Oleh: Jalal
Dua buah tontonan wajib. Secara bersamaan dua dokumenter tentang ikon Lembah Silikon masuk bioskop. Musk karya Alex Gibney dan You Can See Everything karya Nathan Fielder dan Lance Oppenheim tentang Elizabeth Holmes. Keduanya tayang di bioskop-bioskop Amerika Utara mulai 16 Oktober 2026. Bagi siapa pun yang mengurus etika bisnis, tata kelola perusahaan, kepatuhan, atau integritas korporasi, seperti saya, ini kesempatan langka yang dinanti sejak kedua projek diumumkan. Satu pendiri sudah dipenjara, satu lagi yang ingin disebut pendiri masih memegang kekuasaan ekonomi dan politik raksasa. Kalau ditonton berdampingan, keduanya memerlihatkan bahwa skandal etika bukan dongeng tentang orang jahat. Ia adalah cerita tentang sistem yang menghargai narasi indah melebihi bukti.
Gibney, sutradara peraih Oscar, membuat epik berdurasi 232 menit yang diputar perdana di Festival Venesia pada 8 September. Rilis bioskopnya dilakukan lewat Bleecker Street, disusul peluncuran di HBO Max yang konon akan terjadi Januari 2027. Tesisnya, Musk adalah penipu ulung yang akan menipu, memanipulasi, dan mengarang cerita demi mendapatkan keinginannya. Siapa yang tak mau menonton aksi tipu-tipu Musk, triliuner pertama di dunia, ditelanjangi para narasumber yang diwawancarai Gibney?
Musk sendiri menolak diwawancarai, sehingga untuk menghadirkan tokoh sentralnya Gibney bekerja dari arsip. Ia juga menciptakan avatar AI yang menirukan wawancara memakai ucapan asli Musk, pilihan yang menurut sutradaranya disengaja sebagai ironi. Narasumbernya beragam: mantan istri Justine Musk, ayahnya Errol Musk, Geoffrey Hinton, pendiri Tesla Martin Eberhard, dan Reid Hoffman. Ada pula Ashley St. Clair, mantan kekasih Musk yang mengaku bisa bicara karena menolak menandatangani NDA senilai 40 juta dolar.
Muatannya padat. Eberhard menuturkan bagaimana Musk yang sebetulnya bukan pendiri kemudian mengklaim kredit penuh atas Tesla dan menobatkan diri sebagai satu-satunya pendiri. Dalam bagian tentang keselamatan, film menayangkan rekaman deposisi di mana seorang insinyur Tesla menyatakan video promosi yang tampak mengemudi otonom penuh itu sebetulnya direkayasa. Film juga menyebut 65 kematian yang tercatat dalam basis data publik berkaitan dengan kecelakaan yang melibatkan perangkat lunak Tesla.
Paruh kedua menyorot DOGE dan masuknya Musk ke lingkaran Trump. Seorang kritikus lama berkata berinvestasi pada Musk bukanlah seperti bertaruh pada perusahaan raksasa, melainkan pada sebuah agama. Musk, sangat dimengerti, menolak keras seluruh tuduhan yang dialamatkan kepada dia. Pengacaranya, tanpa pernah menonton film ini, menuduh Gibney menolak verifikasi fakta dan mencemarkan nama baik, sementara Musk yang juga belum menonton menyebutnya film palsu.
Fielder dan Oppenheim mengambil jalan hampir berlawanan. Film A24 ini dimulai 34 hari sebelum Holmes dipenjara, ketika ia mengundang kru film yang skeptis untuk merekam setiap geraknya. Kameranya masuk ke rumah Holmes dan pasangannya, Billy Evans, merekam keseharian dan mewawancarai mereka panjang lebar. Sutradara menyebut perjalanan itu berlangsung tiga tahun. Latarnya sudah terkenal. Theranos menghimpun lebih dari 600 juta dolar dengan menjanjikan ratusan tes dari beberapa tetes darah saja bakal memberi tahu segala masalah kesehatan si empunya darah. Akhirnya, Holmes menjalani hukuman 11 tahun karena menipu semua investornya.
Di depan kamera, Holmes menegaskan ia selalu berkata apa adanya. Babak belakang menampilkan Holmes dan Evans menelepon calon mitra untuk “Theranos 2.0”, usaha yang menurut Evans akan ia bangun selama Holmes dipenjara. Menurut liputan KPBS, pihak perusahaan Evans menyatakan Holmes tidak terlibat sama sekali. Fielder mengaku masih bergulat memahami apa yang ia alami. Penonton pun, kata resensi di majalah Fortune, akan keluar dengan perasaan tak pasti soal sosok yang menjadi subjek film ini.
Menurut hemat saya, kedua film jelas sangat layak ditonton oleh mereka yang menyukai film dokumenter, ditandai dengan Rotten Tomatoes yang hampir maksimal. Film tentang Musk kini ada di 96% dari kritikus, dan 94% dari penonton awam. Film soal Holmes diganjar 96% baik oleh kritikus maupun penonton awam.
Tetapi, menonton kedua film membutuhkan jenis kewaspadaan berbeda. Gibney bekerja seperti jaksa, dan kekuatannya ada pada arsip, deposisi, dan saksi yang pernah ada di dalam. Risikonya, film ini terasa seperti khotbah kepada yang sudah yakin bahwa Musk adalah bajingan. Sebuah ulasan menilai gimmick sentralnya kurang berhasil, dan ulasan lain menganggap adegan ala game tembak-menembak malah membelokkan narasi. Tapi, itu riak kecil di antara samudera pujian. Absennya suara Musk juga membuat film ini timpang. Penolakan wawancara tentu bukan bukti kesalahan Musk, tetapi penonton wajib memisahkan klaim film dari fakta yang sudah diputus pengadilan.
Fielder dan Oppenheim mengambil jalan tidak menghakimi. Mereka menjebak penonton dalam pertanyaan yang lebih mengganggu: siapa sebenarnya sedang memanipulasi siapa? Itu kekuatan yang sekaligus bahaya, karena film berisiko memberi panggung baru bagi seorang terpidana yang menipu investor sekaligus publik di sektor kesehatan. Seorang kritikus yang saya baca komentarnya menyebutnya sebagai salah satu dokumenter tahun ini yang terbaik sekaligus paling menjengkelkan.
Kalau mau dibandingkan penekanan keduanya, para kritikus menyatakan bahwa Gibney menjelaskan sistemnya dan Fielder memerlihatkan psikologinya. Kedua dimensi selalu menarik untuk dilihat pada kasus-kasus kejahatan kerah putih maupun kejahatan korporasi manapun.
Pelajaran Etika Bisnis
Kedua film bukan saja dua mahakarya dokumenter yang bakal terus dihujani penghargaan, dikenang hingga puluhan tahun ke depan, tetapi juga adalah bahan pelajaran etika bisnis yang sangat kaya. Setelah membaca banyak komentar kritikus dan pakar soal keduanya, saya menemukan setidaknya enam hal berikut bakal jadi perhatian para penonton yang mau belajar etika bisnis lebih dalam:
Pertama, kebenaran paling mahal ketika menyangkut nyawa. Theranos menjual hasil tes yang tidak bisa diandalkan kepada pasien. Tesla, menurut klaim film para narasumber, memasarkan kemampuan mengemudi yang dilebih-lebihkan, dengan bukti sebuah video promosi yang direkayasa. Etika bisnis punya satu kaidah yang tak bisa ditawar. Semakin besar risiko ke tubuh dan jiwa manusia, semakin ketat kewajiban jujur tentang kemampuan produk. Berpura-pura sampai benar-benar berhasil mungkin bisa dimaafkan buat pemanfaatan aplikasi foto, tetapi jelas tidak di laboratorium klinis atau jalan raya.
Kedua, kultus pendiri adalah kegagalan tata kelola yang disamarkan sebagai kepemimpinan visioner. Dewan Theranos dipenuhi nama-nama besar tanpa keahlian medis sama sekali, dan investor Musk menurut salah satu narasumber film hanya membeli keyakinan dari ucapan-ucapan, bukan analisis yang waras. Ketika pendiri dianggap tak terbantahkan, fungsi kontrol runtuh: direksi independen, auditor, dan komite risiko menjadi sekadar dekorasi. Pelajaran praktisnya, uji kemandirian para pengawas (non-executive directors) lewat kemauan dan keberanian mereka berkata ‘tidak’ kepada pendiri, bukan lewat ringkasan biografi mereka yang pasti ditulis agar moncer.
Ketiga, penegakan hukum bersifat asimetris dan kerap berbanding terbalik dengan kekuasaan. Holmes dihukum penjara karena penipuan investor, dan perkiraan bebasnya Februari 2030. Rekam jejak Musk dengan regulator jauh lebih ‘ringan’. Pada 2018 ia membayar denda sipil 20 juta dolar dan melepas jabatan ketua Tesla dalam kasus pernyataan “pendanaan yang sudah terjamin”. Pada Mei 2026 ia menyelesaikan gugatan SEC soal keterlambatan mengungkap kepemilikan Twitter tanpa mengakui atau menyangkal kesalahan, dengan denda 1,5 juta dolar. Seorang hakim menyetujui kesepakatan itu sambil menyatakan keraguan besar atas sejumlah tanda bahaya. Adil pula dicatat bahwa perkara Musk umumnya perdata dan ia membantah semua tuduhan. Pengadilan sipil tetap bergerak: juri menyatakan Musk bertanggung jawab atas menyesatkan investor Twitter pada Maret 2026, dan seorang hakim federal memertahankan vonis 243 juta dolar terhadap Tesla atas kecelakaan fatal terkait Autopilot. Pelajarannya, sanksi yang kelewat ringan seperti yang diterima Musk bakal dianggap sebagai biaya berbisnis belaka, dan tidak mencegah apa-apa. Denda harus cukup besar untuk menyakitkan, disertai pengembalian keuntungan dan tanggung jawab personal. Dan ini hanya mungkin terjadi bila sogokan-sogokan Musk kepada Trump dan Partai Republik habis masa saktinya.
Keempat, hukuman tidak sama dengan pembelajaran moral. Film Fielder dan Oppenheim mungkin paling mengganggu di titik ini. Seorang terpidana tetap membicarakan “Theranos 2.0” sebelum hukumannya selesai. Penegakan hukum menghentikan pelaku, tetapi tidak otomatis mengubah budaya yang melahirkannya. Di perusahaan-perusahaan Musk tampaknya sama, hukuman perdata yang kelewat ringan masih tak punya gigi atas perilaku Musk sama sekali. Organisasi yang pernah menyaksikan pelanggaran perlu membangun refleksi, kompensasi korban, dan batas kembalinya pelaku ke posisi kepercayaan. Tapi itu benar-benar urusan norma yang menjadi jiwa tata kelola, bukan hanya pasal hukum pidana dan perdata.
Kelima, kekuasaan politik bisa melemahkan pengawasan. Menurut para narasumber film, Musk memandang Trump sebagai kandidat yang jauh lebih mudah dibeli lantaran kecintaannya pada kekayaan yang diperoleh dengan mudah, dan ada kasus pidana terkait Autopilot yang berpotensi memenjarakannya karena melayangnya puluhan nyawa. Tentu itu masih klaim dari narasumber film, belum jadi putusan pengadilan. Namun polanya penting bagi etika korporasi: ketika pemilik perusahaan menjadi pemain kekuasaan, konflik kepentingan antara penerima pengawasan dan pembuat kebijakan menjadi bersifat struktural. Musk yang jauh lebih kaya daripada Holmes tentu jauh lebih mampu membeli hukum. Di situlah integritas regulator, pemisahan peran, dan transparansi pendanaan politik menentukan.
Keenam dan terakhir adalah pelajaran penting untuk kita di Indonesia. Ekosistem keberlanjutan kita sedang bergantung pada klaim yang diverifikasi, dari pelaporan ESG hingga asurans independen atas laporan keberlanjutan. Kedua film mengingatkan bahwa klaim yang memukau akan selalu tumbuh lebih cepat daripada verifikasinya, kecuali ada tiga hal. Pertama, asurans independen yang benar-benar independen dalam semangat dan praktik, bukan sekadar di atas kertas. Kedua, perlindungan bagi pelapor yang berani bersaksi tentang kejahatan korporasi, seperti yang menyatakan video Autopilot itu direkayasa, juga untuk yang berkata bahwa keampuhan metode pengetesan darah itu tak didukung sains. Ketiga, kita semua membutuhkan regulator yang berani menindak perusahaan besar dan berkuasa, setegas ketika mereka menindak yang kecil.
Saya juga hendak menyatakan bahwa dua film ini bukanlah tentang dua orang pelaku kejahatan kerah putih dan kejahatan korporasi. Keduanya sebetulnya adalah film tentang kita, para investor, karyawan, regulator, masyarakat dan penonton, yang terlalu lama bersedia percaya pada cerita-cerita yang menakjubkan dan menyenangkan tanpa kritisisme yang sehat. Menonton keduanya adalah latihan melawan kebiasaan itu.
–##–
Penerbangan Balikpapan – Jakarta, 3 November 2026 07:43
Leave A Comment