Oleh: Stella Yovita Arya Puteri *

Bersama Badan Restorasi Gambut (BRG), Lembaga Kemitraan – the Partnership for Governance Reform mengajak petani menerapkan pengelolaan lahan tanpa bakar (PLTB) melalui program Desa Peduli Gambut (DPG). Di Provinsi Sumatera Selatan, salah satu provinsi sasaran program, terdapat 195 petani dari 11 desa yang telah memanfaatkan lahan gambut tanpa membakar.

Dimulai dari penyelenggaraan Kebun Pangan Mandiri (KPM) yang dikelola kelompok masyarakat (pokmas), seluruh petani belajar teknik budidaya organik yang ramah lingkungan dalam rangka alternatif revitalisasi ekonomi dan pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat. Dengan budidaya yang ramah lingkungan, para petani tidak hanya melestarikan lahan gambut dengan bijak, tetapi juga dapat menekan biaya produksi dan perawatan tanaman, sekaligus memenuhi kebutuhan pangan keluarga, bahkan mengurangi sampah rumah tangga sebagai bahan pupuk organik.

Upaya masyarakat menjaga KPM dengan pendekatan PLTB adalah sebuah tantangan. Metode ini merupakan hal yang baru bagi para petani. Dengan pemahaman yang terbatas terkait teknik budidaya bertani yang alami dan ramah lingkungan, para petani juga berperang melawan serangan hama dan ketidakpastian musim, ditambah lagi karakter tanah gambut yang sering tidak bisa ditebak. Maka dari itu, masyarakat mengembangkan inisiatif untuk membudidayakan perkebunan di dalam desa sebagai alternatif beradaptasi mereka. Tanaman palawija dan hortikultura seperti padi, jagung, singkong, buncis, dan beragam sayur lainnya merupakan pilihan tanam yang menjadi prioritas pilihan karena waktu panennya yang memakan waktu cenderung lebih singkat. Penjualan hasil panen pun merambah sampai ke desa-desa tetangga.

Setelah “Beras Gambut”, Datang Hasil Kebun

Di salah satu dari 11 desa di Sumatera Selatan, tepatnya Desa Rantau Lurus, pokmasnya kini terkenal rajin mengembangkan hasil pertanian dan juga perkebunan sayur dan buah. Salah satu produk unggulan desa adalah beras hingga terkenal disebut “Beras Gambut” sebagai produk hasil tanah gambut ini. Pokmas yang diberi nama “Paguyuban Lumbung Pangan” ini berinisiatif membangun kesadaran masyarakat untuk mengembangkan perkebunan tani sebagai pelengkap “beras gambut” dengan mempraktikkan KPM. Perkebunan dibudidaya dengan mengunakan bahan rendah kimia untuk mengembalikan unsur hara pada lahan, sekaligus menjadi alternatif untuk meningkatkan perekonomian masyarakat desa.

Keterangan Foto: Perempuan petani Desa Rantau Lurus memanen hasil kebun. Dokumentasi: Kemitraan

Kegiatan-kegiatan KPM dilakukan dengan budidaya beragam tanaman di atas lahan percontohan dan replikasi seluas 20 ribu m2. Para petani menanam sayur mayur berupa cabai, kangkung, kacang panjang, buncis dan daun bawang, serta buah-buahan seperti semangka dan tomat. Dengan penerapan ini, petani tidak hanya memperluas pasar, tapi juga dapat memenuhi kebutuhan pangan rumah tangga.

Sekolah Lapang sebagai Sarana Belajar Petani

Lain kisahnya di Desa Simpang Tiga Abadi. Pokmas desa ini mengelola lahan percontohan seluas 20 ribu m2 tanpa membakar dengan memanfaatkan lahan gambut sisa  sebagai tambak ikan dan kebun pertanian. Ada dua pokmas yaitu Pokmas Jaya Sentosa dan Pokmas Bintang Ratu. Kader desa bernama Achmad Soleh menjelaskan bahwa kedua pokmas ini berbagi tugas.

“Pokmas Jaya Sentosa terdiri dari bapak-bapak yang aktif membudidayakan ikan di area pertambakan sementara Pokmas Bintang Ratu terdiri dari ibu-ibu yang menanam tumbuhan palawija dan sayuran,” kata Achmad.

Lahan gambut dimanfaatkan warganya untuk memenuhi kebutuhan pangan dan gizi masyarakat, sekaligus memasarkan kelebihannya sebagai sumber penghasilan alternatif. Hasil tambak diolah dan dikemas untuk diperdagangkan ke luar desa dengan sistem penjualanan offline maupun online.

Keterangan Foto: Produk olahan hasil tambak Desa Simpang Tiga Abadi, bandeng presto, siap dipasarkan. Dokumentasi: Kemitraan

Pembentukan pokmas yang diinisiasi Kemitraan pada Maret 2018 itu disempurnakan dengan penyelenggaraan sekolah lapang tempat masyarakat mendapat banyak pengetahuan baru yang bermanfaat. Pembelajaran terkait pengolahan produk tani di lahan gambut diakui Achmad paling berpengaruh di masyarakat. Keterlibatan para petani dalam program DPG menyadarkan mereka untuk tidak mengelola lahan dengan membakar.

“Sebelum turut serta dalam program DPG, petani masih membakar lahan, karena tidak paham kerugian-kerugian dari pembakaran lahan. Sekarang kami sudah mengelola lahan tanpa membakar. Semua ilmu yang kami dapat dari sekolah lapang masih kami terapkan hingga sekarang. Manfaatnya pun masih kami rasakan, baik untuk mendukung ketersediaan pangan maupun tambahan pendapatan,” ungkap Achmad.

Upaya ini dipraktikkan para petani untuk beradaptasi dengan tantangan bertani di lahan gambut dan perubahan iklim. Mulai dari curah hujan yang tinggi, banjir yang merendam ladang pertanian, kemarau panjang yang menyebabkan kekeringan, hingga hama tanaman yang merajalela dan harga jual yang cenderung rendah. Untuk terus berkembang, para petani tidak berhenti berinisiatif dan terus menerapkan praktik baik yang mereka dapatkan dari sekolah lapang.

Dukungan Pemerintah Desa

Desa Rantau Lurus dan Desa Simpang Tiga Abadi menjadi bukti nyata bahwa pertanian di lahan gambut sangat mungkin dilakukan tanpa membakar dan merusak ekosistem. KPM menjadi salah satu solusi terbaik untuk mengembalikan perilaku petani menuju pola bertani alami dan ramah lingkungan. Dengan modal yang relatif lebih kecil dan cara yang sederhana, hasilnya dapat mencukupi kebutuh pangan harian dan kelebihannya dapat dipasarkan sebagai alternatif sumber penghasilan. Masyarakat pun belajar berinisiatif mengembangkan dan memanfaatkan sumber daya alam dan lahan yang ada di sekitar tempat tinggalnya.

Untuk menyempurnakan semangat masyarakat, dengan dorongan dari program DPG dan inisiatif warga, pemerintah desa berkomitmen menjamin keberlanjutan dan pengembangan KPM dengan mengintegrasikan kegiatan pertanian alami ke dalam perencanaan desa. Konkretnya, pemerintah desa di 11 desa sasaran program telah mengalokasikan anggaran dana desa yang tercantum dalam RKPDes untuk mengembangkan pola bertani alami. Tercatat lebih dari 50 juta rupiah telah dianggarkan pada 2019 lalu dan lebih dari dua kali lipatnya dialokasikan untuk kegiatan pertanian ramah lingkungan pada 2020 ini.

Sebagai alat kontrol, program DPG juga mendampingi seluruh desa sasaran dalam penyelenggaraan peraturan desa khusus yang mengatur warga desa untuk tidak membakar lahan dengan tujuan apapun, melalui Peraturan Desa Pemeliharaan Pelestarian Ekosistem Gambut (PPEG). Dituturkan Amir Faisal, Koordinator Provinsi Program DPG Sumatera Selatan, bahwa perdes PPEG mengatur perilaku masyarakat dan siapapun yang melanggar dikenakan denda.

Semoga semangat masyarakat dan pemerintah, serta manfaat baik dari praktik pertanian alami ini tidak hanya meningkatkan kualitas hidup para petani dan keluarganya di 11 desa saja, tetapi dapat direplikasi di lebih banyak lagi daerah. Maju terus, petani Indonesia!

–##–

*Stella Yovita Arya Puteri adalah Media Engagement Consultant di Program Desa Peduli Gambut Kemitraan – The Partnership for Governance Reform