Jakarta, 9 Juni 2021 – Warga Parbulu, Sumatera Selatan, mengaku kecewa setelah melakukan audiensi (8/6) dengan Bareskrim Mabes Polri. Mereka ditemui oleh Direktur Tipidter Bareskrim Polri Brigjen Pol Pipit Rismanto, Kombes Dr Teddy JS Marbun, SH, M.Hum, Kompol Darman Suhaendi, SH, M.H, Iptu Wahyu Hidayat SH, di Bareskrim Mabes Polri. Pdt Faber Manurung yang sebagai wakil warga Parbulu menyebut tidak ada hasil dari pertemuan itu.

Pendeta Faber Manurung dan warga Parbulu, bersama LSM Bhintara 92 dan Sola Mercy Ministry didampingi dengan LPSK dan Persatuan Gereja-Gereja Indonesia, mendatangi Bareskrim Mabes Polri untuk melaporkan soal pencemaran limbah di desanya oleh PT Toba Pulp Lestari milik Sukanto Tanoto.

“Saat ini, tanah, air dan udara di desa Parbulu sudah sangat tercemar limbah PT Toba Pulp Lestari. Makanya kami minta Bareskrim untuk selidiki perusahaan itu. Tapi pihak Bareskrim malah bilang laboratorium mereka nggak bisa dipakai karena rusak. Setingkat Bareskrim Mabes Polri aja seperti itu. Kemana lagi kami harus melapor? Berapa lama lagi penderitaan rakyat harus dibiarkan, siapa yang harus menjamin dan bertanggung jawab atas kesehatan dan nyawa yang menjadi taruhannya?” kata Pdt Faber Manurung.

Pdt Faber Manurung dan warga Parbulu juga menggalang dukungan melalui petisi di Change.org agar Sukanto Tanoto sebagai pemilik PT Toba Pulp Lestari segera mengatasi masalah limbahnya. Petisi #Tindak Limbah Berbahaya itu hingga kini sudah didukung lebih dari 5.000 orang.

Salah satu pendukung petisi, Tommy Sihombing berkomentar, “Pencemaran lingkungan Danau Toba akibat limbah TPL sudah tidak dapat ditolerir, terlebih program Danau Toba sebagai super prioritas wisata.

Harry Aditya, pendukung petisi lainnya juga mengatakan, “Jangan apa-apa demi infrastruktur dan pembangunan tetapi menghancurkan adat sosial dan lingkungan. Keberlangsungan alam semesta harus lebih diutamakan ketimbang ekonomis.”

Juga dari warga sekitar PT Toba Pulp Lestari, Akbar Malik Abdurrahman, saya orang batak Toba, kampung saya disana. Sedih rasanya mendengar berita semacam ini karena PT tersebut tak begitu jauh dri kampung halaman saya. Apalagi mendengar kabar bahwa PT tersebut melakukan perampasan lahan, perusakan lingkungan, perampasan hak bekerja. Jelas saya tidak terima dan sangat setuju dengan gerakan ini agar perusahaan tersebut segera membenahi masalah ini.

Pdt Faber Manurung menuturkan kalau masalah limbah ini menambah sederetan masalah yang melibatkan PT Toba Pulp Lestari. Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Tano Batak, Kelompok Studi dan Pengembangan Prakarsa Masyarakat (KSPPM), Jikalahari, sebelumnya membuat kajian tentang konflik agraria dengan masyarakat adat di konsesi PT Toba Pulp Lestari.

“Saya berharap PT Toba Pulp Lestari segera ditindak dan ditertibkan. Karena banyak menimbulkan kerugian. Anak-anak dan keluarga kami yang lain juga banyak yang sakit kulit karena limbah mereka. Kami akan terus bersuara dan bergerak sampai ada perubahan, demi anak cucu warga batak Toba,” tutup Pdt Faber Manurung.

“Untuk mengetahui jumlah terakhir penandatangan petisi #TindakLimbahBebahayai klik di sini

===

Kontak Media:

Pendeta Faber Manurung – Warga Parbulu Korban PT Toba Pulp Lestari – 085218639189

Novaeny Wulandari – Campaigner Change.org – 082129948646