Konferensi Perubahan Iklim atau yang lebih dikenal dengan nama Conference of Parties ke-26 (COP26) di Glasgow, Skotlandia berakhir setelah melewati tenggat dan diperpanjang selama satu hari. Tuntutan organisasi dan masyarakat sipil agar COP26 menghasilkan keputusan dan aksi yang ambisius untuk memangkas emisi gas rumah kaca tampaknya masih jauh dari harapan.

Janji-janji yang tidak mengikat, banyak dikeluarkan, seperti janji untuk mencegah deforestasi, walau kemudian disertai pernyataan yang menimbulkan kontradiksi oleh negara penandatangannya sendiri.

Namun penting untuk terus mencatat hasil perundingan perubahan iklim, terutama sebelum kata-kata yang diucapkan dan kalimat yang dituliskan tersebut terpenuhi. Apa saja kesepakatan hasil COP26? Berikut 12 “kesepakatan lemah” yang berhasil dibuat di COP26 Glasgow.

  1. Sebanyak 197 negara di Glasgow, Skotlandia, Sabtu kemarin, mengadopsi dokumen yang dikenal sebagai Pakta Iklim Glasgow atau Glasgow Climate Pact. Pakta Iklim Glasgow meminta 197 negara untuk melaporkan peningkatan ambisi iklim mereka tahun depan di COP27, di Mesir. Hasil ini menurut UNFCCC juga memperkuat kesepakatan global untuk mempercepat aksi iklim dalam dekade ini.
  2. COP26 juga mencatat sejumlah pengumuman yang menggembirakan. Salah satu yang terbesar adalah “Glasgow Leaders’ Declaration on Forest and Land Use” dimana 141 negara (per tanggal 12 November 2021), yang mewakili sekitar 90,94% hutan dunia, berjanji untuk menghentikan dan membalikkan deforestasi pada tahun 2030. Secara spesifik pada poin kedua deklarasi ini, para pemimpin dunia berjanji untuk: “Memfasilitasi kebijakan perdagangan dan pembangunan, secara internasional maupun domestik, yang mendorong pembangunan berkelanjutan, produksi dan konsumsi komoditas berkelanjutan, demi keuntungan bersama negara, dan yang tidak mendorong deforestasi dan degradasi lahan.” Implementasi deklarasi ini wajib terus dikawal seiring pernyataan kontroversial sejumlah pejabat negara terutama Indonesia yang secara eksplisit menyatakan pembangunan besar-besaran era Jokowi tidak akan berhenti atas nama emisi karbon atau atas nama deforestasi.
  3. Ada juga janji untuk mengurangi emisi metana, yang dipimpin oleh Amerika Serikat dan Uni Eropa, di mana lebih dari 100 negara sepakat untuk mengurangi emisi gas rumah kaca ini pada tahun 2030.
  4. Sementara itu, lebih dari 40 negara – termasuk pengguna batu bara utama seperti Polandia, Vietnam dan Chili – sepakat untuk beralih dari batu bara, salah satu penghasil emisi CO2 terbesar walau dengan tenggat waktu yang berbeda-beda.
  5. Dari sektor swasta, hampir 500 perusahaan jasa keuangan global setuju untuk “menyelaraskan” dana $130 triliun – sekitar 40 persen dari aset keuangan dunia – agar penggunaannya sejalan dengan tujuan yang ditetapkan dalam Persetujuan Paris, termasuk membatasi pemanasan global hingga 1,5 derajat Celsius.
  6. Juga, yang mengejutkan bagi banyak orang, Amerika Serikat dan China berjanji untuk meningkatkan kerja sama iklim dalam 10 tahun ke depan. Mereka memgeluarkan deklarasi bersama dan setuju untuk beraksi mengurangi emisi termasuk emisi metana, melakukan transisi ke energi bersih dan dekarbonisasi. Mereka juga menegaskan kembali komitmen mereka untuk menjaga target 1.5°C sesuai Persetujuan Paris bisa tercapai.
  7. Terkait transportasi hijau, lebih dari 100 pemangku kepentingan, termasuk negara, kota, negara bagian, dan perusahaan besar menandatangani Deklarasi Glasgow dimana mereka akan mengakhiri penjualan kendaraan dengan pembakaran internal (internal combustion engines) pada tahun 2035 di pasar utama, dan pada tahun 2040 di seluruh dunia. Setidaknya 13 negara juga berkomitmen untuk mengakhiri penjualan kendaraan berat berbahan bakar fosil pada tahun 2040.
  8. Komitmen yang ‘lebih kecil’ namun sama-sama menginspirasi datang dari 11 negara yang menciptakan “Beyond Oil and Gas Alliance (BOGA)”. Irlandia, Prancis, Denmark, dan Kosta Rika, serta beberapa pemerintah daerah, meluncurkan aliansi pertama untuk menetapkan batas akhir (deadline) kegiatan eksplorasi dan ekstraksi minyak dan gas nasional.
  9. Terkait adaptasi perubahan iklim, para pihak membentuk program kerja adaptasi global, yang akan mengidentifikasi kebutuhan dan solusi kolektif untuk krisis iklim yang telah merugikan banyak negara. Caranya adalah dengan memperkuat “The Santiago Network” guna mengatasi dan mengelola klausul kerugian dan kerusakan atau loss and damage.
  10. Masalah pendanaan dibahas secara ekstensif sepanjang COP26 dan telah tercipta konsensus perlunya untuk terus meningkatkan dukungan pada negara-negara berkembang. Seruan untuk setidaknya menggandakan pendanaan untuk adaptasi perubahan iklim disambut baik oleh para pihak. Komitmen dana mitigasi perubahan iklim meningkat dari $129 juta di COP24 di Katowice, Polandia menjadi $356 juta di COP26. Walau target pendanaan belum tercapai, COP26 juga menegaskan kembali kewajiban negara maju untuk memenuhi janji mereka memberikan bantuan $100 miliar setiap tahun ke negara berkembang.
  11. Terkait mitigasi, COP26 mengidentifikasi dengan jelas kesenjangan pengurangan emisi GRK yang belum tercapai dan meminta para pihak bersama-sama bekerja mengurangi kesenjangan itu sehingga bisa membatasi kenaikan suhu rata-rata hingga 1.5°C. Para pihak juga didorong untuk memperkuat aksi pengurangan emisi mereka dan menyelaraskan janji NDC mereka dengan Persetujuan Paris.
  12. Terakhir, secara teknis, COP26 berhasil menyepakati “Paris Rulebook” yang menjadi dasar pelaksanaan Persetujuan Paris. Di dalamnya tercakup norma-norma mendasar terkait Article 6 atau Pasal 6 tentang pasar karbon, yang akan membuat Perjanjian Paris beroperasi penuh. Article 6 memberikan kepastian dan prediktabilitas – baik pendekatan pasar maupun non-pasar – dalam mendukung aksi mitigasi serta adaptasi perubahan iklim. Negosiasi terkait Kerangka Transparansi yang Disempurnakan atau “Enhanced Transparency Framework” juga telah diselesaikan, sehingga negara bisa memiliki panduan (tabel dan format) untuk memperhitungkan dan melaporkan target dan emisi.

Presiden COP26, Alok Sharma, menyatakan bahwa COP26 berhasil menjaga target 1.5°C tetap hidup walaupun “denyut nadinya lemah”. “Target itu akan tetap hidup jika kita menepati janji kita. Jika kita menerjemahkan komitmen kita menjadi aksi secara cepat. Jika kita memenuhi harapan yang ditetapkan dalam Pakta Iklim Glasgow ini untuk meningkatkan ambisi hingga 2030 dan seterusnya. Untuk menutup celah besar yang tersisa,” ujarnya kepada para delegasi.

Redaksi Hijauku.com