Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memeringatkan komunitas bisnis internasional untuk memerhitungkan risiko bencana dalam strategi bisnis mereka.

Kerugian ekonomi akibat bencana alam ini menurut PBB telah “lepas kendali” dan diperkirakan mencapai $2,5 triliun pada akhir abad ini. Hal ini terungkap dalam berita UN Office for Disaster Risk Reduction (UNISDR) yang dirilis minggu lalu (15/5).

Menurut Sekretaris Jenderal PBB, Ban Ki-moon, nilai kerugian akibat banjir, bencana alam dan kekeringan ini lebih tinggi 50% dari yang diperkirakan sebelumnya.

“Kerugian ekonomi dari bencana alam telah lepas kendali dan hanya bisa dikurangi melalui kerja sama dengan sektor swasta. Sektor swasta bertanggung jawab atas 70% hingga 85% investasi dunia. Mereka membangun bangunan, industri dan usaha kecil dan menengah baru. Sehingga memerhitungkan dampak bencana dalam bisnis harus diajarkan dalam sekolah bisnis dan menjadi pertimbangan investor,” tuturnya.

Laporan berjudul “Creating Shared Value: the Business Case for Disaster Risk Reduction” menyoroti bagaimana transformasi perekonomian global dalam 40 tahun terakhir telah meningkatkan risiko kerugian akibat bencana di negara berpendapatan rendah, menengah dan tinggi.

Model risiko global baru yang dikembangkan oleh UNISDR dan tim menunjukkan, kerugian akibat gempa bumi dan angin siklon saja mencapai $180 miliar pada abad ini.

Laporan ini menunjukkan, globalisasi serta segala upaya untuk menekan waktu, biaya dan meningkatkan produktivitas dalam bisnis telah mengubah bisnis menjadi pusat kerugian akibat bencana yang mengancam keberlangsungan pasokan dunia.

Kepala UNISDR, Margareta Wahlström, menyatakan: “Investasi yang mampu mengurangi risiko bencana dan kerugian pada masa datang harus menjadi pertimbangan utama saat populasi, urbanisasi dan ancaman perubahan iklim terus meningkat.

“Saat bencana alam terjadi seperti gempa bumi/tsunami di Jepang, banjir di Thailand dan taifun Sandy di Amerika Serikat, dunia baru tahu risiko dari kerusakan aset-aset yang bernilai triliunan dolar ini. Aset-aset ini menjadi aset sampah (toxic assets) dan menimbulkan kerugian ekonomi yang sangat besar.”

Laporan ini menganalisis tiga sektor investasi utama yaitu pembangunan di perkotaan, agribisnis dan wisata pantai dan menemukan bahwa ketiga model bisnis tersebut menjadi sektor utama yang menghadapi risiko kerugian terbesar akibat bencana alam.

Tim peneliti mensurvei 1.300 usaha kecil dan menengah di enam kota yang rentan bencana di Amerika. Hasilnya mereka menemukan bahwa tiga perempat dari UKM ini merugi saat bencana terjadi karena mereka tidak memiliki tata kelola risiko yang baik. Bencana merusak pasokan listrik, telekomunikasi dan layanan air, menunjukkan keterkaitan yang erat antara sektor publik dan swasta dalam manajemen bencana alam.

Laporan ini menemukan hanya 14,2% perusahaan dengan karyawan kurang dari 100 orang yang memiliki sistem manajemen krisis yang baik yang mampu menjamin keberlangsungan bisnis saat terjadi bencana alam. “Perlu ada perubahan perilaku yang lebih sistematis oleh sektor swasta bekerja sama dengan sektor publik dalam menghadapi bencana agar mampu (mengurangi risiko dan) menciptakan bumi yang lebih aman,” ujar Wahlström.

Redaksi Hijauku.com