Dana cekak, tidak punya akses ke modal dan sumber daya yang terbatas membuat usaha kecil menjadi usaha yang paling rentan terdampak perubahan iklim dan cuaca ekstrem.

Kesimpulan ini terungkap dari laporan terbaru Small Business Majority (SBM) dan American Sustainable Business Council (ASBC) berjudul “Climate Change Preparedness and the Small Business Sector”, yang dirilis Kamis (25/7).

Usaha kecil yang diteliti meliputi industri perdagangan, turisme, arsitektur lanskap, pertanian, industri atap rumah (roofing) dan industri manufaktur skala kecil.

Bahkan di Amerika Serikat, usaha kecil menjadi motor penciptaan lapangan kerja. Jumlah tenaga kerja yang terserap oleh usaha kecil mencapai 60 juta orang, separuh dari jumlah tenaga kerja AS.

Dalam laporan ini terungkap, akses modal dan sumber daya yang terbatas – tidak seperti pada perusahaan besar – menyebabkan usaha kecil menderita dampak kerugian ekonomi yang lebih lama setelah terkena bencana alam.

Contoh saat Topan Sandy di Amerika Serikat melanda, 60.000 dari 100.000 usaha kecil merasakan dampaknya. Dari jumlah tersebut lebih dari 30% usaha kecil bangkrut akibat badai Sandy. Sekitar 25% usaha kecil menengah tak membuka lagi usahanya setelah terkena bencana besar.

Sebagian besar usaha kecil juga belum menganalisis potensi kerugian ekonomi dari cuaca ekstrem dan risiko-risiko iklim lain akibat keterbatasan sumber daya. Sebanyak 57% usaha kecil tidak memiliki rencana pemulihan setelah terkena bencana dan tidak memiliki rencana tata kelola risiko yang baik. Sebanyak 90% dari mereka hanya menghabiskan waktu kurang dari sehari dalam sebulan guna memersiapkan dan membahas risiko bencana ini.

Menurut NOAA, tahun 2011 dan 2012 adalah tahun paling ekstrem sepanjang sejarah. Dalam dua tahun tersebut cuaca ekstrem menimbulkan kerusakan dengan nilai kerugian lebih dari $170 miliar di seluruh dunia.

Sebagian besar kerugian tersebut dialami oleh dunia bisnis. Rata-rata kerugian operasi akibat gangguan cuaca ekstrem di usaha kecil mencapai $3.000 per hari. Kelemahan yang lain, aset-aset milik usaha kecil seperti bangunan dan pabrik biasanya terkonsentrasi di satu wilayah sementara perusahaan besar lebih terdiversifikasi. Sehingga ketika bencana terjadi, kerugian yang dialami usaha kecil menjadi sangat besar.

Di Indonesia, peran usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) sebagai motor penciptaan lapangan kerja tak kalah signifikan. Menurut data Kementerian Koperasi yang dikeluarkan pada awal Juli, UMKM menyerap 97% tenaga kerja di Tanah Air.

Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, Syariefuddin Hasan menyatakan, jumlah usaha kecil menengah di Indonesia mencapai sekitar 56,5 juta. “99,8 persennya adalah UMKM,” ujarnya sebagaimana dikutip dalam situs Kementerian Koperasi dan UKM.

Jumlah UMKM ini dari tahun ke tahun meningkat seiring pertumbuhan ekonomi Indonesia. Kontribusi koperasi dan UMKM terhadap pendapatan domestik bruto (PDB) Indonesia mencapai 56%.

Hijauku.com pada awal Juni telah menurunkan laporan mengenai kerugian akibat bencana alam di Asia Pasifik. Dari laporan tersebut terungkap, 37% bencana alam dunia terjadi di Asia. Jumlah kerugian akibat bencana alam di wilayah Asia Pasifik mencapai 17% dari total kerugian dunia.

Sebagian besar bencana alam yang terjadi di Asia Pasifik adalah banjir dan badai. Fakta-fakta ini semakin menggarisbawahi pentingnya upaya melindungi usaha kecil dan menengah – yang menjadi motor ekonomi nasional – seiring terus meningkatnya risiko dan krisis perubahan iklim.

Redaksi Hijauku.com