Konsumsi bahan baku negara-negara di wilayah Asia Pasifik melampaui konsumsi bahan baku wilayah lain di dunia. Hal ini terungkap dari laporan Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) yang dirilis Rabu (24/4), di Bangkok, Thailand.

Dengan menganalisis data perdagangan di Asia Pasifik, laporan UNEP menyimpulkan, eksploitasi sumber daya alam tidak akan mampu lagi menjadi sumber pertumbuhan ekonomi dan membiayai perubahan gaya hidup masyarakat. Negara-negara di wilayah Asia Pasifik juga akan semakin tergantung pada impor bahan baku untuk menyokong pertumbuhan ekonominya.

Data tahun 1970-2008 menyebutkan, konsumsi bahan bangunan di wilayah Asia Pasifik seperti semen, pasir, aspal, kayu dan sebagainya naik 13,4 kali lipat, sementara konsumsi mineral dan bijih metal untuk industri naik 8,6 kali lipat, bahan bakar fosil 5,4 kali lipat dan biomasa 2,7 kali lipat.

Laporan berjudul “Recent Trends in Material Flows and Resource Productivity in Asia and the Pacific” ini memberikan analisis mendalam mengenai krisis kebutuhan bahan baku regional dimana konsumsi yang berlebihan telah memberikan tekanan pada lingkungan dan melampaui tingkat pertumbuhan ekonomi wilayah.

Menurut UNEP, saat ini intensitas konsumsi bahan baku di Asia Pasifik tiga kali lipat lebih banyak dibanding wilayah lain. Dan hampir semua pertumbuhan konsumsi bahan baku domestik setelah krisis tahun 2008 berasal dari wilayah Asia Pasifik.

Australia misalnya, penggunaan sumber daya alam per kapita Australia lima kali lipat di atas rata-rata konsumsi regional dan global. Eksplotasi sumber daya alam di negara ini didorong oleh tingginya ekspor bahan bakar fosil dan bijih metal. Negeri Kangguru ini terus menjadi pemasok utama bahan bakar fosil di wilayah Asia Pasifik.

Indonesia menurut UNEP menunjukkan peralihan yang signifikan dari industri biomasa ke industri mineral/bahan bakar fosil pada periode 1970 hingga 2008. Namun kondisi yang “tidak biasa” terjadi setelah tahun 2005.

Setelah mengalami tren kenaikan sejak 1970, konsumsi bahan baku per kapita di Indonesia berbalik turun sejak 2005. Tren ini menurut UNEP dipengaruhi oleh fluktuasi produksi satu kelompok sumber daya alam yaitu bijih metal di dalam negeri. Laporan UNEP menyebutkan, porsi produksi yang sangat besar dari satu tambang yaitu tambang Grasberg di Papua memengaruhi fluktuasi produksi bijih metal dan komoditas tembaga, emas dan perak di Tanah Air.

Indonesia menurut UNEP juga terus menjadi salah satu pengekspor utama bahan bakar fosil, terutama batu bara, di wilayah Asia Pasifik namun – ironisnya – terus menggantungkan pasokan bahan bakar dalam negeri dari impor.

Secara umum konsumsi bahan baku domestik di wilayah Asia Pasifik naik dari 6,2 miliar ton menjadi 37,5 miliar ton antara 1970 hingga 2008 dengan pertumbuhan mencapai 4,8% per tahun.

China dan India menjadi negara dengan konsumsi terbanyak pada 2008. Tingkat konsumsi bahan baku di China mencapai 60% konsumsi bahan baku regional sementara tingkat konsumsi India mencapai 14%. Saat ini, rata-rata konsumsi bahan baku per kapita wilayah Asia Pasifik 89% lebih tinggi dibanding wilayah-wilayah lain di dunia.

Redaksi Hijauku.com