Deforestation in Central Kalimantan - CIFORToolkit akan memudahkan penyebarluasan adopsi pendekatan HCS (High Carbon Stock / Stok Karbon Tinggi)

Singapura, 2 April 2015 – Perusahaan besar dan sejumlah LSM termasuk Golden Agri-Resources, Asia Pulp and Paper, Wilmar International Limited, Greenpeace, Agropalma, WWF, The Forest Peoples Programme, Rainforest Action Network, Unilever dan TFT hari ini mendukung publikasi toolkit versi pertama yang memberi panduan praktis bagi perusahaan produsen komoditas untuk bagaimana mengindentifikasi hutan tropis untuk kepentingan konservasi dan lahan yang terdegradasi yang berpotensi dalam pengembangan perkebunan.

Pendekatan HCS dikembangkan untuk membantu perusahaan-perusahaan mengimplementasikan komitmennya untuk mengakhiri deforestasi di rantai pasokan mereka. Toolkit menyediakan panduan bagi produsen bagaimana mengidentifikasi hutan-hutan HCS dan mengintegrasikannya dengan pendekatan tata ruang seperti kawasan bernilai konservasi tinggi (HCV), perlindungan gambut dan menghargai hak masyarakat adat dan lokal atas tanah mereka.

Toolkit telah dikembangkan oleh anggota Steering Group HCS, sebuah kelompok perusahaan perkebunan terkemuka yang berkomitmen untuk meniadakan deforestasi, LSM-LSM dan organisasi-organisasi yang membantu secara teknis. Dibentuk di Singapura pada 2014, Steering Group bekerja untuk mengawasi tata laksana dan standar pendekatan HCS untuk mencapai penghentian deforestasi.

Berbicara saat peluncuran toolkit, Grant Rosoman, Koordinator Solusi Hutan Greenpeace mengatakan, “Pendekatan HCS membangun sebuah pondasi baru dengan menyediakan cara praktis untuk mencapai Nol Deforestasi sekaligus pengakuan hak-hak atas tanah masyarakat. Publikasi toolkit ini diharapkan dapat memperluas adopsi pendekatan HCS di kawasan hutan tropis kunci dimana perkebunan kelapa sawit dan kertas dan pulp tengah dikembangkan.”

Peter Heng, managing Director of Communication and Sustainability Golden Agri-Resources dan anggota Steering Group mengatakan, “Golden Agri-Resources mempelopori pendekatan HCS dan berkolaborasi dengan The Forest Trust dan Greenpeace ketika kami mengumumkan Kebijakan Perlindungan Hutan (FCP) di awal 2011, yang fokus pada Nol Deforestasi. Sebagai pemain terdepan di industri kelapa sawit, kami bekerja dengan berbagai pihak untuk mengembangkan pendekatan HCS yang teruji dan diakui. Kami menunggu dukungan dari banyak pemain lainnya termasuk pemerintah, masyarakat, produsen, perusahaan konsumen dan LSM untuk mencapai keberhasilan dalam perlindungan hutan HCS.”

“Ini sangat brilian bagi saya ketika melihat Toolkit ini dengan banyak warnanya,” kata Scott Poynton, CEO TFT. “Saya ingat saat pertama kali kami diskusi antara TFT, GAR dan Greenpeace tentang HCS pada November 2010. Sejak itu, puluhan ribu pohon telah dihitung dengan keragaman lahan seperti di Indonesia, Liberia dan Papua New Guinea, data satelit telah diteliti, yang diikuti dengan pengecekan lapangan dan hutan telah disisihkan, dan kami juga sudah berbicara dengan masyarakat, LSM, ilmuwan, para ahli lainnya dan pemerintah. Toolkit ini merangkum pengetahuan yang telah kami kembangkan bersama sampai hari ini dan meletakkan sebuah platform untuk memperluas pelaksanaan dan pembelajaran hingga ke khalayak yang lebih global.”

Aida Greenbury, Managing Director of Sustainability Asia Pulp and Paper yang juga anggota Steering Group mengatakan, “Sebagaimana industri bergerak menuju Nol Deforestasi, sangat penting bahwa kita punya metode yang disepakati dalam mendefinisikan apa itu hutan. Karena itu kami berharap pengembangan pendekatan HCS akan membentuk landasan bagi perlindungan hutan di tahun-tahun mendatang dan kami mengundang pemerintah, industri dan pihak lainnya untuk mengikutinya.”

Marcus Colchester, Policy Advisor Forest People Programme mengatakan bahwa “Pendekatan HCS juga tentang orang-orang. Sebagaimana pemain besar di industri kelapa sawit dan pulp yang berusaha untuk mengimplementasikan komitmen baru mereka, Toolkit ini, apabila digunakan dengan benar, memiliki potensi untuk melindungi hutan begitu juga mengamankan hak atas tanah dan kehidupan dari masyarakat adat dan lokal.”

Jeremy Goon, Chief Sustainability Officer Wilmar mengatakan, “Menghapus deforestasi dari rantai pasokan komoditas telah mendapatkan momentum dalam dua tahun terakhir ini dengan banyaknya perusahaan berbasis sumberdaya yang kini telah memiliki komitmen serupa. Bersamaan dengan pendekatan konservasi yang telah dibangun seperti kawasan Nilai Konservasi Tinggi (HCV), kerangka kerja HCS adalah landasan bagi pembangunan kebun. Saat ini kami menunggu transisi kerangka kerja dari konsep ke implementasi lapangan melalui Toolkit. Komitmen No Deforestasi Wilmar mencakup seluruh rantai pasokan, termasuk pemasok pihak ketiga. Langkah kami berikutnya adalah bekerja dengan pemain kunci di industri kelapa sawit, termasuk otoritas pemerintah terkait dan pemasok kami terhadap solusi yang adil untuk pelestarian hutan dan pembangunan sosial ekonomi.”

Toolkit HCS

Toolkit HCS ini akan memungkinkan praktisi berpengalaman untuk melakukan penilaian HCS mereka sendiri, mengintegrasikannya dengan HCV dan pertimbangan FPIC serta membuat rencana penggunaan lahan yang terintegrasi untuk konsesi perkebunan di kawasan hutan.

Toolkit ini telah diuji dalam percontohan di konsesi kelapa sawit, kertas dan pulp di Indonesia, Papua Nugini dan Liberia dan diharapkan akan banyak diadopsi oleh perusahaan-perusahaan di negara-negara lain dan di produk lain di tahun 2015.

Toolkit ini meliputi:

Bab 1 : Latar belakang pada metodologi dan pendekatan Steering Group HCS

Bab 2-6 : Praktisi panduan tentang bagaimana melakukan dan mengintegrasikan penilaian HCS

Bab 7 : Kesimpulan dan kawasan untuk studi lebih lanjut

Pendekatan HCS pertama kali dikembangkan oleh Golden Agri-Resources, TFT dan Greenpeace pada 2011. Sejak itu telah diadopsi oleh produsen besar lainnya termasuk Asia Pulp and Paper, dan Wilmar yang keduanya mengumumkan kebijakan Nol Deforestasi pada tahun 2013.

Pendekatan ini telah menarik dukungan dari perusahaan konsumen global termasuk Unilever, Neste Oil, Ferrero, Mars dan Nestle, sebagai bagian dari rangkaian tindakan untuk memenuhi komitmen mereka dalam mencegah deforestasi lebih lanjut dalam rantai pasokan.

Dalam hubungannya dengan publikasi Toolkit, Steering Group Pendekatan HCS membuka periode konsultasi pada metodologi melalui partisipasi dalam Forum Konsultasi HCS. Forum ini akan terbuka untuk pihak yang berkepentingan dengan pendekatan termasuk perusahaan perkebunan, produsen, pengecer, lembaga keuangan serta badan-badan industri, akademisi dan kelompok masyarakat sipil.

Umpan balik dapat diberikan melalui Forum Konsultasi Pendekatan HCS. http://highcarbonstock.org/consultative-forum/. Edisi selanjutnya dari Toolkit HCS akan mencakup revisi berdasarkan masukan pemangku kepentingan serta rekomendasi dari uji coba lapangan lebih lanjut dan informasi ilmiah baru.

Kontak Media :

Grant Rosoman, Koordinator Solusi Hutan Greenpeace Asia Tenggara, grant.rosoman@greenpeace.org, m: +64 21 428415 http://www.greenpeace.org/forestsolutions

Igor O’Neill, Komunikasi Internasional untuk Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia, ioneill@greenpeace.org, Telp: +62 811 1923 721

Catatan Redaksi

– Toolkit HCS yang tersedia untuk diunduh di http://highcarbonstock.org/the-hcs-approach-toolkit/.

– Latar Belakang Pendekatan HCS dapat ditemukan di sini: www.highcarbonstock.org

– Steering Group Pendekatan HCS didirikan di Singapura, pada bulan Agustus 2014, dan telah membentuk Sekretariat di Kuala Lumpur, Malaysia. Akan memimpin proses untuk pengembangan lebih lanjut dan standardisasi global untuk metode pengembangan bebas deforestasi.

– Anggota Steering Group Pendekatan HCS meliputi:

o Perusahaan: Agropalma, Asia Pulp and Paper, Cargill, Golden-Agri Resources, Golden Veroleum (Liberia) Inc., Musim Mas, New Britain Palm Oil Ltd, Procter & Gamble, Unilever, Wilmar

o LSM: Forest Heroes, Forest Peoples Programme, Greenpeace, National Wildlife Federation, Rainforest Action Network, Rainforest Alliance, Union of Concerned Scientists, WWF

o Organisasi pendukung teknis : Daemeter, Proforest, TFT

o Pengamat: World Resources Institute.