Glasgow, 4 November 2021 – Melindungi dan memulihkan lahan gambut dapat mengurangi emisi gas rumah kaca global hingga 800 juta metrik ton per tahun – setara dengan emisi Jerman dalam satu tahun. Hal ini terungkap dalam laporan terbaru yang dirilis hari ini oleh UN Environment Programme (UNEP) dan Global Peatlands Initiative (GPI).

Laporan berjudul “Economics of Peatlands Conservation, Restoration and Sustainable Management” yang disusun oleh Edward Barbier dan Joanne Burgess dari Colorado State University ini menyebutkan, penyebab utama salah urus lahan gambut adalah kurangnya valuasi (undervaluation) dan investasi (underinvestment) di lahan gambut.

Padahal, walau luas lahan gambut hanya mencapai 3% dari luas permukaan lahan dunia, lahan gambut menyimpan karbon setidaknya dua kali lebih banyak dibanding seluruh hutan di dunia. Mereka juga merupakan rumah penting bagi banyak spesies endemik dan terancam punah. Laporan ini merinci peluang ekonomi dan lingkungan untuk meningkatkan investasi publik dan swasta dalam perlindungan lahan gambut.

“Investasi di lahan gambut menghasilkan tiga keuntungan, bagi manusia, iklim, dan keanekaragaman hayati,” ujar Profesor Joanne Burgess, salah satu penulis laporan ini. “Lahan gambut perlu menjadi pusat investasi global untuk solusi berbasis alam, sebagai bagian dari strategi global yang mengakhiri kekurangan valuasi dan pendanaan bagi ekosistem penting ini.”

Lahan gambut memberikan manfaat ekologis, ekonomi, dan budaya bagi masyarakat sekitar, termasuk mempertahankan pasokan air dan mengendalikan polusi dan sedimentasi. Lahan gambut yang luasnya mencapai lebih dari 2.300 km2 menyediakan air minum untuk 71,4 juta orang di seluruh dunia. Lahan gambut juga memasok sekitar 85% air minum masyarakat di Irlandia dan Inggris.

Dianna Kopansky, Koordinator Global untuk Gambut di UNEP menekankan, sebanyak 15% lahan gambut telah dikeringkan dikeringkan untuk ladang penggembalaan, pertanian, kehutanan, dan pertambangan. Jika tidak terkendali, konversi lahan gambut di kawasan tropis bisa berlipat ganda, menjadi sekitar 300.000 km2 pada tahun 2050.

Lahan gambut yang dikeringkan menurut Dianna sangat rentan memicu kebakaran hutan yang mengeluarkan gas rumah kaca yang memicu pemanasan global dan menghasilkan polutan beracun. Oksidisasi gambut akibat kebakaran menyumbang 5% dari semua emisi yang dihasilkan manusia. Diperlukan pembasahan ulang 40% dari lahan gambut yang dikeringkan jika ingin mengubahnya menjadi penyerap karbon global.

Investasi tahunan yang dibutuhkan untuk pembasahan dan restorasi lahan gambut mencapai $28,3 miliar dan $11,7 miliar. Restorasi lahan gambut akan memberikan manfaat ekonomi yang besar. Aksi restorasi lahan gambut tropis saja misalnya bisa mengurangi emisi gas rumah kaca global sebesar 800 juta metrik ton per tahun – setara dengan total emisi Jerman atau 3% emisi global.

Laporan ini merekomendasikan pemerintah untuk menghapus subsidi dan dukungan keuangan lainnya untuk pertanian, kehutanan, pertambangan, dan kegiatan ekonomi lainnya yang mendegradasi atau mengubah lahan gambut. Dana yang dihasilkan atau dihemat dari penghapusan subsidi, instrumen berbasis pasar dan reformasi lainnya kemudian direalokasikan untuk konservasi, restorasi dan pengelolaan lahan gambut secara berkelanjutan.

Global Peatlands Initiative adalah kemitraan internasional yang dipimpin oleh UNEP untuk melindungi dan melestarikan lahan gambut sebagai cadangan karbon organik terestrial terbesar di dunia dan untuk mencegahnya terlepas ke atmosfer. Inisiatif ini diluncurkan pada COP UNFCCC di Marrakech, Maroko, pada akhir 2016.

Redaksi Hijauku.com