jauh lebih menentukan di lapangan: apakah masyarakat di sekeliling konsesi bersedia menerima kehadiran perusahaan? Negara memang bisa menandatangani konsesi di atas peta, tetapi jelas tidak bisa menandatangani penerimaan di atas tanah yang sudah dihuni manusia. Saya tidak meremehkan izin. Terapi kepatuhan hukum perlu dipandang sebagai syarat masuk belaka, bukan syarat cukup bagi operasi yang lancar. Di titik itulah social license to operate (SLO) bekerja, sebagai separuh cerita lainnya.
Istilah SLO lahir dari industri pertambangan sendiri pada akhir 1990-an. Ia diusulkan oleh petinggi Placer Dome bernama Jim Cooney pasa sebuah pertemuan yang digagas Bank Dunia. Ilmuwan sosial Ian Thomson dan Robert Boutilier kemudian merumuskannya lebih cermat sebagai tangga bertingkat: dari penolakan, penerimaan, persetujuan, hingga identifikasi psikologis, ketika masyarakat memandang perusahaan sebagai bagian dari ‘kita’. Fondasinya tiga: legitimasi, kredibilitas, dan kepercayaan. Tak satu pun dari ketiganya bisa dibeli dengan biaya perizinan. Ia harus harus didapat lewat perilaku, kinerja dan komunikasi yang tepat, dan terus dirawat.
Ada beberapa hal yang saya tekankan di panggung maupun dalam beberapa percakapan sesudahnya. Pertama, SLO tidak bisa dimiliki, hanya bisa dijaga. Izin legal diperoleh lalu diperpanjang berkala, sedangkan SLO selalu cair sifatnya. Ia bisa runtuh dalam semalam oleh satu pencemaran sungai, satu sengketa lahan, atau satu janji lapangan kerja yang tak ditepati. Karena itu perusahaan wajib mengupayakannya sepanjang masa operasi, dari eksplorasi hingga pascatambang atau pascapanen. Menganggap SLO selesai setelah pengukuran awal sama kelirunya dengan mengira tanaman cukup disiram sekali.
Kedua, SLO bersifat lokal dan tidak bisa dipindahkan. Kepercayaan yang dibangun di satu desa tidak otomatis berlaku di desa sebelahnya, apalagi di kabupaten, provinsi atau pulau lain. Masyarakat bukan entitas tunggal. Ada petani penggarap, nelayan, perempuan, kelompok adat, pemuda, dan aparat desa dengan kepentingan yang tak selalu searah. Perusahaan yang hanya berbicara dengan elite desa sedang menakar sebagian kecil saja dari cerita. Karena itu SLO perlu dipantau seperti kinerja keselamatan: dengan indikator, survei persepsi berkala, dan keberanian membaca hasil yang tidak menyenangkan.
Ketiga, mengabaikannya ada ongkosnya, dan kita semua hafal polanya. Jalan angkut diblokade, warga berunjuk rasa, sengketa tanah berujung ke pengadilan, produksi tersendat, biaya modal naik, dan pembeli global makin ketat bertanya soal uji tuntas hak asasi manusia dan lingkungan. Izin yang sah di atas kertas tak banyak gunanya ketika truk tak bisa lewat. Sebaliknya, perusahaan yang sungguh membangun kepercayaan mendapati operasinya jauh lebih tenang. Caranya lewat persetujuan atas dasar informasi di awal tanpa paksaan (FPIC), mekanisme pengaduan yang benar-benar didengar, pembagian manfaat yang adil, dan keterbukaan soal dampak serta pengelolaannya. Kepercayaan adalah infrastruktur yang tak terlihat, tetapi paling menentukan.
Di forum iklim regional di tahun 2026, pesan ini terasa makin relevan. Transisi energi menambah tekanan pada nikel, tembaga, bauksit, dan bioenergi, komoditas yang sering digali atau ditanam di wilayah hidup masyarakat adat dan lokal. Transisi yang tidak adil secara sosial akan kehilangan lisensinya sebelum kehilangan karbonnya. Saya menutup sebuah pembicaraan bersama empat orang lain dengan kalimat yang terdengar seperti slogan: lisensi terpenting tidak pernah tercetak di atas kertas. Ia diberikan oleh orang-orang yang menyaksikan kita bekerja, dan bisa ditarik kembali kapan saja oleh mereka.
Separuh Cerita yang Lain: Seorang Gadis dari Phuket
Sepanjang jalan ke hotel, pikiran saya meninggalkan konsesi dan hinggap pada seorang gadis. Band di MBK itu, rupanya, sedang merayakan kemenangan Nene Royal di America’s Got Talent pada 23 September lalu. Mereka membawakan lagu yang sama dengan yang dimainkan Linkin Park bersamanya di puncak acara. Mike Shinoda menyebut penampilan Nene di situ dengan satu kata berulang: “incredible, incredible” di malam kemenangan itu. Saya harus bergegas untuk e-meeting dan tak sempat mendengarkan sampai habis, tetapi gambaran tentang Nene terus menemani saya sembari bergegas ke hotel.
Nama aslinya Rattikarn Amloy, enam belas tahun, dari Phuket. Ia belajar gitar sendiri sejak usia tujuh tahun dari ayahnya, dan sebelum AGT ia lebih dikenal para wisatawan dan penggemar musik yang pernah melihatnya mengamen dengan gitar di Phuket. Di audisi, ia menyanyikan Zombie dari The Cranberries, menyelipkan solo ketukan dua tangan di tengah lagu, dan mendapat ‘ya’ dari keempat juri dan teriakan histeris ribuan penonton. Di perempat final, ia membawakan Black Hole Sun dari Soundgarden, dan penampilan itu membuat Mel B menekan Golden Buzzer yang meloloskannya langsung ke final. Di final ia memilih Seven Nation Army dari The White Stripes, lengkap dengan solo buatannya sendiri. Lalu ia menjadi orang Thailand pertama yang menjuarai AGT, membawa pulang hadiah satu juta dolar AS dan pertunjukan utama di Las Vegas.
Yang membuat saya terpesona bukan sekadar kemenangannya, melainkan jalan yang ditempuhnya. Bakat memang tampak di setiap penampilan, tetapi bakat tidak dengan sendirinya mengajarkan seseorang menguasai solo dua tangan, memindahkan suara dari satu lagu ke lagu lain tanpa kehilangan jati diri, atau tampil tenang di depan jutaan penonton. Itu biasanya hasil jam-jam panjang yang tak pernah masuk siaran: memainkan lagu yang sama berulang-ulang di tengah keramaian yang sebagian besar orang mungkin tak berhenti untuk mendengarkan. Ketika kamera AGT akhirnya menyala, Nene sudah menempuh sebagian besar perjalanan seperti itu.
Ia juga mengingatkan saya mengapa dulu saya jatuh cinta pada musik cadas. Perhatikan daftar lagunya: Zombie dan Black Hole Sun dirilis pada 1994, Seven Nation Army pada 2003, semuanya jauh sebelum Nene lahir pada 2010. Remaja dari era layanan streaming ini memilih menghidupkan lagu-lagu yang usianya lebih tua darinya, dan membawakannya dengan kesungguhan yang membuat penonton lintas-generasi berdiri. Zombie sendiri ditulis Dolores O’Riordan sebagai ratapan atas kekerasan di Irlandia Utara, setelah pengeboman di Warrington pada 1993 yang menewaskan dua anak. Musik rock, pada hari-hari terbaiknya, memang bukan sekadar bising. Ia adalah cara paling jujur untuk meneriakkan keresahan sosial, dan di tangan dan suara Nene ia terasa hidup kembali.
Merenungi Dua Lisensi dari Kisah Nene
Sambil berjalan, saya menyadari bahwa kisah Nene sesungguhnya adalah kisah tentang dua lisensi tadi. Audisi memberinya izin formal untuk naik panggung, itulah lisensi legal yang diperolehnya. Tetapi tak ada juri atau penonton yang berutang memberikan kemenangan kepadanya. Di setiap babak ia harus memerbarui kepercayaan, dengan Zombie di audisi, Black Hole Sun di perempat final, dan Seven Nation Army di final, setiap kali dengan lagu berbeda. Tepuk tangan kemarin tidak menjamin tepuk tangan hari ini. Lisensi sosialnya dibangun dan dirawat penampilan demi penampilan, dan karena itu terasa sungguh-sungguh miliknya.
Saya juga tersentuh oleh cara Thailand menyambutnya. Menurut analisis Wisesight Thailand, perjalanannya di AGT memicu lebih dari 105 juta interaksi di media sosial. Itu bukan sekadar cerita tentang acara televisi, melainkan kebanggaan bersama atas seorang perempuan muda pengamen dari Phuket. Ceritanya pun belum selesai: ia dijadualkan membuka konser Avenged Sevenfold di Singapura pada 13 Oktober. Dalam kerangka Thomson dan Boutilier, inilah identifikasi psikologis, ketika sebuah bangsa merasa keberhasilan satu orang adalah keberhasilan mereka semua. Nene berhasil tiba di puncak SLO di mata masyarakat Thailand, dan mungkin juga di mata penggemar musik cadas di seluruh penjuru Bumi.
Tentu saja, saya sadar sepenuhnya, perbandingan ini punya batas. Nene mencari pertanda lisensi sosial dari tepuk tangan, sedangkan perusahaan tambang perlu membuktikan lewat kesanggupan mengelola dampak atas hidup orang banyak. Namun intinya sama: kepercayaan bukan hadiah yang diterima sekali, melainkan hasil kerja yang diulang dan dibuktikan di hadapan orang-orang yang bebas menariknya kembali. Musik cadas, yang sudah lama tak saya dengarkan dengan sungguh-sungguh, kembali menemukan tempatnya di telinga dan hati saya. Dan saya kembali ke pekerjaan dengan pertanyaan yang sama: siapa yang sesungguhnya sedang menyaksikan kita bekerja, dan apakah mereka masih mau memberikan tepuk tangan atau menunjukkan kepalan tangan?
–##–
Bangkok, 6 Oktober 2026 06:35
Leave A Comment