Masyarakat lokal harus dilatih cara mencegah kebakaran di hutan dan wilayah sekitarnya sepanjang tahun.

Sebuah kemitraan yang didukung oleh Persatuan Bangsa-Bangsa menyeru semua negara untuk lebih memperhatikan aktivitas masyarakat di hutan dan wilayah sekitarnya, seperti aktivitas pembakaran sampah dan sisa produk pertanian, guna mencegah 95% kebakaran liar yang dipicu oleh ulah tangan manusia.

Seruan dari Collaborative Partnership on Forests (CPF), yang terdiri dari 14 organisasi internasional dan sekretariat termasuk Organisasi Pangan dan Pertanian PBB ini dilandasi oleh keprihatinan semakin banyaknya kasus kebakaran liar di berbagai negara.

“Dalam banyak kasus, kebakaran dimulai di padang rumput atau wilayah pertanian yang kemudian menyebar dengan cepat ke wilayah hutan terdekat ,” ujar Pieter van Lierop, ahli pencegahan kebakaran hutan FAO sebagaimana dikutip dari berita FAO, Jum’at (9/9) .

“Ketika masyarakat terus membakar sampah dan limbah pertanian, membuka lahan dengan membakar tanaman, atau membakar padang rumput demi untuk menjaga produktfitasnya, risiko kebakaran hutan dan tanaman dalam skala luas akan terus terjadi, apalagi di tengah kondisi cuaca kering dan panas,” tambahnya.

Menurut van Lierop ada beberapa cara mudah yang bisa dilakukan untuk mencegah api merambat ke luar wilayah pertanian. Petani bisa membakar limbah pertanian lebih awal sebelum musim kering tiba dan menghidari pembakaran lahan saat angin bertiup kencang.

CPF juga menyerukan kebijakan yang lebih terintegrasi untuk mencegah kebakaran, termasuk tidak hanya berfokus pada pemadaman api juga pada pencegahannya, melakukan pembakaran yang terkontrol dan memberikan peringatan kebakaran dan persiapan yang lebih matang – semua itu memerlukan investasi.

“Karena sebagian besar kebakaran bersumber dari ulah manusia, negara harus menerapkan strategi pencegahan kebakaran yang lebih terintegrasi, termasuk di wilayah-wilayah yang sering dilupakan,” ujar van Lierop.

“Masyarakat lokal harus dilatih untuk mencegah kebakaran tanaman sepanjang tahun, tidak hanya selama musim kebakaran. Saat terjadi kebakaran, kita juga harus memperhatikan tingkat emisi gas karbon yang merupakan salah satu sumber potensial pemanasan global,” ujarnya.

Redaksi Hijauku.com