Sejumlah organisasi meneliti cara perusahaan melaporkan dampak operasional mereka terhadap ekosistem, sebagai bentuk tanggung jawab perusahaan terhadap lingkungan hidup.

Alam memberikan banyak sekali manfaat terhadap perusahaan. Alam dan ekosistemnya menyediakan air bersih, tanah yang subur, bahkan hingga layanan penyerbukan (pollination services) pada perusahaan. Perusahaan saat ini tidak hanya berkait, namun juga bergantung pada alam dan ekosistemnya.

Kenyataan tersebut yang menjadi fokus laporan yang diterbitkan awal bulan ini oleh Global Reporting Initiative (GRI), Pusat Pemantauan Konservasi Dunia dari Program Lingkungan PBB (Unep’s World Conservation Monitoring Centre) dan CREM.

Laporan ini meneliti berbagai isu lingkungan hidup dan cara perusahaan menyikapinya sehingga perusahaan bisa mengambil manfaat dari upaya pemantauan dan perlindungan ekosistem.

“Ekosistem tidak hanya bicara tentang tanaman eksotis atau hewan langka, namun juga “layanan-layanannya” seperti air bersih dan bahan bangunan. Operasi perusahaan berdampak pada layanan-layanan ini, perusahaan bahkan bergantung pada layanan ekosistem untuk bisa beroperasi,” ujar Jolanda van Schaick, Konsultan Senior di CREM, lembaga konsultansi pembangunan berkelanjutan, yang turut menulis laporan ini.

Semua organisasi bergantung dan mengambil manfaat dari “layanan” ekosistem. Ekosistem menyediakan kayu, makanan, tanah yang subur dan air bersih. Ekosistem lah yang menyokong proses manufaktur. Manufaktur memperdagangkan produk dan mengambil bahan baku dari ekosistem. Namun, pertumbuhan ekonomi yang pesat memberikan tekanan pada keberlangsungan dan kesehatan ekosistem serta layanan-layanan mereka.

Dengan menghitung nilai finansial dari layanan ekosistem ini, perusahaan bisa semakin menyadari ketergantungan mereka pada alam dan memasukkan faktor ekosistem sebagai pertimbangan penting ketika membuat kebijakan.

Banyak perusahaan yang telah memonitor dampak operasi mereka terhadap lingkungan, seperti memonitor polusi dan limbah. Namun semua itu belum mencerminkan besarnya ketergantungan perusahaan terhadap ekosistem dan manfaat yang telah diberikan ekosistem pada masyarakat.

“Hingga saat ini belum ada kesepakatan global tentang cara pelaporan dampak operasional perusahaan terhadap lingkungan. Diskusi dan ide-ide dalam laporan ini memberikan bahan yang bagus untuk menciptakan indikator pelaporan yang baik pada masa datang,” ujar Mônica Barcellos, yang memimpin Divisi Bisnis, Keragaman Biologi dan Layanan Ekosistem di UNEP-WCMC, yang bermarkas di Cambridge, Inggris.

Beberapa contoh indikator yang bisa digunakan untuk mengevaluasi dan melaporkan dampak operasional perusahaan terhadap layanan ekosistem adalah:

– Perusahaan melaporkan jumlah sumber daya alam yang diambil (dipanen) oleh perusahaan. Juga sumber daya alam yang dipakai untuk produksi, konsumsi dan diperdagangkan seperti tanaman, ikan, kayu dan bahan serat. Hal ini dilakukan agar perusahaan selalu memenuhi batas ekologis;

– Jumlah volume air yang dikonsumsi dan pengaruhnya terhadap ketersediaan air di wilayah operasi perusahaan. Perusahaan juga harus melaporkan upaya identifikasi sumber-sumber air baru;

– Kerugian ekonomi yang diderita perusahaan akibat bencana alam terkait iklim, seperti banjir dan gagal panen;

– Volume sumber daya dan bahan baku yang digunakan oleh perusahaan yang sesuai dengan standar produksi yang kredibel dan bertanggung jawab, termasuk yang diperoleh melalui proses pelabelan.

Redaksi Hijauku.com