Oleh: Jalal *
Tanggal 22 April setiap tahunnya buat saya sangatlah penting. Lantaran minat dan aktivitas saya terkait keberlanjutan, maka tanggal itu adalah di antara yang paling penting dalam setahun. Sejak tahun 1970 seluruh dunia memeringatinya sebagai Hari Bumi, dan saya menaruh perhatian atas tanggal penting itu sejak awal dekade 1990-an.
Pada tahun 2011 tanggal itu bertambah signifikan. Sebuah keluarga yang menjadi tetangga dan sahabat di klaster perumahan kami menambah anggota keluarga. Paschal, begitu nama sang bocah yang lahir di hari istimewa itu. Saya pun akrab dengannya sejak dia bayi hingga sekarang. Ketika kami sudah bisa bercakap-cakap dengan lancar, saya beri tahu kepada dia bahwa hari ultahnya sungguhlah istimewa, karena diperingati di seluruh dunia sebagai Hari Bumi.
Tahun ini, hari itu bertambah istimewa, karena bertepatan dengan Idul Fitri di sebagian dunia. Dengan dasar penanggalan bulan, memang ada beberapa bagian dunia yang memeringatinya pada tanggal 21 April. Pemerintah Indonesia, bersama-sama dengan otoritas keagamaan lain di seluruh ASEAN dan Australia menetapkan jatuh pada tanggal 22 April, dan saya langsung tersenyum lantaran sadar pada bersatunya tiga peristiwa penting itu.
Seperti biasanya, saya menunaikan Salat Id di Cinere, dekat kediaman ibu mertua. Saya menandai bahwa bacaan sang imam salat sungguhlah bagus. Di sisi lain, isi kutbah sang khatib cenderung sama saja dengan kutbah Id di manapun. Sebetulnya, saya memikirkan isu kutbah yang lebih progresif dan kontekstual dengan situasi yang kita hadapi sekarang, dan akan semakin nyata dalam beberapa dekade mendatang.
Khatib itu bicara soal bagaimana Ramadan menggembleng kita untuk merasakan lapar dan dahaga, menjadi pribadi-pribadi yang memiliki solidaritas sosial pada mereka yang hidupnya kesusahan, mengajarkan hidup bersahaja, menyehatkan badan, meningkatkan rasa syukur atas yang kita miliki, dan secara umum membuat kita menjadi lebih bertakwa. Dalam beberapa dekade saya turut menunaikan Salat Id, isi kutbah itu tak jauh bergeser.
Lantaran 22 April juga adalah Hari Bumi, maka saya benar-benar terpikirkan hikmah Ramadan yang lebih jauh lagi. Kalau kita periksa data mutakhir tentang biokapasitas Bumi, maka setiap orang di Bumi ini sesunggunya seperti mendapat jatah hidup yang ditopang oleh 1,5 hektare lahan. Sayangnya, cara kita hidup sekarang membuat rerata manusia perlu 2,7 hektare. Jadi, kita seperti hidup dengan 1,8 Bumi, padahal kita hanya memiliki 1 saja.
Dan, itu adalah gambaran rerata. Kita tahu bahwa konsumsi antar-kelas sosial ekonomi sangatlah timpang. Mereka yang berada di 1% paling kaya jelas seperti mengonsumsi ratusan, kalau bukan ribuan Bumi; merka yang berada di 10% termakmur mungkin mengonsumsi belasan atau puluhan Bumi. Kalaulah ada hikmah puasa Ramadan yang sangat penting, agaknya perlu dikaitkan dengan konsumsi yang berkelanjutan dan berhati-hati (sustainable and mindful consumption).
Secara rerata, agar kita hidup setara dengan biokapasitas Bumi, kita perlu menurunkan konsumsi sebesar 44,4%. Bisa dibayangkan berapa besar pemotongan konsumsi yang perlu dilakukan oleh mereka yang berada di 1% dan 10% terkaya itu. Kalau Ramadan membuat konsumsi pangan mereka yang berpuasa turun 33,3%-nya—dengan asumsi sahur dan berbuka dengan jumlah yang normal—sesungguhnya penurunan konsumsi musti lebih dalam lagi. Dan, yang harus dipotong secara mendalam ini bukan sekadar konsumsi pangan, melainkan seluruh konsumsi.
Kutbah-kutbah Idulfitri yang selama ini saya dengar selalu menekankan pada solidaritas sosial, yang landasan utamanya kerap dinyatakan sebagai kasih sayang sesama manusia. Saya tak pernah mendengan kutbah yang landasan berpikirnya lebih radikal lagi, yaitu keadilan sosial. Ketika dibujuk untuk memberi dengan kasih sayang, tentu orang mudah melakukannya, mungkin lantaran feel good factor yang menyertainya.
Menjadikan diri dalam posisi sebagai yang memiliki tangan di atas tentulah menarik. Tetapi, kalau dasar gugatan kesadarannya adalah keadilan sosial, ceritanya bisa menjadi lain sama sekali, karena itu berarti masing-masing kita bisa menjadi pelaku dan sumber ketidakadilan itu. Konsumsi kita yang berlebih bisa saja datang dari sumber yang tidak sah, dan bukannya tak memiliki konsekuensi kepada mereka yang hidupnya kekurangan. Kutbah-kutbah tentang makna Ramadan dan Idulfitri tak memersoalkan ini.
Akhir-akhir ini berita di media massa, dan disebarluaskan di beragam grup WA yang saya ikuti, disesai dengan betapa temperatur yang tinggi sedang terjadi di Asia. Judul berita seperti “Asia Terpanggang” atau “Bangladesh Bak Neraka” terus bermunculan. Gelombang panas yang terjadi memang membuat berbagai rekor temperatur di benua ini pecah.
Di India, 6 kota sempat mencatat suhu di atas 44 derajat Celsius; Myanmar mencatatkan suhu di atas 44,2 derajat Celsius; sementara Thailand sempat mengalami suhu 45,4 derajat Celsius. Filipina mencatatkan suhu tertinggi sehari sebelum Idulfitri, yaitu 48 derajat Celsius. Tapi di Bangladesh, suhu tertingginya mencapai 51,2 derajat Celsius. Laos, Tiongkok, Turkmenistan, dan Vietnam seluruhnya mencatatkan suhu di atas 40 derajat Celsius. Indonesia dan Jepang adalah termasuk negeri yang beruntung lantaran ambang batas psikologis 40 derajat Celsius ini belum terlampaui. Suhu meninggi yang dialami Indonesia, menurut BMKG, memang bukan bagian dari gelombang panas itu.
Cuaca ekstrem adalah salah satu perwujudan krisis iklim yang terjadi gegara proses produksi dan konsumsi kita yang menghasilkan emisi gas rumah kaca yang semakin banyak sekaligus, mengurangi kemampuan alam untuk menyerapnya. Salah satu hal terpenting dalam menekan dampak buruk krisis iklim ini jelas adalah penurunan konsumsi total dan rerata secara ekstrem.
Tetapi ini tak banyak dibicarakan. Sebagian besar kita tak ingin diusik oleh kenyataan bahwa kita adalah konsumen yang bertanggung jawab atas kerusakan Bumi dan kesengsaraan orang-orang yang tinggal di dalamnya. Pembicaraan soal hikmah Ramadan juga tak menyatakan bahwa menekan konsumsi sesungguhnya adalah senjata ampuh dalam keadilan sosial.
Keadilan sosial, dan keadilan lingkungan, memiliki berbagai dimensi. Salah satunya adalah dimensi waktu. Keadilan atau ketidakadilan yang kita saksikan sekarang adalah hasil dari perilaku di masa lalu dan sekarang; dan apa yang kita lakukan sekarang akan memiliki dampak kondisi keadilan atau ketidakadilan di masa mendatang. Dalam hal ini, ingatan saya terus melayang pada Paschal dan generasinya.
Tahun ini Paschal bilangan umurnya adalah selusin. Tahun 2030, di mana sains menyarankan dunia memotong emisi hingga 45%-nya, ia akan berusia 19 tahun. Ia mungkin tak akan melihat terlalu banyak perbedaan di antara kondisi sekarang dengan kondisi saat itu. Tetapi, penurunan emisi yang disarankan itu adalah target antara yang disarankan agar dunia bisa menjadi memiliki emisi bersih nol atau net zero emission di tahun 2050, ketika Paschal berusia 39 tahun. Kalau itu tercapai, maka di tahun 2100 dunia akan berada pada ambang relatif aman bagi kehidupan, yaitu kenaikan suhu 1,5 – 2 derajat Celsius dibandingkan dengan pra Revolusi Industri.
Masalahnya, dunia tidak ada dalam trajektori aman itu. Sama dengan gambaran kondisi yang mengkhawatirkan lantaran kita seakan mengonsumsi 1,8 Bumi, dunia sekarang masih berada pada trajektori peningkatan suhu jauh di atas aman. Climate Action Tracker mencatat bahwa kita sedang mengarah pada peningkatan suhu 2,6 – 2,9 derajat Celsius di tahun 2100, dengan asumsi bahwa seluruh janji politis negara-negara itu ditepati seluruhnya.
Artinya, agar Paschal dan generasinya benar-benar aman, bukan saja seluruh janji yang dituliskan dalam dokumen Nationally Determined Contributions (NDCs) itu harus dipenuhi, melainkan target, kebijakan, program, dan sumberdaya yang dibutuhkan untuk mewujudkan kondisi aman itu juga harus dikuatkan. Jauh lebih kuat dibandingkan yang ada sekarang. Hanya dengan cara itulah kita bisa adil secara sosial maupun lingkungan terhadap Paschal dan generasinya.
Di Indonesia agama adalah institusi yang dianggap penting oleh hampir seluruh penduduknya. Termasuk dalam urusan lingkungan. Saya telah menyaksikan beberapa pesantren menjadi pendorong perubahan pengelolaan lingkungan yang luar biasa. Fikih lingkungan juga sudah dituliskan, dan banyak menjadi subjek diskusi. Tetapi, tantangan yang luar biasa besar yang sedang kita hadapi ini membutuhkan upaya yang jauh lebih massif.
Di luar Islam, institusi agama-agama lain juga aktif melihat isu lingkungan sebagai isu yang penting. Pemimpin umat Katolik, agama yang dianut Paschal dan keluarganya, telah mengeluarkan dokumen Laudato si’, yang berisikan kritik Paus atas konsumerisme dan pembangunan yang tak bertanggung jawab, serta ajakan untuk memerbaiki dunia. Dokumen yang dipublikasikan pada tanggal 24 Mei 2015 itu dinyatakan sebagai salah satu dokumen terpenting Katolik di abad ini. Bukan saja bagi umat Katolik, namun juga buat umat beragama lainnya.
Dengan pentingnya institusi agama, maka peran agama dalam membantu umat-Nya mengatasi krisis iklim di Bumi tentu perlu ditingkatkan. Buat umat Islam yang terbiasa mendengar kutbah bahwa puasa itu melatih untuk hidup lebih sederhana dan meningkatkan solidaritas sosial, sudah saatnya diberikan pengertian bahwa konsumsi kita memang perlu ditekan secara drastik, dengan pertimbangan keadilan sosial dan lingkungan inter- dan antar-generasi. Mimbar kutbah Idulfitri di tahun-tahun mendatang perlu benar-benar menekankan hal itu, walau tak lagi bertepatan dengan Hari Bumi dan ultah Paschal. Dan, kerjasama antar-umat beragama, dan dengan mereka yang tak mengafiliasikan diri dengan agama manapun, sangat perlu untuk dikuatkan.
–##–
[…] post Hari Istimewa 22 April 2023: Idul Fitri, Hari Bumi, Ultah Paschal appeared first on Situs Hijau […]