Banyak aspek yang bisa digunakan untuk mendefinisikan energi bersih. Salah satunya, energi bersih adalah “energi yang bisa memenuhi kebutuhan saat ini dan generasi mendatang tanpa terancam kelestariannya.”

Tinjauan lebih lanjut mengenai dampak teknologi terhadap masyarakat dan lingkungan selama masa pakainya (life cycle) bisa membantu mendifinisikan sumber-sumber energi apa saja yang tergolong “bersih” dan “terbarukan.”

Energi bersih adalah teknologi yang menghasilkan gas rumah kaca dalam level yang sangat rendah atau mendekati nol jika dibandingkan dengan teknologi lain. Energi bersih juga tidak memiliki dampak negatif ke masyarakat dan lingkungan selama masa pakainya.

Sumber-sumber energi terbarukan – energi yang berasal dari sumber alami dan lestari seperti cahaya matahari, angin, hujan, gelombang air laut, panas bumi, dan tanaman – biasanya masuk dalam kategori  energi bersih. Sumber-sumber energi terbarukan adalah sumber-sumber yang tidak akan pernah habis atau kering serta memiliki dampak minimal terhadap lingkungan.

Tenaga surya, tenaga angin, panas bumi, gelombang serta pasang surut air laut, air, dan energi biogas, biomassa atau biofuel tergolong sebagai energi yang “terbarukan.”

Namun ada beberapa sumber energi terbarukan – terutama pembangkit listrik tenaga air dan biofuel dalam skala besar – yang dalam produksinya berdampak negatif terhadap lingkungan dan masyarakat, sehingga sulit mengatagorikan sumber energi ini sebagai energi yang “hijau” atau “bersih.”

Pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dalam skala besar bisa menimbulkan dampak sosial dan lingkungan yang sulit diterima. Menurut lembaga swadaya masyarakat, International Rivers: Dalam jangka panjang, bendungan-bendungan besar merugikan masyarakat, lingkungan dan ekonomi: Sumber daya perikanan dan potensi wisata hilang, menenggelamkan lahan pertanian dan hutan.

Lembaga independen “World Commission on Dams” menyebutkan, sebagian besar proyek bendungan telah gagal memberikan kompensasi yang layak pada masyarakat dan gagal mencegah dampak negatif bendungan itu terhadap lingkungan. Aspirasi penduduk lokal tidak didengar. Mereka tidak mendapatkan ganti rugi dan manfaat yang layak sesuai dengan tujuan pembangunan bendungan.

Produksi biofuel dalam skala besar juga memiliki dampak negatif yang signifikan, termasuk berkurangnya akses masyarakat miskin ke bahan pangan. Produksi biofuel adalah salah satu penyumbang utama krisis pangan pada 2008 yang semakin menjerumuskan 100 juta penduduk dunia ke jurang kemiskinan dan lebih dari 30 juta ke bencana kelaparan.

Menurut ActionAid: Upaya untuk meningkatkan kapasitas produksi biofuel akan menciptakan ancaman baru pada ketersediaan lahan dan makanan di seluruh dunia.

Hal ini terutama terjadi di Amerika Latin, dimana perusahaan internasional maupun lokal berupaya meningkatkan produksi tebu, minyak sawit, jarak pagar dan tanaman lain guna mengambil keuntungan dari tingginya harga komoditas dan permintaan pasar, terutama dari Amerika Serikat dan Eropa. Dalam banyak kasus, petani kecil terusir dari lahan mereka dan ekosistem semakin rentan dan terancam.

Teknologi untuk meningkatkan efisiensi energi baik melalui pengurangan pemakaian energi dan meningkatkan efisiensi produksi energi juga bisa dimasukkan dalam kategori energi bersih. Namun, sangat penting untuk dicatat bahwa upaya untuk memperbaiki efisiensi sistem bahan bakar fosil pada kenyataannya akan mendorong penggunaan energi ini lebih lanjut, bahkan walau jumlah polusi dan pemakaian energi ini berkurang.

Tenaga nuklir termasuk dalam kategori bersih, namun energi ini menciptakan sampah radioaktif yang sangat sulit dan hampir mustahil dibuang dengan aman.

Ancaman radiasi dan sulitnya mematikan reaktor nuklir menjadi masalah utama saat pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima Daiichi di Jepang terkena dampak gempa bumi dan tsunami Maret lalu.

Sehingga menurut Public Citizen: Tenaga nuklir tidak tergolong energi bersih: tenaga nuklir menghasilkan sampah radioaktif baik dalam level tinggi atau rendah yang tetap berbahaya dalam jangka waktu ratusan ribu tahun. Sampah nuklir yang sangat berbahaya bagi kesehatan ini dihasilkan dari semua siklus energi nuklir.

Saat ini lebih dari 2.000 metrik ton sampah radioaktif tingkat tinggi dan 340.000 meter kubik sampah radioaktif tingkat rendah diproduksi setiap tahun oleh 103 reaktor aktif di Amerika Serikat.

Belum ada negara di dunia yang mampu menemukan solusi atas masalah sampah nuklir ini.

Sehingga, bahan bakar fossil, tenaga nuklir, pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dengan skala lebih dari 10 MW, dan biofuel konvensional tidak termasuk dalam kategori energi bersih karena dampak negatifnya terhadap kesehatan masyarakat, lingkungan dan pembangunan.

Catatan Redaksi:

Artikel ini diolah dari laporan berjudul “Access to Energy for the Poor: The Clean Energy Option” (Juni 2011) yang disusun oleh Elizabeth Bast dan Srinivas Krishnaswamy. Laporan ini didanai oleh Charles Stewart Mott Foundation dan Rockefeller Brothers Fund.

Redaksi Hijauku.com