Four Twenty Seven (427) mengembangkan metodologi baru guna menilai risiko iklim berdasarkan populasi, PDB, daya beli dan luas wilayah yang terpapar banjir, risiko panas, kebakaran, topan, taifun, kenaikan permukaan laut serta krisis air.

Kondisi iklim yang semakin parah menimbulkan tekanan yang semakin besar pada populasi dan ekonomi dunia. Implikasinya besar terhadap pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan, produksi, tenaga kerja, dan produktivitas, dengan potensi dampak material pada risiko peringkat kredit negara.

Sampai saat ini, belum ada analisis terperinci yang dapat dibandingkan secara global untuk memetakan paparan risiko fisik dari krisis iklim di wilayah-wilayah dengan penduduk dan ekonomi yang paling produktif di berbagai negara.

Untuk itu, Four Twenty Seven memberikan analisis terperinci atas risiko-risiko krisis iklim utama di berbagai negara. 427 menghitung luas wilayah pertanian, populasi di masa datang, PDB dan daya beli masyarakat yang terdampak oleh krisis perubahan iklim.

Data risiko iklim baru ini dapat membantu memahami secara lebih mendalam dampak krisis iklim terhadap suatu wilayah dan memetakan wilayah-wilayah mana yang paling memerlukan pendanaan untuk adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.

Four Twenty Seven mengembangkan metodologi baru untuk menilai risiko iklim berdasarkan analisis populasi, Produk Domestik Bruto (PDB), daya beli, luas wilayah pertanian yang terpapar banjir, risiko panas, topan, taifun, kenaikan permukaan laut, krisis air serta kebakaran.

Hasilnya, 427 memproyeksikan, pada 2040, jumlah penduduk yang terdampak banjir yang merusak akan meningkat dari 2,2 miliar menjadi 3,6 miliar jiwa atau naik dari 28% menjadi 41% dari populasi global. Nilai produk domestik bruto yang terdampak/terekspos oleh banjir mencapai $78 triliun, setara dengan sekitar 57% dari PDB dunia.

Lebih lanjut, 427 menemukan, pada 2040, lebih dari 25% penduduk dunia akan hidup di wilayah dengan kondisi suhu yang ekstrem dan terus naik. Hal ini berimplikasi negatif bagi kesehatan, produktivitas tenaga kerja, dan pertanian. Wilayah pertanian di Amerika Latin, 80-100% akan mengalami peningkatan tekanan kenaikan suhu bumi pada tahun 2040.

Pada tahun 2040, 427 memperkirakan lebih dari sepertiga wilayah pertanian saat ini akan mengalami peningkatan risiko krisis air. Di Afrika, lebih dari 125 juta orang dan lebih dari 35 juta hektar lahan pertanian akan menghadapi tekanan kekeringan yang terus meningkat, mengancam keamanan pangan regional. Kondisi kekeringan ekstrem ini juga akan meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan.

Dan yang lebih memperihatinkan lagi, lebih dari separuh penduduk di negara-negara kepulauan kecil, akan terpapar risiko siklon/puting beliung dan banjir pesisir yang diperburuk oleh kenaikan permukaan laut. Nilai produk domestik bruto yang terdampak angin topan dan taifun di Amerika Serikat dan China saja, akan mencapai lebih dari $10 triliun di 2040 atau sepuluh kali lipat nilai PDB Indonesia pada 2018.

Redaksi Hijauku.com