Livestock and wind turbine - Wikimedia CommonsPolusi iklim selama ini identik dengan karbon dioksida (CO2). Padahal, jika ditelisik lebih lanjut, masih ada gas lain yang dampaknya tak kalah berbahaya dibanding CO2.

Salah satunya adalah gas nitrogen oksida (N2O) atau yang biasa disebut dengan gas tertawa (laughing gas).

Dampak N2O terhadap lingkungan dan iklim seringkali terlupakan. Konsentrasi emisi N2O terus berlipat ganda pada 2050, membahayakan pemulihan lapisan ozon, memerparah perubahan iklim dan pemanasan global.

Kesimpulan ini terungkap dari laporan terbaru Program Lingkungan PBB berjudul “Drawing Down N2O to Protect Climate and the Ozone Layer” yang diluncurkan Kamis (21/11).

Gas nitrogen oksida secara alami bisa ditemukan di alam. Prilaku manusia sejak masa revolusi industri telah menyebabkan produksi emisi N2O yang berbahaya bagi iklim ini melonjak. Menurut UNEP, upaya mengurangi emisi N2O bisa membawa manfaat ekonomi hingga $160 miliar per tahun.

Berbagai sektor menikmati manfaat ini seperti sektor pertanian, manufaktur bahan kimia, pembangkit listrik, pengelolaan limbah, transportasi hingga produksi perikanan. Mengurangi emisi N2O juga bisa meningkatkan produktivitas pangan dan ternak, memerbaiki kualitas kesehatan, mengurangi kemiskinan serta kerusakan lingkungan.

Dari penelitian sebelumnya disimpulkan, dunia bisa meningkatkan efisiensi penggunaan nitrogen hingga 20% dengan biaya $12 miliar. Manfaat yang diperoleh – dari pengurangan pemakaian pupuk saja – mencapai $23 miliar per tahun. Jika ditambah manfaat terhadap lingkungan, kesehatan dan perubahan iklim, nilai manfaat akan melonjak menjadi $160 miliar per tahun.

“Gas ketawa ini bukan untuk guyonan,” ujar Achim Steiner, Direktur Eksekutif UNEP. “N2O merusak iklim dan ozon yang juga menyumbang efek pemanasan global. N2O juga beredar dalam jangka waktu yang lama di atmosfer, mencapai rata-rata 120 tahun,” tambahnya lagi.

Sektor pertanian adalah sumber utama emisi N2O, yang menyumbang dua pertiga dari produksi emisi ini. Sumber yang lain berasal dari industri, pembakaran bahan bakar fosil, biomasa dan limbah.

Di sektor pertanian, upaya mengurangi emisi N2O bisa dilakukan dengan meningkatkan efisiensi penggunaan unsur nitrogen di pertanian baik dalam proses penanaman maupun proses produksi ternak. Mengurangi konsumsi daging dan limbah makanan juga bisa menekan emisi N2O, termasuk mengurangi pembakaran hutan, mengolah limbah dan mendaur ulang nutrisi.

Menurut UNEP, tanpa upaya pengurangan emisi, polusi N2O akan meningkat rata-rata 83% pada periode 2005 hingga 2050. Sementara melalui skenario mitigasi, emisi N2O bisa dikurangi hingga 22% pada tahun 2050 dibanding level tahun 2005.

Redaksi Hijauku.com