Refleksi dari sebuah percakapan singkat di Braga, Bandung.
Oleh: Farhan Helmy *
Beberapa hari lalu, saat menikmati secangkir kopi di kawasan Braga, Bandung, seorang content creator menghampiri saya untuk sebuah wawancara singkat. Pertanyaannya sederhana, tetapi justru mengandung pertanyaan yang mungkin sedang dipikirkan banyak orang hari ini.
“Di tengah krisis iklim, situasi global yang semakin tidak menentu, dan berbagai tantangan sosial yang terus membesar, apakah Anda masih optimistis?” Jawaban saya spontan. “Ya, saya tetap optimistis.”
Bukan karena saya menganggap persoalannya ringan. Justru sebaliknya. Saya menyadari bahwa tantangan yang kita hadapi hari ini jauh lebih kompleks dibandingkan satu atau dua dekade lalu.
Perubahan iklim semakin nyata. Ketimpangan sosial terus melebar. Konflik geopolitik menciptakan ketidakpastian baru. Multilateralisme yang selama puluhan tahun menjadi fondasi kerja sama internasional mulai mengalami erosi. Perkembangan kecerdasan buatan berlangsung jauh lebih cepat dibandingkan kemampuan kita membangun tata kelola yang adil. Pada saat yang sama, tekanan terhadap ruang gerak masyarakat sipil juga semakin terasa di banyak negara.
Ironisnya, sebagian besar perbincangan tentang AI masih berkutat pada bagaimana teknologi ini dapat menghasilkan konten lebih cepat, sementara potensinya untuk menjawab persoalan-persoalan kemanusiaan justru belum dimanfaatkan secara optimal.
Padahal AI seharusnya membantu kita membaca kompleksitas, menganalisis data secara lebih baik, mempercepat pengambilan keputusan berbasis bukti, mengembangkan teknologi bantu (assistive technology) yang lebih terjangkau, memperluas akses terhadap pendidikan dan layanan publik, hingga memperkuat ketahanan masyarakat menghadapi krisis iklim. Kemajuan AI seharusnya tidak hanya diukur dari kecanggihannya menghasilkan informasi, tetapi dari sejauh mana ia memperluas kesempatan, memperkuat martabat manusia, dan mendukung masa depan yang lebih berkelanjutan bagi semua.
Namun di balik seluruh kompleksitas itu, sesungguhnya terdapat jutaan bahkan miliaran wajah manusia yang setiap hari hidup berdampingan dengan berbagai bentuk kerentanan. Ironisnya, mereka sering kali bukan hanya menjadi kelompok yang paling terdampak, tetapi juga paling sedikit memiliki ruang untuk memengaruhi percakapan, perencanaan, dan pengambilan keputusan. Padahal, merekalah yang seharusnya menjadi bagian dari solusi.
Secara global, lebih dari 1,3 miliar orang hidup dengan disabilitas, atau sekitar 16 persen populasi dunia. Jumlah penduduk lanjut usia telah melampaui 850 juta jiwa dan akan terus meningkat dalam beberapa dekade mendatang. Jika ditambah perempuan yang menghadapi berbagai bentuk diskriminasi, masyarakat adat, anak-anak, masyarakat miskin, pengungsi, serta kelompok rentan lainnya, maka sesungguhnya miliaran manusia berada pada posisi yang paling terdampak oleh berbagai krisis yang kita hadapi.
Di Indonesia, penyandang disabilitas diperkirakan mencapai sekitar 22 juta jiwa, sementara jumlah penduduk lanjut usia telah melampaui 34 juta jiwa. Artinya, sedikitnya 56 juta warga Indonesia berada pada dua kelompok yang membutuhkan kebijakan pembangunan yang lebih inklusif, adaptif, dan berkeadilan. Jika ditambah kelompok rentan lainnya, jumlah masyarakat yang membutuhkan perhatian dalam pembangunan menjadi jauh lebih besar.
Sementara itu, Asia dan Afrika, kawasan yang dihuni sekitar 6,3 miliar penduduk atau hampir 78 persen populasi dunia, menjadi rumah bagi sekitar 800 juta penyandang disabilitas dan lanjut usia. Kawasan inilah yang akan sangat menentukan arah pembangunan global sekaligus menjadi wilayah yang paling merasakan dampak perubahan iklim.
Karena itulah saya memilih untuk tetap optimistis.
Optimisme bukan berarti menutup mata terhadap kenyataan. Optimisme adalah keputusan untuk terus bekerja, terus belajar, dan terus membangun kemungkinan-kemungkinan baru.
Selama bertahun-tahun, kita sering mendengar istilah shrinking civic space, menyempitnya ruang gerak masyarakat sipil akibat berbagai tekanan politik, ekonomi, maupun regulasi. Fenomena ini nyata. Namun menurut saya, ada tantangan lain yang justru lebih berbahaya. Saya menyebutnya sebagai shrinking mind.
Bukan menyusutnya ruang untuk bergerak, melainkan menyusutnya keberanian untuk mempertanyakan asumsi, belajar dari perubahan, dan membayangkan masa depan yang berbeda.
Ketika cara berpikir ikut menyempit, maka gerakan sosial perlahan kehilangan kemampuan untuk beradaptasi. Kita mulai menjawab persoalan baru dengan jawaban lama. Kita mengulang strategi yang sama untuk masalah yang berbeda. Dan ini yang lebih parah:
Kita terus bereaksi terhadap persoalan yang tidak pernah benar-benar diselesaikan, sambil tetap meyakini bahwa pendekatan masa lalu pasti masih relevan untuk menghadapi tantangan masa depan.
Ironisnya, penyempitan cara berpikir sering kali bukan berasal dari tekanan eksternal, melainkan dari kenyamanan internal. Kita menjadi terlalu yakin pada metode yang pernah berhasil. Padahal dunia telah berubah.
Krisis iklim adalah contoh paling jelas mengapa pendekatan lama tidak lagi memadai.
Perubahan iklim bukan hanya persoalan emisi karbon. Ia berkaitan dengan kemiskinan, kesehatan masyarakat, ketahanan pangan, aksesibilitas, desain kota, sistem keuangan, pendidikan, teknologi, budaya, hingga tata kelola pemerintahan.
Semua persoalan tersebut saling terhubung. Karena itu, solusi yang berdiri sendiri hampir selalu menghasilkan dampak yang terbatas. Yang kita butuhkan bukan hanya lebih banyak program, melainkan cara berpikir yang mampu melihat keterhubungan antar persoalan.
Selama lima tahun terakhir, perjalanan bersama DILANS Indonesia, ASCODI Lab, berbagai universitas, pemerintah daerah, dunia usaha, komunitas, dan jejaring Asia-Afrika semakin memperkuat keyakinan saya bahwa masa depan perubahan sosial tidak dibangun oleh organisasi yang paling besar. Melainkan oleh ekosistem yang paling mampu berkolaborasi.
Bukan siapa yang memiliki program paling banyak. Melainkan siapa yang mampu menghubungkan berbagai inisiatif menjadi perubahan yang lebih besar.
Bukan pula siapa yang paling keras bersuara. Melainkan siapa yang mampu memperbesar kapasitas masyarakat untuk ikut bertindak. Inilah yang saya pahami sebagai agency.
Agency adalah kemampuan setiap individu, komunitas, institusi, hingga kota untuk tidak sekadar menjadi penerima manfaat atau korban perubahan, tetapi menjadi aktor yang mampu membentuk masa depannya sendiri.
Dari pengalaman-pengalaman inilah lahir gagasan Inclusive Nexus. Bukan sebagai slogan baru. Melainkan sebagai cara berpikir untuk menghubungkan berbagai tantangan dan berbagai solusi yang selama ini berjalan sendiri-sendiri.
Sebuah pendekatan yang melihat bahwa keadilan iklim, pembangunan ekonomi, hak asasi manusia, inovasi teknologi, tata kelola pemerintahan, dan inklusi sosial bukanlah agenda yang saling bersaing, tetapi saling memperkuat.
Tidak ada satu pun tantangan besar abad ke-21 yang dapat diselesaikan secara sektoral.
Karena itu, saya semakin percaya bahwa tantangan kita bukan sekadar membangun Artificial Intelligence, melainkan membangun Augmented Humanity, memastikan teknologi memperkuat kemampuan manusia untuk belajar, berkolaborasi, berinovasi, dan menyelesaikan persoalan bersama, bukan menggantikan peran kemanusiaan itu sendiri.
AI harus menjadi instrumen bagi Sustainable Humanity: membantu menghasilkan kebijakan yang lebih berbasis bukti, mempercepat inovasi sosial, menghadirkan teknologi bantu yang lebih terjangkau, memperkuat ketahanan masyarakat, dan memastikan bahwa transformasi digital berjalan seiring dengan keadilan sosial dan keberlanjutan lingkungan.
Saya percaya tantangan terbesar gerakan sosial ke depan bukan hanya mempertahankan ruang demokrasi. Kita juga harus memperluas imajinasi kolektif. Membangun kemampuan belajar. Berani meninggalkan pendekatan yang tidak lagi relevan. Membuka ruang kolaborasi yang berpihak pada kepentingan bersama dan sebelumnya tidak pernah kita bayangkan.
Menghubungkan ilmu pengetahuan, teknologi, kebijakan, investasi, seni, budaya, dan pengalaman masyarakat menjadi satu ekosistem perubahan.
Mungkin yang kita butuhkan hari ini bukan lebih banyak aktivis yang marah. Kita membutuhkan lebih banyak pembangun ekosistem.
Mereka yang mampu menghubungkan berbagai disiplin ilmu, sektor, komunitas, dan generasi menjadi kekuatan bersama. Karena masa depan tidak dibangun oleh satu organisasi.
Masa depan dibangun oleh jejaring yang terus belajar.
Di akhir wawancara singkat itu saya mengatakan satu kalimat yang hingga hari ini masih saya yakini.
“Tak ada kata pensiun bagi aktivis.”
Bagi saya, aktivisme bukanlah jabatan. Bukan pula profesi. Aktivisme adalah cara memandang kehidupan.
Selama masih ada ketidakadilan. Selama masih ada ruang untuk belajar. Selama masih ada masyarakat yang tertinggal. Selama masih ada harapan untuk memperbaiki keadaan.
Maka pekerjaan kita belum selesai.
Mungkin kita berganti organisasi. Mungkin kita berganti peran. Mungkin pendekatan kita berubah mengikuti dinamika zaman.
Tetapi panggilan untuk menghadirkan manfaat bagi sesama tidak pernah benar-benar berakhir.
Karena pada akhirnya, tantangan terbesar kita bukanlah menghadapi shrinking space. Melainkan memastikan bahwa cara berpikir kita tidak pernah ikut menyusut.
Sebab perubahan besar tidak pernah dimulai dari mereka yang memiliki semua jawaban. Perubahan selalu dimulai dari mereka yang berani memperluas cara pandang, membangun kolaborasi, dan terus belajar.
Dan mungkin, di tengah dunia yang terus berubah, itulah bentuk optimisme yang paling realistis.
–##–
* Farhan Helmy adalah Founder ASCODI Lab, DILANS Indonesia, Lead of Asia-Africa Inclusive Nexus Network (AAINN)
Leave A Comment