Perubahan iklim dan pemanasan global yang memengaruhi produksi pangan dan biji-bijian di sejumlah negara mulai terasa dampaknya.

Harga pangan dunia naik untuk pertama kalinya bulan lalu setelah mengalami penurunan tiga bulan berturut-turut. Hal ini terungkap dalam berita resmi PBB yang dirilis kemarin (9/8).

Indeks Harga Pangan (Food Price Index) dari Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) melaporkan kenaikan harga pangan sebesar 6% pada bulan Juli.

Kenaikan harga ini sebagian besar didorong oleh kenaikan harga biji-bijian (seperti gandum, jagung dan kedelai) serta harga gula dengan indeks rata-rata 213 poin, naik 12 poin dibanding indeks pada bulan Juni.

Indeks Harga Pangan FAO ini menghitung perubahan harga internasional bulanan dari 55 komoditas termasuk daging, susu dan sereal.

Menurut FAO, bencana pertanian di Amerika Serikat akibat kekeringan ekstrem, menyebabkan kenaikan harga produk jagung hingga 23% bulan lalu.

Harga gandum di bursa berjangka dunia juga mengalami kenaikan hingga 19% karena rendahnya produksi gandum di Rusia, ditambah oleh prospek tingginya permintaan gandum akibat kurangnya pasokan jagung karena kegagalan panen.

Perubahan iklim, dalam hal ini keterlambatan musim hujan di Brasil, yang merupakan eksportir gula terbesar dunia, kekacauan iklim di India dan minimnya curah hujan di Australia, juga menjadi penyebab kenaikan harga gula sebesar 12%.

Dari semua kenaikan harga tersebut, harga beras internasional masih tercatat stabil sementara harga daging dan produk susu turun 1,7% bulan lalu, melanjutkan tren penurunan selama tiga bulan berturut-turut.

Redaksi Hijauku.com