Gas rumah kaca identik dengan karbon dioksida (CO2). CO2 adalah gas rumah kaca yang berumur panjang di atmosfer. Gas ini mendominasi komposisi gas rumah kaca (GRK) global. Di posisi kedua ada metana (CH4) yang juga layak mendapatkan perhatian utama. Sebagai polutan iklim, metana disebut sebagai gas rumah kaca jangka pendek karena hanya bersirkulasi di atmosfer selama kira-kira satu dekade (10 tahun).

Walau hanya bersirkulasi dalam jangka pendek, metana adalah gas rumah kaca yang berbahaya. Metana memiliki efek pemanasan global puluhan kali lipat lebih kuat dibanding CO2. Mengurangi emisi metana yang disebabkan oleh aktivitas manusia adalah salah satu strategi hemat biaya untuk dengan cepat mengurangi laju pemanasan global, untuk membatasi kenaikan suhu bumi di bawah 1,5°C. Temuan ini dilaporkan dalam analisis terbaru berjudul “Global Methane Assessment” yang diterbitkan oleh United Nations Environment Programme (UNEP), 6 Mei 2021. Saat ini, konsentrasi gas metana di atmosfer sudah berlipat ganda, naik dua kali lipat dibanding zaman pra-industri.

Analisis UNEP menyimpulkan, dunia bisa mengurangi emisi metana sebanyak 45 persen, atau 180 juta ton setahun (Mt/tahun) pada tahun 2030. Upaya ini akan mencegah hampir 0,3°C pemanasan global pada tahun 2040-an dan melengkapi semua upaya mitigasi perubahan iklim jangka panjang.

Manfaat lain, aksi pemangkasan emisi metana diproyeksikan mencegah 255.000 kematian dini, 775.000 kunjungan rumah sakit, 73 miliar kehilangan jam kerja karena panas ekstrim, dan 26 juta ton kehilangan panen secara global, setiap tahun.

Bagaimana cara melakukannya? Menurut laporan UNEP, lebih dari separuh emisi metana global berasal dari aktivitas manusia di tiga sektor: bahan bakar fosil (35%), limbah (20%) dan pertanian (40%).

Di sektor bahan bakar fosil, ekstraksi minyak dan gas, pemrosesan dan distribusi menyumbang emisi metana sebesar 23%, sementara pertambangan batu bara menyumbang 12% emisi metana global. Di sektor persampahan, tempat pembuangan sampah dan air limbah menyumbang sekitar 20% emisi metana hasil aktivitas manusia. Sementara di sektor pertanian, emisi dari kotoran dan fermentasi ternak menyumbang sekitar 32%, sementara penanaman padi 8% dari emisi antropogenik global

Potensi aksi pengurangan emisi metana ini bisa dilakukan oleh para pemangku kepentingan mulai dari perusahaan hingga individu.

Di sektor bahan bakar fosil, perusahaan minyak dan gas bisa mendeteksi dan memperbaiki kebocoran gas metana di sektor hulu dan hilir, memulihkan dan memanfaatkan kembali gas buang metana, meningkatkan kontrol atas lepasnya emisi metana yang tidak diinginkan dari produksi minyak, serta mengelola emisi metana di tambang batubara dan gas alam.

Di sektor persampahan, perusahaan, komunitas bahkan individu bisa terlibat dalam pengelolaan sampah padat, misalnya dengan menerapkan prinsip daur ulang, mencegah sampah basah masuk ke tempat pembuangan sampah akhir dengan mengubahnya menjadi kompos dan masih banyak aksi lain. Aksi selanjutnya adalah dengan mengolah air limbah dari industri dan perumahan, ditingkatkan ke pengolahan anaerobik sekunder/tersier untuk menghasilkan biogas dan dilanjutkan dengan pengolahan aerobik.

Sementara di sektor pertanian atau peternakan, aksi meningkatkan tata kelola peternakan dan kesehatan hewan ternak, termasuk mengelola kotoran ternak menjadi biogas, mampu mengurangi emisi metana secara signifikan. Di sektor pertanian tanaman padi, aksi memperbaiki tata kelola irigasi/air dan mencegah pembakaran terbuka limbah pertanian bisa menyumbang pengurangan emisi GRK. Aksi individu beralih ke pangan nabati atau plant based diet dan mengurangi limbah makanan atau makanan yang terbuang juga bisa menyumbang aksi pengurangan emisi GRK.

Tindakan lain yang mendukung upaya pengurangan emisi metana – sebagaimana aksi pengurangan emisi GRK yang lain – adalah mempercepat transisi ke energi terbarukan dan meningkatkan aksi efisiensi energi di seluruh dunia. Berbagai cara tersedia untuk mencapai tujuan tersebut, misalnya melalui penetapan pajak emisi. Hasil kajian UNEP menemukan, pajak emisi metana mulai dari US$800 per ton mampu mengurangi emisi metana sebanyak 75 persen di 2050.

Aksi tambahan lain yang harus terus menerus dilakukan adalah penyadartahuan dan pendidikan kepada masyarakat tentang perubahan iklim dan pemanasan global, faktor pemicunya dan solusi untuk mencegah dan mengurangi emisi GRK.
Semua aksi ini harus berjalan simultan sehingga aksi mengatasi iklim tidak menjadi aksi sepihak – tidak mendapat dukungan dari masyarakat – akibat kurangnya pengetahuan dan pemahaman mengenai krisis iklim yang saat ini melanda dunia. Jutaan bahkan miliaran peluang aksi tersedia. Saatnya berbuat baik untuk bumi dan generasi mendatang.

Redaksi Hijauku.com