Apa yang akan terjadi jika penduduk di sebuah kota mematikan lampu dan peralatan elektronik selama satu jam? Apa pengaruhnya terhadap lingkungan?

Dua pertanyaan inilah yang akan dijawab dengan digelarnya program kampanye perubahan iklim Earth Hour 2012.

Earth Hour Indonesia akan di gelar di 18 kota di Tanah Air. Jumlah kota yang ikut berpartisipasi diperkirakan akan terus bertambah sebelum penyelenggaraan acara pada akhir Maret nanti.

Dari 18 kota yang hingga sekarang ikut berpartisipasi, mayoritas kota berada di Pulau Jawa dan Bali. Menurut pihak penyelenggara, WWF-Indonesia, fokus kampanye Earth Hour ada di kedua pulau ini. Hal ini sesuai dengan kondisi kelistrikan di Tanah Air dimana sebanyak 68% konsumen listrik nasional berada di Pulau Jawa dan Bali.

Konsumen di dua pulau ini juga mengonsumsi 78% listrik nasional. Dari angka mayoritas tersebut, sebanyak 23%-nya digunakan hanya oleh konsumen di dua wilayah yaitu Tangerang dan Jakarta.

Jika dilihat dari profil pengguna listrik di Jakarta dan Tangerang, sektor rumah tangga adalah konsumen listrik terbesar (33%). Sisanya adalah sektor bisnis/perkantoran serta gedung komersial (30%), sektor industri (yang kebanyakan berada di wilayah Tangerang) sebesar 30%, gedung pemerintah (3%) dan fasilitas publik serta sektor sosial (4%).

Jika 10% penduduk Jakarta mengikuti program Earth Hour 2012 dengan mematikan lampu dan peralatan listrik selama satu jam, jumlah listrik yang bisa dihemat, menurut WWF Indonesia. diperkirakan mencapai 300 MW.

Kapasitas ini cukup untuk mengistirahatkan 1 pembangkit listrik di Jawa-Bali; mampu memenuhi kebutuhan listrik untuk 900 desa dalam periode yang sama; mampu mengurangi emisi CO2 sebesar 267 ton; menyelamatkan 267 pohon berusia 20 tahun dan memenuhi kebutuhan O2 (oksigen) untuk 534 orang.

Hingga saat ini, mayoritas sumber energi Indonesia berasal dari bahan bakar fosil seperti bensin, solar dan batu bara. Praktik pembakaran bahan bakar fosil ini akan meningkatkan konsentrasi CO2 di udara.

CO2 – menurut World Meteorogical Organization (WMO) – adalah gas rumah kaca yang diproduksi oleh manusia dan penyumbang terbesar (64%) pemanasan global.

Pada 2010, kandungan CO2 di atmosfer sudah mengalami kenaikan 39% dari masa pra industri, sekitar tahun 1750. Konsentrasi CO2 di udara dunia saat ini sudah mencapai 390 PPM – level katastropik – dari batas aman yang 350 PPM.

Jika tidak dicegah, konsentrasi CO2 dan gas rumah kaca di udara tersebut akan menaikkan suhu bumi di atas 2 derajat celcius – melebihi batas aman pemanasan global. Jika hal tersebut terjadi, perubahan iklim akan semakin ekstrem, memicu bencana alam dan kemanusiaan seperti kelaparan, hujan, angin topan, banjir dan kekeringan yang berkepanjangan.

Tak cukup hanya satu jam, praktik penghematan energi harus dijadikan sebagai gaya hidup. Kita juga harus menerapkan gaya hidup ramah lingkungan lain untuk mendukung praktik penghematan energi. Dimulai dari menggunakan transportasi publik, bersepeda, berjalan kaki, menghemat air, tidak membuang sampah sembarangan, memilah dan mendaur ulang sampah, menghemat penggunaan kertas, berkebun, menanam pohon dan berbagai aksi hijau yang lain.

Inilah yang sebenarnya menjadi target dari program Earth Hour 2012. Dengan semboyan “Ini Aksiku. Mana Aksimu?”, ayo sukseskan program Earth Hour Indonesia pada 31 Maret 2012, mulai jam 20.30-21.30.

Redaksi Hijauku.com