Solusi berbasis alam (nature-based solutions) digadang-gadang sebagai solusi paripurna untuk mencegah kerusakan lingkungan dan krisis iklim. Solusi berbasis alam (SBA) ini dicandra mampu mengurangi kehilangan keanekaragaman hayati dan mendorong pembangunan secara berkelanjutan.

Namun sebuah studi terbaru dari Jurnal Global Change Biology mewanti-wanti bahwa solusi ini bisa menjadi ajang pencitraan dan berdampak buruk jika tidak diterapkan secara seksama dan hati-hati.

Semua dituangkan dalam laporan berjudul Getting the message right on nature- based solutions to climate change oleh tim peneliti yang dipimpin oleh Nathalie Seddon dan beranggotakan Alison Smith, Alexandre Chausson, Pete Smith, Cécile Girardin, Isabel Key, Jo House, Shilpi Srivastava dan Beth Turner.

SBA bisa berdampak signifikan bagi lingkungan dan masyarakat jika dirancang secara baik. Akhir-akhir ini, dunia banyak menyoroti manfaat tanam pohon sebagai upaya menyerap karbon.

Namun tim peneliti khawatir, SBA – terutama tanam pohon yang seringkali tidak jelas menkanismenya – ini akan mengalihkan perhatian dari pentingnya peralihan dari energi kotor/energi fosil ke energi bersih dan upaya melindungi ekosistem yang masih utuh tersisa.

Tim peneliti juga khawatir atas ide perluasan wilayah hutan yang dilabeli sebagai solusi mitigasi perubahan iklim namun merusak ekosistem yang kaya keanekaragaman hayati yang masih asli dan kaya akan simpanan karbon. Belum lagi masalah hak-hak masyarakat adat dan masyarakat lokal yang sering dilanggar.

Untuk menghindari SBA dijadikan jargon dan pencitraan perusahaan maupun politisi, tim peneliti memberikan rekomendasi agar pelaksanaan SBA tidak salah jalan. Tim peneliti mengingatkan 4 prinsip utama dalam mendesain SBA agar mampu mengatasi masalah krisis lingkungan dan krisis iklim secara paripurna.

Prinsip pertama adalah, SBA bukanlah solusi pengganti dari solusi peralihan dari energi fosil ke energi bersih. Peralihan ke energi baru dan terbarukan yang lebih bersih dan ramah lingkungan harus terus dipercepat.

Prinsip kedua, solusi berbasis alam tidak hanya terkait dengan hutan, namun juga ekosistem lain di daratan dan lautan yang perlu perhatian yang setara.

Prinsip ketiga, SBA harus melibatkan secara penuh masyarakat adat dan masyarakat lokal untuk menjamin hak-hak ekologis dan budaya mereka dihormati dan terpenuhi.

Prinsip keempat, SBA harus dirancang secara detil dengan hasil dan manfaat yang bisa diukur terutama manfaat terhadap kelestarian keanekaragaman hayati. Program yang tidak terukur, rentan korupsi dan pencitraan.

Upaya perbaikan lingkungan sudah sangat mendesak seiring dengan semakin maraknya bencana di Tanah Air. Upaya ini harus dikawal oleh semua pemangku kepentingan: para pembuat kebijakan, praktisi dan peneliti harus terus bersinergi, sementara masyarakat sipil harus terus mengawasi untuk mengembalikan kelestarian dan keanekaragaman hayati Indonesia.

Redaksi Hijauku.com