Bauran energi baru dan terbarukan di Indonesia terhadap kapasitas energi listrik di Indonesia berdasarkan laporan IRENA turun dari 14,6% megawatt (MW) pada 2023 menjadi 14,3% MW tahun lalu (2024).
Dua negara dengan bauran EBT terhadap kapasitas listrik yang setara dengan Indonesia di Asia adalah Singapura (13,4% MW di 2024) dan Maladewa (11,7% MW di 2024). Hanya ada 5 negara dengan bauran EBT terhadap kapasitas listrik di bawah kelompok tersebut yaitu Bangladesh (4% MW di 2024), Brunei Darussalam (0,4% MW di 2024), Hong Kong (3,4% MW di 2024), Timur Leste (0,2% MW di 2024) dan Turkeministan (0% MW di 2024). Hal ini berarti, bauran EBT terhadap kapasitas listrik di Indonesia menempati peringkat ke-23 (peringkat ke-8 paling bawah) dari 31 negara di Asia.
Data dari IRENA juga menunjukkan tren yang sama. Bauran EBT terhadap produksi listrik Indonesia, turun dari 19,6 %-gigawatt jam (GWh) di 2022 menjadi 18,5 % GWh di 2023. Indonesia menempati posisi ke-18 (13 terbawah) dari 31 negara.
Dari mana sumber energi terbarukan Indonesia berasal? Apa saja yang sudah dikembangkan dan berapa kapasitas dan produksinya?
Data IRENA memberikan gambaran lengkap kapasitas dan produksi energi terbarukan Indonesia yang masih jauh tertinggal dibanding negara-negara lain.
Kapasitas energi terbarukan Indonesia mengalami peningkatan dari 13.325 MW di 2023 menjadi 14.440 MW di 2024. Namun, walau kapasitas energi terbarukan meningkat, jumlah produksi energi terbarukan Indonesia justru menurun. IRENA mencatat jumlah produksi energi terbarukan Indonesia menurun dari 65.044 GWh di 2022 menjadi 64.721 GWh di 2023.
IRENA mengelompokkan sumber energi terbarukan menjadi 18 kategori. Dari 18 kategori tersebut Indonesia baru memanfaatkan 13 kategori yaitu: 1. Energi Hidro (Hydropower), 2. Energi Hidro Terbarukan (Renewable Hydropower) yang termasuk Pembangkit Gabungan (Mixed Plants), 3. Energi Angin (Wind Energy), 4. Energi Angin Darat (Onshore Wind Energy), 5. Energi Surya (Solar Energy), 6. Energi Surya PV (Solar PV), 7. Energi Biomassa (Bioenergy), 8. Biofuel Padat dan limbah terbarukan (Solid biofuels and renewable waste), 9. Energi Limbah Perkotaan Terbarukan (Renewable municipal waste), 10. POME/Energi Limbah Kelapa Sawit (Bagasse), 11. Energi Biofuel Padat lainnya (Other solid biofuels), 12. Energi Biogas (Biogas), dan 13. Energi Panas Bumi (Geothermal energy),
Sementara untuk 5 kategori energi terbarukan lainnya hanya dimiliki oleh beberapa negara Asia. Kategori tersebut adalah: 1. Penyimpanan Energi Murni yang Dipadatkan (Pure pumped storage). Di Asia Tenggara hanya dua negara yaitu Thailand dan Filipina yang memiliki sumber energi terbarukan ini; 2. Energi Laut (Marine energy) hanya China, Korea Utara, Korea Selatan dan Singapura yang memilikinya; 3. Energi Angin Lepas Pantai (Offshore Wind Energy) hanya China, China Taipei, Jepang, Korea Selatan dan Vietnam yang memilikinya; 4. Energi Surya Terkonsentrasi (Concentrated solar power) yang hanya dimiliki oleh China, India, Korea Selatan dan Thailand) serta 5. Energi Biofuel Cair (Liquid Biofuels) yang hanya dimiliki oleh Korea Selatan.
Redaksi Hijauku.com
Leave A Comment