Sistem transportasi ramah lingkungan tidak hanya dimiliki oleh negara maju. Negara berkembang pun terbukti mampu mewujudkannya. Prestasi ini ditunjukkan oleh Kota Meksiko yang berhasil mereformasi sistem lalu lintasnya menjadi sistem transportasi yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Walter Hook, CEO Institute for Transportation and Development Policy (ITDP) menyatakan, Kota Meksiko dulu sering digambarkan seperti pasien dengan penyakit jantung kronis. Kota ini adalah salah satu kota dengan arus lalu lintas terpadat di dunia. Mobil-mobil memenuhi jalan raya. Kemacetan dan polusi merajalela.

Namun semua kondisi ini berubah setelah Kota Meksiko tahun lalu memulai program yang bertujuan meningkatkan kenyamanan dan kualitas hidup masyarakat. Pemerintah kota membangun sistem BRT (Bus Rapid Transit) dan Metrobus, jaringan kereta dengan ban mirip bus yang dilengkapi oleh koridor bernama Line 4 yang menghubungkan bandara dengan pusat kota.

Mereka juga mereformasi sistem perparkiran dengan menciptakan program komprehensif bernama ecoParq dan mengembangkan jaringan transportasi sepeda yang sukses bernama EcoBici. Ruang publik pun tak lepas dari sentuhan. Pemerintah membangun lingkungan dengan suasana yang hijau dan segar seperti di Alameda Central dan Plaza Tlaxcoaque.

Upaya Kota Meksiko tidak sia-sia. Kota Meksiko diganjar sebagai kota dengan sistem transportasi terhijau di dunia pada 2013 melalui penghargaan 2013 Sustainable Transport Award oleh Institute for Transportation and Development Policy (ITDP) bekerja sama dengan komite internasional untuk sistem transportasi dan sejumlah ahli pembangunan perkotaan. Ibu kota Meksiko ini juga menjadi contoh kota terbaik di Amerika Latin.

“Tahun lalu, darah Kota Meksiko kembali mengalir. Wilayah pusat kota telah berubah dari lingkungan yang terlupakan dan dipenuhi oleh kriminalitas menjadi wilayah yang menjadi bagian penting bagi masa depan Kota Meksiko,” ujar Walter.

“Sistem transportasi yang berkelanjutan terbukti bisa sejalan dengan strategi pembangunan rendah emisi dan pembangunan kota yang aman nyaman. Keberhasilan yang dicapai Kota Meksiko membuktikan bahwa negara berkembang bisa mewujudkan visi ini dan kami berharap kota-kota Asia bisa meniru keberhasilan Kota Meksiko, ” ujar Sophie Punte, Direktur Eksekutif Clean Air Asia.

Sustainable Transport Award pertama kali diadakan pada tahun 2005. Selain Kota Meksiko ada empat kota lain yang memeroleh pujian atas sistem transportasi ramah lingkungan mereka.

Kota Bremen di Jerman berhasil mengembangkan program berbagi tumpangan (car sharing) dan program transportasi non-motoris sehingga 60% perjalanan yang dilakukan oleh masyarakat bisa ditempuh dengan bersepeda dan berjalan kaki. Kota Lviv di Ukraina mendapatkan penghargaan atas upaya mereka memerbaiki transportasi publik, fasilitas berjalan kaki dan bersepeda.

Kota Rio de Janeiro, Brasil juga memeroleh pujian atas peluncuran koridor Bus Rapid Transit kelas dunia bernama Transoeste, serta perluasan program berbagi sepeda. Program BRT di Rio bisa menjadi contoh sistem transportasi perkotaan yang nyaman bagi kota-kota lain termasuk Jakarta yang sudah memiliki program BRT bernama Transjakarta.

Kota Rosario, Argentina juga terus beralih ke sistem transportasi ramah lingkungan dengan program berbagi sepeda (bikeshare), memerluas jalur sepeda dan menciptakan rencana mobilitas transportasi komprehensif dengan memrioritaskan sirkulasi transportasi publik di pusat kota.

Pemenang penghargaan Sustainable Transport Award sebelumnya jatuh pada kota Medellín, Kolombia dan San Francisco, Amerika Serikat (2012); kota Guangzhou, China (2011); Ahmedabad, India (2010); New York City, AS (2009); London, Inggris (2008); Paris, Perancis (2008); Guayaquil, Ekuador (2007); Seoul, Korea Selatan (2006), dan Bogotá, Kolombia (2005).

Redaksi Hijauku.com