Ranah Kopi - MuadzinOleh: Muadzin F Jihad *

Suatu kebahagiaan tersendiri saat kita bisa memberi ‘kesempatan hidup’ untuk yang kedua kali, ketiga, dan seterusnya, pada barang atau benda yang oleh orang lain sudah disingkirkan bahkan dibuang. Itu yang kami rasakan saat kami mengisi kafe kami dengan barang-barang bekas. Ada yang kami langsung gunakan as-is, apa adanya, ada yang kami dandani dulu.

Hampir semua furniture, perabot dan interior di kafe kami berasal dari barang bekas. Proses pencarian barang-barang bekas inilah yang justru memakan waktu terlama dalam persiapan pembukaan kafe kami. Kami perlu blusukan ke lapak-lapak rongsokan di Depok, Jakarta, Solo, Jogja, Denpasar; ke beberapa kios pengrajin mebel bekas daerah Kemang, juga berburu garage sale ke beberapa rumah di Jakarta.

Alhasil meja dan kursi di kafe kami terlihat sangat beragam. Tidak terdiri dari deretan meja-kursi yang seragam. Tiap meja berbeda modelnya, berbeda pula model kursinya. Jadi barang-barang yang terdapat di kafe kami bisa dibilang barang pilihan, eksklusif dan tidak ada duanya. Makanya kafe kami bisa disebut “boutique café”.

Menyajikan kopi terbaik dari berbagai daerah origin lokal Indonesia adalah suatu keharusan dalam konsep yang kami usung di kafe kami. Selain kopi yang fresh, nikmat dan sehat, kafenya sendiri haruslah punya konsep berbeda dengan mengutamakan kenyamanan pelanggan, dan keindahan estetika, serta keontetikan yang unik. Jadi, walaupun mengusung konsep reduce-reuse-recycle dengan mendaur ulang barang-barang bekas, furnitur dan interior yang ada kami buat sedemikian rupa sehingga tetap berfungsi secara baik, nyaman, dan terlihat cantik, bahkan tidak terlihat kalau itu semua merupakan perabot daur ulang.

Ada bekas rak botol wine dari sebuah kafe di Jakarta yang kami jadikan meja bar. Meja bekas mesin jahit jati kami jadikan salah satu work-station barista. Ada satu sofa hasil vermak habis-habisan, karena kami temukan benar-benar sudah dibuang di tumpukan sampah.

Banyak pigura lukisan bekas terpajang. Ada yang sudah krowak (bahasa Indonesia-nya apa ya? He..he..), keropos atau sudah dimakan rayap. Bilah-bilah partisi kayu yang sudah copot-copot, kami jadikan meja panjang.

Langit-langit kafe dihiasi lampu-lampu antik cantik berkelas yang kami peroleh dari garage sale dan  dari teman yang akan pindah rumah, juga ada dari sumbangan orang tua kami.

Rencana ke depan, sebagian barang-barang bekas ini juga akan kami jual. Jadi kafe kami tidak hanya berfungsi sebagai coffee shop, tapi juga berfungsi sebagai galeri dan butik barang bekas berkualitas yang eksklusif dan classy.

Dari sisi budget, keuntungan membeli barang bekas adalah kita bisa memperoleh barang berkualitas dengan harga miring. Sering kali kami seperti menemukan harta karun saat blusukan hunting barang bekas tersebut. Tak disangka kita bisa menemukan sebuah barang yang sangat langka dalam kondisi bagus dengan harga yang super miring.

Selain mendukung konsep reduce-reuse-recycle dengan penggunaan barang bekas ini, kami juga mengangkat konsep interior vintage atau retro. Walaupun konsep vintage kami terlihat campur-aduk, artinya tidak mengacu ke periode jadul kurun tahun tertentu, karena kami memang tidak punya pengetahuan mendalam dalam hal itu; tapi kami mencoba konsisten dengan konsep jadul ini. Kami tuang juga dalam desain grafis logo dan media promo kami.

Ngomong-ngomong soal barang bekas dan jadul, ada kejadian menarik waktu saya sedang menunggu penyelesaian salah satu meja pesanan kami di Kemang. Pekerjanya seorang anak muda yang passionate sekali dengan mebel jadul dan kayu jati tua. Dia cerita, mebel-mebel jaman dulu itu dikerjakan dengan hati. Tidak seperti sekarang yang sudah dibuat sebagai industri karena kebutuhan yang melonjak.

Old furniture - MuadzinDia bilang, tukang kayu jaman dulu bisa dibilang seniman. Dia tunjukkan bahwa dalam sebuah mebel, dia ambil contoh salah satu bufet jadul di lapaknya, pasti dibuat dari satu batang pohon yang sama. Terlihat dari urat kayu yang seragam dan setipe di setiap bilah kayunya. Bentuk dan susunan urat kayu pun dibuat harmonis, sehingga terlihat indah.

Dia juga bilang, “Saya senang sekali kalau ada orang yang membeli dan menggunakan kembali mebel-mebel jadul bekas ini seperi Bapak. Coba bayangakan, berapa batang pohon yang bisa kita selamatkan dengan kita mendaur ulang mebel bekas seperti ini?”

Saya juga baru sadar dan kepikiran saat itu. Benar juga ya apa yang dia bilang. Kita bisa sedikit ikut menyelematkan bumi, dengan mengurangi pemakaian kayu baru untuk furniture.

Terus terang saya takjub sekali, kata-kata itu meluncur dari mulut seorang tukang kayu yang tampak luarnya terlihat sangat sederhana, tapi dalamnya penuh kepedulian terhadap alam dan bumi Indonesia. Padahal sebaliknya, di beberapa bagian Sumatra dan Kalimantan sana banyak pemilik-pemilik perusahaan perkebunan culas yang membakari hutan kita. Ironis ya?

Konsep jadul ini, kami usung juga karena salah satu poin penting yang ingin kami sampaikan adalah tentang sejarah, hal yang kadang suka kita lupakan. Dengan menghargai sejarah dari barang-barang peninggalan yang ada, kita lebih bisa menghargai barang-barang tersebut.

Agak sedikit keluar dari topik, dengan sejarah pula kita bisa melakukan apa yang dikatakan Steve Jobs dengan “connecting the dots“. Menghubungkan titik-titik kejadian di masa lalu kita yang kemungkinan akan memberikan benang merah apa sebenarnya passion kita, bahkan mungkin apa purpose of life kita, misi hidup kita di dunia.

“Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah – Jasmerah”, begitu kata Soekarno di salah satu pidatonya dulu.

Itu salah satu poin yang saya bicarakan saat ngobrol bareng Mas Erbe Sentanu beberapa waktu lalu. Kata beliau salah satu hal yang membuat Indonesia carut marut saat ini adalah karena kita kualat kepada leluhur Indonesia. Misalnya kita mengingkari nilai luhur yang diwariskan atau menganggap local wisdom yang turun temurun dari nenek moyang kita sudah ketinggalan jaman dan tidak bisa diterapkan di dunia modern saat ini.

Pesan Mas Nunu kepada saya, hormati, hargai dan jangan pernah durhaka kepada orang tua kita dan garis keturunan ke atasnya. Beliau juga menyarankan agar saya pulang ke kampung halaman orang tua untuk mengenal lebih dekat saudara dan garis keturunan dari orang tua. Pasti dari situ kita akan menemukan ‘petunjuk’ untuk kehidupan kita. Bahkan mungkin kita bisa menemukan tugas dan misi hidup kita di dunia ini. Mungkin leluhur kita punya misi tertentu yang perlu dilanjutkan oleh kita. Wallahualam

Old grinder - MuadzinKembali ke kafe kami, salah satu koleksi jadul kami adalah gilingan kopi (coffee grinder) buatan Inggris. Diperkirakan diproduksi awal 1900-an. Jenis gilingan ini ditandai dengan nomor 1 sampai 5. Nomor 1 untuk hasil gilingan terhalus, nomor 5 gilingan terkasar. Yang terbanyak dijual di Pasar Triwindu Solo, tempat kami hunting gilingan ini, adalah gilingan nomor 4. Nah, yang kita punya ini nomor 3. Lumayan langka apalagi dengan kondisi yang cukup baik.

Ada televisi Jepang keluaran awal 80-an generasi pertama televisi berwarna. Televisi ini dikemas berkaki seperti bufet atau meja besar. Belum sempat diservis, semoga masih bisa berfungsi dengan baik. Sekarang bermanfaat menjadi meja pajangan untuk pastry.

Barista bar kami berasal dari bufet jati pinjaman ibu saya. Pembelian tahun 1958, ya betul saya tidak salah ketik, tahun 1958; saat mengisi rumah baru setelah menikah dengan ayah almarhum saat itu.

Ada ‘harta karun’ yang saya dapat dari blusukan di Mal Rongsok Kukusan Depok. Satu set meja makan dan empat kursi jati yang populer disebut dengan model jengki. Keluaran sekitar tahun 70-an dengan ciri khas kaki meja atau kursi berbentuk bulat meruncing ke bawah dan menjorok ke arah luar.

Berkaitan dengan set meja makan ini ada satu cerita ajaib. Karena ingin menampilkan meja ini seasli mungkin, jadi kami tidak merapikan dan mengamplas permukaan kayunya. Di permukaan meja tersebut tertoreh coretan tangan anak-anak dengan spidol yang sudah agak memudar. Menuliskan sebuah nama laki-laki, mungkin namanya. Jadi coretan itu kami biarkan sebagai bagian dari sejarah meja tersebut.

Suatu hari, saat hunting ruko di Jalan Margonda Raya, ada beberapa ruko yang saya taksir dan saya langsung telpon satu per satu. Setelah menelpon masing-masing nomor, ada satu yang saya paling sreg dari segi harga dan kondisi strategisnya.

Setelah berkenalan, ternyata yang empunya ruko seorang bapak asal Aceh yang bernama sama persis dengan nama yang tertulis di coretan meja makan jadul tersebut!

Kebetulan? Sebenarnya tidak ada yang namanya ‘kebetulan’. “There are no accidents”, kata Master Oogway di Kungfu Panda. Kami yakin itu sebuah sign. Makanya kami langsung deal mengontrak ruko tersebut.

* Muadzin F Jihad adalah Founder dan Chief Coffee Officer dari Ranah Kopi. Penulis bisa dihubungi melalui akun Twitter di @muadzin