Food in grocery cart - Rusty ClarkLimbah makanan membawa masalah bagi lingkungan dan kemanusiaan. Limbah pangan memicu perubahan iklim, menghasilkan emisi gas rumah kaca dalam setiap proses produksi, transportasi dan konsumsinya. Pangan masih banyak terbuang saat jutaan penduduk di bumi menderita kelaparan.

Penelitian terbaru dari Natural Resources Defense Council (NRDC) dan Food Law and Policy Clinic dari Harvard Law School, mengungkapkan, sistem pelabelan makanan yang salah memerburuk semua kondisi di atas. Di Amerika Serikat, sistem pelabelan yang ada selama ini, menurut NRDC, membingungkan 91% konsumen, membuat mereka lebih cepat membuang makanan.

“Masalah label kedaluwarsa perlu ditangani secara serius karena berdampak pada pemborosan biaya, pemubaziran makanan dan sumber daya. Padahal makanan-makanan ini masih layak untuk dikonsumsi,” said Dana Gunders, peneliti dari NRDC.

“Kalimat ‘dijual sampai/sell by’, ‘digunakan hingga/use by’ dan ‘sebaiknya dikonsumsi sebelum/best before’ tidak memeroleh perhatian serius sehingga sering disalahartikan dan menyebabkan konsumen ragu terhadap keamanan makanan. Saatnya mengubah sistem pelabelan ini,” ujar Dana lagi.

Dari penelitian NRDC dan Harvard Law di 50 negara bagian AS terungkap, penduduk Amerika membuang lebih dari 40% pasokan pangan setiap tahun dengan kerugian mencapai $165 miliar.

Tim peneliti juga menemukan, sebanyak 91% konsumen salah mengartikan kalimat “sell by” dengan menganggap bahwa pangan dengan label tersebut tidak aman untuk dikonsumsi pada tanggal yang disebutkan. Akibatnya, pangan lalu dibuang, padahal pangan tersebut masih layak untuk dikonsumsi.

Menurut perkiraan NRDC dan Harvard, kerugian rata-rata yang diderita rumah tangga dengan empat orang anggota keluarga mencapai $275-455 per tahun akibat salah membaca label ini. Sementara di tingkat peritel, kerugian bisa mencapai $900 juta.

Sistem pelabelan yang tidak akurat ini telah menyebabkan 72,56 miliar kg pangan terbuang di Amerika Serikat setiap tahun menjadikan limbah pangan sebagai penyumbang sampah padat terbesar di tempat pembuangan sampah (TPA) di AS.

Saat ini ada dua sistem pelabelan yang digunakan di AS yaitu pelabelan untuk konsumen dan pelabelan untuk bisnis dan manufaktur. Tanggal pada label “sell by” dipakai untuk mengontrol stok (ketersediaan) sebuah produk. Tujuan label ini adalah untuk mengantisipasi produk tersebut masih bisa dikonsumsi saat konsumen membelinya. Label ini untuk pebisnis dan bukan untuk konsumen. Konsumen masih bisa mengonsumsi produk ini walau tanggal pada label telah jatuh tempo.

Sementara tanggal pada label “best before” and “use by” ditujukan untuk konsumen. Namun tanggal pada label tersebut biasanya hanya perkiraan produsen bahwa makanan tersebut sudah tidak pada “kondisi terbaik” untuk dikonsumsi. Dua label ini tidak secara tegas menyatakan bahwa pangan tersebut layak atau aman untuk dikonsumsi atau sebaliknya.

Menurut NRDC, perlu ada sistem pelabelan yang tegas yang bisa menghindarkan pangan terbuang lebih cepat dari yang seharusnya, sehingga bisa mengurangi jumlah pangan yang terbuang.

Redaksi Hijauku.com