Beralih ke energi bersih saja tidak cukup, sektor pengguna energi juga harus beralih ke teknologi yang ramah lingkungan guna mencapai kordisi “net-zero emissions” – dimana emisi yang dikeluarkan sama dengan emisi yang diserap – pada 2050. Sektor tersebut mencakup properti, transportasi dan industri.

Energi bersih hanya menyumbang sepertiga upaya mencapai “net-zero emissions”. Sebanyak 55% emisi CO2 di sistem energi berasal dari ketiga industri tersebut.

Hal ini disampaikan oleh International Energy Agency (IEA) dalam laporan terbarunya berjudul Energy Technology Perspectives 2020 (ETP 2020) yang dirilis hari ini, 10 September 2020.

Laporan ini menemukan, sektor energi dan industri berat saat ini memproduksi 60% emisi dari infrastruktur energi. Sumbangan tersebut akan melonjak hingga mendekati 100% di 2050 jika tidak ada aksi untuk mengontrol emisi.

IEA menyatakan diperlukan dukungan teknologi seperti hidrogen dan penyerapan carbon atau “carbon capture” sesegera mungkin untuk mencegah melonjaknya emisi. Hal ini terkait dengan keputusan, kapan harus berinvestasi guna mencegah lonjakan emisi hingga 40% dari infrastruktur energi yang ada saat ini.

Dalam skenario IEA, hidrogen akan berperan penting membantu dunia mencapai kondisi “net-zero emissions”. Hidrogen adalah jembatan penghubung antara sektor energi dan industri. Kebutuhan energi untuk memproduksi hidrogen akan melonjak dari 0,2 Gigawatts tahun ini menjadi 3300 Gigawatts di 2070 – dua kali lipat konsumsi energi China saat ini.

Untuk itu diperlukan perpaduan dari berbagai macam teknologi energi hijau seperti “carbon capture”, bahan bakar sintetis, bioenergi dan sebagainya untuk menggantikan sumber energi berbahan bakar fosil.

IEA menegaskan, guna memenuhi kebutuhan energi yang sangat besar tersebut, kapasitas energi terbarukan harus naik rata-rata empat kali lipat per tahun dari rekor kapasitas di 2019. Dengan langkah ini, kondisi “net-zero emissions” diramalkan akan bisa tercapai di 2050.

Pemerintah berperan penting dalam menciptakan stimulus ekonomi yang tepat. Pandemi Covid-19 memberikan kesempatan yang mungkin tak akan terulang untuk berinvestasi mendukung energi bersih guna mengatasi krisis iklim.

Redaksi Hijauku.com