Electric car recharging - WikimediaLebih dari 35 juta mobil elektrik akan ditemui di jalan-jalan utama dunia pada 2022. Perkiraan optimistis ini disampaikan oleh laporan Navigant Research yang dirilis baru-baru ini.

Walau kecil pasar mobil listrik ini, menurut Navigant, berperan penting dalam industri otomotif. Pemerintah dari seluruh dunia berlomba-lomba meningkatkan penetrasi mobil-mobil listrik dipacu oleh manfaat mobil listrik terhadap lingkungan, ekonomi dan kemandirian energi.

Pasar untuk tiga jenis mobil listrik tumbuh pesat, termasuk pasar untuk mobil hibrida (hybrid), mobil hibrida colok yang masih menggunakan listrik (plug-in hybrid) dan mobil listrik bertenaga baterai (battery electric vehicle).

“Dengan harga BBM yan terus tinggi, mobil listrik menjadi pilihan yang lebih ekonomis bagi konsumen,” ujar Scott Shepard, analis riset di Navigant Research. “Walau harga mobil listrik masih tinggi, biaya operasional mobil listrik terbukti lebih efisien.”

Nilai tambah lain dari mobil listrik: munculnya inovasi teknologi yang memungkinkan baterai mobil listrik dipakai sebagai cadangan dan penyeimbang pasokan listrik di jaringan listrik milik pemerintah atau swasta.

Teknologi ini bernama vehicle-to-grid system (V2G) yang memungkinkan perusahaan listrik mengalihkan proses pengisian mobil listrik di luar jam-jam beban puncak (off-peak hours) melalui program permintaan dan pasokan (demand response programs). Dengan teknologi ini sesama pemilik mobil listrik bisa saling “berbagi energi” mengurangi beban perusahaan listrik negara.

Hasilnya, kebutuhan listrik bisa ditekan, dan di negara yang produksi listriknya masih mengandalkan pada bahan bakar fosil polusi gas rumah kaca yang merusak kesehatan dan iklim juga bisa dikurangi.

Redaksi Hijauku.com