Oleh: Jalal
Saya masih ingat perasaan ketika menyaksikan Jerman mengangkat trofi di Maracana di tahun 2014. Kegembiraan itu, saya akui sekarang, dalam jarak selusin tahun saja, sudah tak ada yang tersisa. Gotze menusukkan kaki kirinya ke jantung Argentina di menit ke-113, dan saya, di ruang tamu di Jakarta, berteriak seperti anak SMA lagi. Saya sudah jadi penggemar tim Jerman sejak kecil, jauh sebelum saya tahu apa itu geopolitik, jauh sebelum saya pernah mendengar kata ‘kolonialisme’ diucapkan dalam kalimat yang sama dengan kata ‘sepakbola’.
Lalu datanglah kutukan juara dunia. Mitos lama yang sepertinya konyol tapi entah mengapa terus saja terasa benar buat Jerman. Rusia 2018: tersingkir di fase grup, dikalahkan Korea Selatan dalam pertandingan yang masih saja bisa saya putar ulang sesekali di kepala karena ketidakpercayaannya. Qatar 2022: ulangan yang lebih menyakitkan, karena seharusnya sudah ada pelajaran yang dipetik empat tahun sebelumnya, dan ternyata tidak. Dua kali pulang kampung sebelum babak gugur dimulai, dari tim yang empat tahun sebelumnya berdiri di puncak dunia. Pada kedua peristiwa itu, saya merasakannya sebagai kesedihan personal, jenis yang membuat saya pergi ke YouTube untuk menonton ulang rekaman 2014 untuk menenangkan diri.
Selasa pagi ini rasanya lain sama sekali. Saya membaca Jerman menguasai bola 75 persen melawan Paraguay, mendominasi seperti timnas mendominasi juara tarkam, dan tetap pulang kampung cepat. Kali ini lewat drama adu penalti 4-3 di Gillette Stadium, dengan Kai Havertz, Nick Woltemade, dan Jonathan Tah gagal mengeksekusi tendangan dua belas pas mereka. Tiga kali beruntun, tiga edisi Piala Dunia, Jerman gagal melewati babak awal yang sama. Dan saya menunggu kesedihan itu datang seperti yang sudah-sudah. Tapi ia sama sekali tidak datang. Yang hadir justru rasa puas yang ganjil, yang saya sendiri tidak nyaman mengakuinya pada awalnya.
Saya pikir, untuk memahami kegembiraan ganjil ini, saya harus mengakui bahwa Piala Dunia 2026 ini bukan sekadar turnamen sepakbola bagi saya. Ia menjadi cermin yang tidak saya minta, yang memantulkan kembali semua kemunafikan yang selama ini makin saya lihat dalam olahraga ini. FIFA melarang Rusia bertanding tanpa keraguan sedikit pun begitu Moskow menyerbu Ukraina pada 2022—keputusan cepat, tegas, hampir reflektif. Tapi Israel, yang menyerbu Gaza yang oleh banyak pakar PBB sendiri disebut sebagai kejahatan kemanusiaan, bahkan para pakar sudah jelas menyatakan sebaga genosida, tetap diizinkan bertanding seolah tidak terjadi apa-apa. Dengan logika yang sama yang dipakai untuk Rusia, Amerika Serikat juga semestinya tersingkir dari meja perundingan moral FIFA, karena ia berdiri berdampingan dengan Israel, kalau bukan malah di depannya, ketika menyerang Iran. Dua negara yang paling rajin mengaduk-aduk kedamaian di berbagai belahan dunia, dan keduanya melenggang bebas di lapangan hijau akibat keputusan munafik FIFA.
Tapi yang paling menohok bagi saya adalah Jerman sendiri. Ini negara yang lahir kembali dari abu Holocaust, yang membangun seluruh identitas pasca-perangnya di atas kalimat “Nie wieder”—tak akan pernah lagi. Dan kalimat itu, alih-alih menjadi sumpah untuk tidak pernah membiarkan kekejaman serupa terjadi pada siapa pun, justru ditafsirkan Berlin sebagai loyalitas tanpa syarat kepada negara yang mengaku mewarisi trauma itu—bahkan ketika negara itu menjatuhkan bom di atas kepala anak-anak Gaza. Ini bukan penebusan dosa. Ini membasuh darah lama dengan darah baru, dan menyebutnya pertobatan. Veto Jerman di Uni Eropa membuat blok itu tak pernah bisa menjatuhkan sanksi berarti terhadap Israel, sementara bukti kekejaman Israel terus menumpuk di depan mata dunia.
Maka ketika awal Juni lalu Jerman gagal merebut kursi anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB untuk pertama kalinya sejak reunifikasi 1990—dikalahkan oleh Austria dan Portugal, dengan Menteri Luar Negeri Johann Wadephul sendiri mengakui bahwa ‘tanggung jawab khusus’ Jerman terhadap Israel mungkin telah mengurangi suara mereka—saya tidak merasa sedih. Saya merasa itu pantas. Sebuah negara yang terus-menerus ragu membela korban demi membela pelaku kejahatan kemanusiaan jelas sama sekali tidak berhak duduk di meja yang menentukan nasib perdamaian dunia. Dan kini, di Foxborough, Massachusetts, Jerman pulang lebih cepat lagi—untuk ketiga kalinya berturut-turut—dan saya menemukan diri saya berkata pelan di hadapan layar ponsel: “Sukurin!”
Saya tahu ini bukan keadilan kosmik. Sepak bola tidak punya hubungan kausal dengan moralitas geopolitik sebuah negara, dan saya cukup waras untuk tidak benar-benar percaya bahwa Tuhan menghukum Jerman lewat kaki Orlando Gill di bawah mistar gawang itu. Tapi perasaan tidak selalu butuh logika kausal untuk terasa benar. Yang saya rasakan adalah sesuatu yang lebih jujur: ketidakmampuan saya lagi untuk memisahkan kesenangan menonton bola dari kesadaran tentang siapa yang berdiri di lapangan itu, dan dengan beban sejarah serta kebijakan luar negeri apa mereka membawa nama negaranya.
Maka inilah pengakuan saya, sekaligus semacam pengumuman kecil kepada diri sendiri: saya tidak akan menyaksikan satu pertandingan pun hingga tuntas di Piala Dunia 2026 ini. Saya akan membaca beritanya lantaran saya terlalu lama jadi penikmat sepak bola untuk benar-benar berpaling. Tapi saya tidak akan lagi duduk khusyuk di depan layar, berharap-harap dengan sepenuh hati seperti ketika memandangi layar televisi untuk pertandingan di Maracana selusin tahun lalu itu.
Yang saya harapkan sekarang justru hal lain: bahwa makin banyak negara, baik warganya maupun pemerintahnya, berani bersikap tegas membela Palestina; bahwa keberanian Austria, Portugal, bahkan keraguan publik Jerman sendiri yang mulai muncul di dalam negerinya, menjadi awal dari sesuatu yang lebih besar daripada hasil pemungutan suara di gedung PBB yang terus saja jatuh dalam kebodohan luar biasa dengan memertahankan hak veto. Sepak bola akan terus bergulir tanpa saya menontonnya sampai peluit akhir. Tapi sejarah, saya kira, sedang menonton dengan lebih saksama daripada yang kita kira. Saya juga berharap mereka yang warga dan pemerintahnya berdiri di titik moral yang benar bisa lebih berprestasi di Piala Dunia kali ini.
–##–
Depok, 30 Juni 2026, 09:25
Leave A Comment