Masih Saja Menyimpan Kejutan Menyenangkan Setelah Enam Dekade

2026-10-03T15:47:49+07:003 October 2026|Jalal Menulis Keberlanjutan|

Orang menyiapkan diri untuk 'hari besar' dengan cara yang berbeda-beda. Selama seminggu terakhir, saya melakukannya dengan cara yang oleh sebagian kawan disebut ekstrem: tidak mendengarkan apa pun selain Rubber Soul. Saya bergantian memutar remaster 2009 dan edisi Amerika Serikat 2014, berulang-ulang, seperti pelari yang membiasakan kaki pada tanjakan sebelum hari perlombaan.

Geotermal, Izin Sosial, dan Hal-Hal yang Tak Bisa Dibeli

2026-10-01T15:50:33+07:001 October 2026|Jalal Menulis Keberlanjutan|

Pada akhir September, seorang warga lereng Gunung Ungaran berjalan kaki dari kawasan Candi Gedong Songo menuju Kantor Gubernur Jawa Tengah di Semarang. Dua warga lain mendampinginya, melewati siang yang panas dan malam yang dingin. Tak ada yang menyebut mereka anti-energi bersih. Mereka hanya ingin pemerintah tahu bahwa ada hal di gunung itu yang tidak bisa dihitung dalam Megawatt.

Belajar dari Vanessa Redgrave hingga Macklemore

2026-09-28T15:38:47+07:0026 September 2026|Jalal Menulis Keberlanjutan|

Kisah ini terasa baru, tapi bagi saya yang mengikuti sepak terjang aktivisme para selebritas sesungguhnya ia hanyalah babak terbaru dari sebuah tradisi panjang: para seniman yang bersedia memertaruhkan reputasi, kontrak, bahkan keselamatan pribadi, untuk membela hak-hak rakyat Palestina.

Trotoar Sebetulnya Dibangun untuk Siapa, Sih?

2026-09-25T18:27:49+07:0025 September 2026|Jalal Menulis Keberlanjutan|

Apa yang terjadi di Lapangan Gasibu, Bandung, dalam  beberapa minggu terakhir seharusnya membuat kita semua—termasuk para perencana kota, kepala dinas, dan insinyur sipil yang pernah menandatangani gambar kerja—berhenti sejenak untuk berpikir.

Titik Balik Positif Masih Bisa Kita Ciptakan

2026-09-19T12:38:45+07:0019 September 2026|Jalal Menulis Keberlanjutan, Laporan Utama|

Laporan "Positive Tipping Points" terbaru mengajukan satu pertanyaan yang mengubah seluruh cara kita menilai solusi lingkungan. Bukan lagi "apakah solusi ini berhasil?" melainkan "apakah solusi ini mampu memicu perubahan eksponensial yang mendorong dirinya sendiri sehingga menjadi berskala besar?" Pertanyaan ini jauh lebih sulit dijawab.

Belajar Berkhidmat pada Alam dari Perusahaan Jepang

2026-09-17T11:18:10+07:0017 September 2026|Jalal Menulis Keberlanjutan|

Saya berharap semakin banyak perusahaan Indonesia mau belajar dari perusahaan dan bangsa Jepang—bukan untuk meniru mentah-mentah monozukuri atau nemawashi, sebab akar budaya kita berbeda, tetapi untuk menyerap kesungguhan yang sama: bahwa alam bukan sumberdaya untuk dieksploitasi, melainkan mitra yang harus dijaga keseimbangannya, dan bahwa laba sejati adalah laba yang lahir dari keberlanjutan, bukan yang mengorbankannya.

Go to Top