Jaringan kriminal terorganisir di seluruh dunia terlibat dalam kejahatan ini. Memerangi kejahatan lingkungan memerlukan kesadaran publik yang lebih besar, kerja sama transnasional yang kuat, dan komitmen tanpa henti dari petugas dan lembaga penegak hukum.

Individu dan organisasi pelindung lingkungan Asia mendapatkan pengakuan atas kerja mereka mencegah kejahatan lingkungan dalam Asia Environmental Enforcement Awards (AEEA) atau Penghargaan Penegakan Lingkungan Asia ke-6, yang diselenggarakan secara virtual di Bangkok, 30 November 2021, oleh Program Lingkungan PBB (UNEP), Program Pembangunan PBB, Kantor PBB untuk Narkoba dan Kejahatan (UNODC), INTERPOL, Organisasi Kepabeanan Dunia dan Sekretariat Konvensi Perdagangan Internasional Spesies Fauna dan Flora Liar yang Terancam Punah (CITES).

Tahun ini, dari lebih dari 115 nominasi yang diajukan dari seluruh wilayah Asia, empat nominasi dalam tiga kategori: inovasi, kolaborasi, dan kepemimpinan gender dan pemberdayaan perempuan berhasil memperoleh penghargaan AEEA. Penghargaan ini mengakui kontribusi mereka terhadap penegakan hukum dan regulasi lingkungan yang efektif, khususnya yang berkaitan dengan perdagangan satwa liar ilegal.

Pemenang tahun 2021 dari 6th Asia Environmental Enforcement Awards adalah: Swayam Mallick, Ajay Kumar Sahoo, Ghanashyam Mahanta dan Sanjib Rout, Divisi Hutan Keonjhar, Departemen Hutan dan Lingkungan, Pemerintah Odisha (India) untuk Kategori: Inovasi.

Bahu membahu, tim yang terdiri dari 107 orang ini berhasil menyita 23 kendaraan mesin pengangkut tanah berat, 654 MT bijih besi dan bijih mangan dan menangkap 12 orang yang terlibat dalam penyelundupan mineral internasional. Mengandalkan teknologi inovatif seperti pemetaan lokasi rentan menggunakan GPS, citra satelit Google Earth, pemantauan patroli kaki berbasis ArcGIS, survei udara berbasis drone di kawasan hutan yang rentan, mereka berhasil menemukan, menjangkau, dan menyita bijih mineral ilegal serta menjebak para penjahat.

Untuk Kategori: Kepemimpinan Gender dan Pemberdayaan Perempuan, pemenangnya adalah Dr. Anna Wong, Direktur, Taman Nasional Singapura.

Dr. Anna Wong, Direktur Singapore National Parks Board atau Dewan Taman Nasional Singapura, telah mengabdikan hidupnya untuk memerangi perdagangan satwa liar ilegal selama bertahun-tahun. Dia mengoordinasikan berbagai operasi penegakan hukum yang diantaranya berhasil menyita rekor 37,5 ton sisik trenggiling dan 8,8 ton gading gajah pada tahun 2019. Pada Agustus 2020, dia memimpin penghancuran 9 ton gading gajah dengan lancar dan sukses, Kegiatan ini disiarkan langsung ke seluruh dunia selama empat hari. Kemampuan Dr. Wong untuk membuat keputusan penting saat mengumpulkan informasi, merencanakan, dan melaksanakan rencana operasi yang ketat diakui, sehingga membawanya ke posisinya saat ini di mana dia menginspirasi dan memberdayakan petugas penegak perempuan lainnya untuk memerangi kejahatan lingkungan.

Untuk Kategori: Kolaborasi, Taman Nasional Singapura, Bea Cukai Singapura, dan Biro Anti-Penyelundupan Bea Cukai China memperoleh penghargaan AEEA. Pada tahun 2021, Singapore National Park, Singapore Customs dan Anti-Smuggling Bureau of China Customs bekerja sama dalam operasi gabungan transnasional yang berujung pada penyitaan ornamen gajah seberat 7,8 kg. Setelah melakukan analisis DNA, spesies tersebut tampaknya terdaftar dalam CITES Appendix I. Keunikan dari operasi ini terletak pada kenyataan bahwa tim gabungan ini berhasil secara efektif mengungkap modus operandi kejahatan satwa liar baru selama pandemi COVID-19 yaitu melalui perdagangan online dan pos udara.

Divisi Penegakan Departemen Bea Cukai Thailand, Biro Anti-Penyelundupan Bea Cukai Huangpu (Cina), dan Departemen Anti-Penyelundupan dan Investigasi Bea Cukai Vietnam juga memperoleh penghargaan AEEA dalam Kategori: Kolaborasi.

Ketiga lembaga tersebut mengembangkan Operasi Mekong Dragon II khusus Asia yang mana pada akhir tahun 2020, Departemen Bea Cukai Thailand berhasil mencegat dua pengiriman yang berisi kayu bulat dan potongan tanaman yang diproses, Dalbergia, yang terdaftar dalam Lampiran I dan II CITES untuk dikirim ke China. Ketiga tim saling bekerja sama bertukar informasi, memeriksa, dan memverifikasi rincian pengiriman yang mengungkap penyelundupan tanaman substansial dari Vietnam di bawah deklarasi palsu dan izin CITES palsu. Berkat upaya terus-menerus dari tim ini, mereka berhasil menangkap 4 anggota geng kriminal dan menyita 29 ton tanaman selundupan ilegal.

“Para penerima penghargaan ini mewakili dedikasi ratusan laki-laki dan perempuan yang berhasil dalam penegakan hukum, karena hanya dengan komitmen dan tindakan kolektif kita dapat memerangi kejahatan lingkungan ini,” ujar Dechen Tsering, Direktur Regional UNEP dan Perwakilan untuk Asia dan Pasifik.

Redaksi Hijauku.com