Resensi buku Esensi Sosial Sains Konservasi – Mengungkap Peran Manusia Dalam Pelestarian Alam (IPB Press, 2025).
Oleh: Mochamad Indrawan *
Ketika ilmuwan dan praktisi berkiprah dalam dunia konservasi, ilmu dan pengetahuan yang dianggap penting dan berperan seringkali hanyalah ilmu-ilmu biofisika, termasuk ilmu ekologi, rekayasa, dan biologi molekuler.
Pertanyaan muncul, adakah manfaat ilmu-ilmu sosial atau sains sosial bagi pelestarian alam? Pertanyaan ini lah yang coba dijawab oleh Arzyana Sunkar dalam bukunya yang berjudul Esensi Sosial Sains Konservasi – Mengungkap Peran Manusia Dalam Pelestarian Alam (IPB Press, 2025).
Yang lebih menarik, sebelum membahas buku ini lebih jauh, Arzyana Sunkar, penulis buku ini juga menyatakan, dirinya terinspirasi oleh buku Sepuluh Cara Baru Mengelola Kawasan Konservasi (2018) yang ditulis oleh Dr. Ir. Wiratno, M.Sc. (mantan Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem / KSDAE Kementerian LHK). Dalam bukunya, Pak Wir, begitu beliau biasa dipanggil, memberikan terobosan paradigma pengelolaan kawasan hutan dan konservasi di Indonesia. Paradigma yang menggeser pola lama yang sentralistik (negara sebagai pemeran utama) menjadi pola baru yang kolaboratif dengan menempatkan masyarakat dan sains sebagai pilar.
Sehingga, kedua buku ini seakan menjawab tren yang ada di dunia internasional saat ini, dimana esensi ilmu-ilmu sosial di bidang konservasi mulai mendapatkan pengakuan, dengan menekankan pentingnya dunia untuk memproduksi pengetahuan secara inklusif melibatkan para pihak terkait (co-production of knowledge).
Lokakarya IPBES (2025) yang melibatkan sejumlah pakar dan perwakilan masyarakat adat dan komunitas lokal adalah contohnya. Dalam lokakarya ini dikritisi pentingnya pemberdayaan pengetahuan tradisional dan local (indigenous and local knowledge) untuk mewujudkan sistem pengetahuan yang beragam (diversified system of knowledge).
Studi S3 Arzyana yang berfokus pada pemanfaatan sumber daya alam berkelanjutan di Kawasan Karst, Gunung Sewu, semakin menguatkan tekadnya untuk membangun diskursus lintas disiplin tentang pengetahuan dan praktik praktik di lapangan. Arzyana terdorong untuk mengintegrasikan berbagai kaidah-kaidah sosial, ekonomi dan budaya yang mempengaruhi hubungan manusia dengan alam.
Dari sinilah diharapkan terwujud pendekatan holistik yang dapat menyadarkan para pihak pada strategi konservasi yang lebih efektif dan berkelanjutan. Kesadaran ini mengkaji interaksi manusia dengan manusia, manusia dengan alam, dan bahkan, manusia dengan Tuhan. Semuanya menjadi unsur penting bagi upaya konservasi.
Harapannya adalah untuk memperkuat peran dan pendekatan ilmu-ilmu sosial, dengan mengindahkan pengetahuan lokal, demi memperbaiki pemahaman mengenai hubungan antara manusia dan alam. Tujuan ini diwujudkan melalui lima bab terkait.
Pada Bab Pertama (Konsepsi dan Urgensi Sosial Sains Konservasi) penulis membahas konsep “manusia sebagai mitra konservasi” Berbagai definisi dan urgensi ilmu-ilmu sosial dan konservasi digambarkan secara ringkas. Misalnya, pada halaman kedua penulis menyatakan bahwa konservasi alam sering dimaknai sebatas upaya perlindungan dan pengelolaan ekosistem alami. Seiring waktu, muncul kesadaran bahwa manusia adalah bagian yang tak terpisahkan dari alam, sehingga harus dilibatkan dalam menjaga kelestarian lingkungan.
Penulis menyampaikan, memahami berbagai disiplin ilmu-ilmu sosial dalam konservasi sangat penting karena ilmu-ilmu sosial ini saling berinteraksi, sehingga perlu ditelaah secara berhati-hati. Salah satu contoh yang menarik adalah pembahasan mengenai “political entreprenuership” yang diperlukan untuk memperkaya perbaikan kebijakan dan tata kelola sumber daya alam. Penulis menyatakan: political entreprenuership melibatkan ”political entreprenuer” yaitu mereka yang mampu mendorong perubahan kebijakan dan sering kali jadi penggerak utama” (halaman 25).
Pada Bab Kedua, penulis mengulas berbagai teori dan konsep ilmu-ilmu sosial dalam konservasi misalnya mengenai pengelolaan sumber daya alam berbasis masyarakat, pemberdayaan masyarakat dalam konservasi, termasuk berbagai acuan keberhasilan, dan prinsip-prinsip komunikasi bagi konservasi. Dalam bab ini kita bisa belajar bahwa ”komunikasi efektif merupakan faktor kunci keberhasilan upaya konservasi, terutama dalam membangun pemahaman bersama, kolaborasi yang solid dan penyelesaian konflik di antara para pemangku kepentingan” (halaman 39).
Di Bab Ketiga yang membahas Metode Penelitian Sosial Sains Konservasi, penulis memberikan aspek aspek kualitatif dan kuantitatif. Termasuk didalamnya adalah desain kuesioner, teknik wawancara dan diskusi terpumpun yang efektif, serta etika penelitian. Metode-metode tersebut penting untuk “menggali dimensi sosial dalam sosial sains konservasi” (halaman 44).
Studi Kasus Penerapan Ilmu-ilmu Sosial dalam Konservasi dibahas di Bab Keempat. Salah satu kasus menarik adalah pelibatan perempuan dalam konservasi Hutan Mutis di Kabupaten Timur Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur. Dalam studi kasus ini penulis menggarisbawahi “dimensi sosial dan psikologis menjadi kunci strategi konservasi yang baik”. Studi kasus lain yang tak kalah menarik adalah pembahasan perspektif budaya dalam mitigasi konflik manusia dan komodo di mana penulis menjabarkan bahwa “budaya bukan sekedar soal adat istiadat, tetapi juga mencerminkan cara pandang dan perilaku manusia terhadap alam. Ia bisa jadi jembatan tapi juga batu sandungan dalam usaha pelestarian” (halaman 77).
Pada Bab Kelima, penulis mengulas tuntas megenai Prospek Pengembangan Sosial Sains Konservasi di Indonesia. Termasuk didalamnya adalah posisi dan tantangan penerapan ilmu-ilmu sosial dalam upaya konservasi dan potensi kolaborasi lintas sektor.
Secara keseluruhan buku sangat menarik, karena memberikan pandangan dan panduan pendekatan ilmu-ilmu sosial lintas disiplin. Keberagaman pemikiran seperti ini sangat dibutuhkan namun sering terlupakan dalam konservasi.
Dalam buku ini, berbagai teori dan berbagai pandangan empiris dijabarkan dengan sangat jelas dan runut, sehingga memicu pembaca untuk mempelajari lebih dalam.
Metode kualitatif dan kuantitatif yang disampaikan sangat membantu pembaca untuk mempraktikkan pendekatan lintas disiplin yang sangat dibutuhkan buat konservasi. Ke depan akan lebih baik bila ada pengenalan kodifikasi untuk studi kualitatif, dengan software sederhana seperti KoboToolbox.
Perspektif budaya dalam mitigasi konflik manusia dengan komodo menurut saya adalah salah satu contoh yang baik yang mengangkat kearifan lokal dengan pandangan ilmiah. Menurut IPBES (2025), tidak ada salahnya menguji kaidah ilmiah dengan kearifan lokal, sehingga terbangun kebersamaan ilmu pengetahuan dan kearifan tradisional.
Ke depan, mungkin buku ini dapat membahas mengenai perlindungan Hak Kekayaan Intelektual yang merupakan milik dari masyarakat adat dan komunitas lokal, terutama ketika peneliti menimba pengetahuan tradisional dan ekologis.
Buku ini juga memberi pencerahkan mengenai pentingnya persetujuan di awal (informed consent). Standar yang lebih umum saat ini adalah Free Prior Informed Consent atau Persetujuan di Awal Tanpa Paksaan (Padiatapa).
Menurut saya, “Pendidikan dan Penyuluhan Berkelanjutan” merupakan salah satu Sub-Bab yang penting untuk dicermati lebih lanjut. Seringkali, Pendidikan dan Penyuluhan hanya berlangsung satu arah, seakan akan masyarakat adat dan komunitas lokal tidak memiliki kearifan lokal dengan nilai tak hingga. Bagian ini seringkali hilang dalam mewujudkan pembelajaran bersama. Pada kenyataannya, banyak hal dapat dipelajari pihak pemerintah dan regulator serta mitra pembangunan dari buku ini dalam melaksanakan tata kelola sumber daya milik bersama.
Bukti bukti pemberdayaan gender sangat penting bagi ilmu-ilmu sosial konservasi. Sebagai contoh, dalam kasus Mollo di Gunung Mutis, Pulau Timor, penulis menyampaikan, jika aspek sosial diabaikan, konservasi berpotensi bisa gagal (halaman 74).
Sebagai perbandingan kualitatif, penulis bisa merujuk pada studi mengenai penjaga hutan perempuan dari Aceh. Dalam riset ini, di jelaskan suatu model perlindungan hutan oleh kelompok perempuan yang mendahulukan keterwakilan dan negosiasi kaum perempuan lokal sehingga mewujudkan modal konservasi berbasis komunitas, bahkan mengubah persepsi tentang peran perempuan (Darwin dkk 2025).
Buku ini dapat bermanfaat untuk berbagai subjek perkuliahan. Tidak hanya terkait dengan tema Kehutanan dan Lingkungan, namun juga Antropologi, Politik Ekologi, Pembangunan Berkelanjutan, Evaluasi Spasial untuk Konservasi termasuk Biologi Konservasi. Semua subyek tersebut sangat membutuhkan pendekatan lintas disiplin, ilmu-ilmu sosial memiliki peran penting di dalamnya.
–##–
* Mochamad Indrawan adalah Peneliti di Pusat Riset Perubahan Iklim (RCCC – UI) dan Pengajar di Departemen Geografi, Universitas Indonesia.
PUSTAKA
Darwin, R. L., Masni, M., Rahman, B., Fitri, C. D., Suwardi, A. C., & Septiana, N. A. (2025). Challenging norms, protecting forests: The agency and negotiation strategies of women rangers in Aceh, Indonesia. Gender Equality: International Journal of Child and Gender Studies, 11(2), 170-186.
Filer, C., Mahanty, S., & Potter, L. (2020). The FPIC principle meets land struggles in Cambodia, Indonesia and Papua New Guinea. Land, 9(3), 67. https://doi.org/10.3390/land9030067
IPBES (2025). Wilfredo Vidal Alangui, Myrle Ballard, Rande C. Bayate, Jill Cariño, Joji Cariño, Adelaido Corcino, Bolivia Delgado, Dave De Vera, Binota Moy Dhamai, Catherine Febria, Elisabeth Gilmore, Mariaelena Huambachano, Mochamad Indrawan, Alice Zione Kammwamba, Sylvia Karlsson-Vinkhuyzen, Zhinal Kinoc, Despina Kitnova, Abigail Kitma, Mahdi Kolahi, Paulina Karim, Maritess Literal, Carolyn Lundquist, Yesenia Hernández Márquez, Onel Masadule, Alice Mathew, Ryan S. Mohammed, Lucy Mulenkei, Melissa Nursey-Bray, Karin Nutti Pilflyky, Ismael Ocen, Ramon de la Concepcion Pichs-Madruga, Sam Poskitt, Teriitutea Quesnot, Sakshi Rana, Maria Elena Regpala, Sandi Ringham, Nick Rahiri Roskruge, Thomas Schmitt, Polina Shulbaeva, Josefa Cariño Tauli and Nutdanai Trakansuphakon. Report of the Indigenous and local knowledge dialogue workshop on Scenarios of the future. 23-26 May 2025, Subic Bay, the Philippines. https://files.ipbes.net/ipbes-web-prod-public-files/2025-12/IPBES_ILK-Scenarios_Workshop2025_REPORT_final.pdf
Leave A Comment