Oleh: Jalal
Buat saya ada pertandingan sepakbola yang membawa beban lebih berat daripada sekadar pertandingan pada umumnya. Pertemuan Prancis melawan Maroko di perempat final Piala Dunia 2026, yang digelar di Gillette Stadium pada Kamis malam waktu setempat (Jum’at, dini hari jam 03:00 WIB), termasuk yang lebih berat itu.
Laga kali ini bukan sekadar ulangan dari semifinal Piala Dunia 2022 di Qatar, ketika Prancis menang 2-0 dan melaju ke final. Ini adalah pertemuan yang mengharuskan saya memilih antara dua kesetiaan yang saya pegang sejak lama: kekaguman puluhan tahun terhadap Prancis sebagai salah satu kekuatan sepak bola paling matang di dunia, dan keyakinan saya yang tak kalah lama sebagai penentang kolonialisme, yang membuat saya diam-diam menginginkan kekalahan negara yang pernah menjajah Maroko selama empat puluh empat tahun, sejak protektorat dipaksakan pada 1912 hingga kemerdekaan Maroko dicapai pada 1956.
Rekor pertemuan kedua tim condong tegas ke satu arah. Dari enam laga sepanjang sejarah, Maroko hanya menang sekali, itupun lewat adu penalti di King Hassan II Cup 1998, sudah 28 tahun lalu. Prancis menang empat kali, termasuk kemenangan telak di semifinal 2022 yang masih membekas di ingatan para pemain Maroko. “Laga melawan Prancis itu masih ada di ingatan kami,” kata gelandang Maroko Azzedine Ounahi menjelang pertandingan, seraya menambahkan bahwa skor pada 2022 itu tidak sepenuhnya mencerminkan jalannya pertandingan.
Secara teknis, kali ini kedua tim datang dengan modal berbeda. Prancis lolos ke delapan besar dengan susah payah, mengalahkan Paraguay 1-0 lewat gol penalti Kylian Mbappe dalam laga yang penuh tekanan. Maroko sebaliknya tampil meyakinkan, menyingkirkan tuan rumah Kanada dengan skor telak 3-0, dengan Ounahi mencetak dua gol dan Soufiane Rahimi menambah satu. Asisten pelatih Prancis, Guy Stephan, mengakui Maroko kali ini datang dengan ancaman yang nyata. Ia menyebut tim Maroko terorganisasi dan solid, dengan kemampuan transisi menyerang yang efektif, dan telah terbukti menghasilkan banyak gol sepanjang turnamen.
Ada juga lapisan personal yang menambah kerumitan narasi ini: sejumlah pemain kunci Maroko punya ikatan langsung dengan Prancis. Bek kanan Achraf Hakimi, misalnya, pernah menjadi rekan setim Mbappe di Paris Saint-Germain selama beberapa musim. Hubungan semacam ini adalah gambaran nyata dari sejarah migrasi antara kedua negara. Sejarah yang, disadari atau tidak, berakar pada hubungan kolonial yang membentuk jalur perpindahan warga Maroko dan negara-negara Afrika lainnya ke Prancis selama lebih dari satu abad.
Bagi saya, yang menyaksikan pertandingan 2022 dengan perasaan campur aduk antara kekaguman dan kekecewaan, laga malam ini terasa seperti kesempatan kedua yang jarang diberikan sejarah. Ketika Maroko melaju ke semifinal empat tahun lalu, mereka mencatat pencapaian yang belum pernah diraih negara Afrika atau Arab mana pun di ajang ini. Momen itu, bagi banyak pengamat, melampaui sepakbola. Ia seperti menjadi simbol bahwa hierarki lama dunia, yang menempatkan bekas negara jajahan di posisi periferal, bisa digoyang, setidaknya untuk sementara, di lapangan hijau.
Pertanyaannya sekarang adalah apakah Maroko bisa mengulang, atau bahkan melampaui, pencapaian itu, dan kali ini dengan mengalahkan negara yang sama yang menghentikan langkah mereka sebelumnya. Itu bukan tuntutan dan harapan yang mudah buat negeri itu. Prancis tetap membawa kehandalan skuad dan pengalaman bermain di panggung besar yang sulit ditandingi tim mana pun di turnamen ini. Tapi seperti dikatakan Stephan sendiri, keunggulan di atas kertas tidak menjamin apa pun ketika berhadapan dengan tim yang bermain tanpa beban dan dengan motivasi yang jauh melampaui sekadar untuk mendapatkan poin atau satu tiket ke semifinal.
Saya jelas tidak akan berpura-pura bahwa harapan saya malam ini murni ‘objektif’. Sebagai orang yang menghayati sejarah kolonial sebagai bagian dari cara saya memahami dunia, saya menginginkan kemenangan Maroko bukan semata sebagai hasil olahraga, melainkan sebagai simbol kecil dari pembalikan yang masih jarang diberikan sejarah kepada mereka yang pernah dijajah. Itu adalah harapan yang saya sadari sepenuhnya bersifat emosional, bukan analitis, dan saya kira di situlah letak daya tarik sepakbola sebagai arena publik: ia mengizinkan orang-orang seperti saya untuk membawa sejarah, ideologi, dan identitas ke dalam sembilan puluh menit atau lebih yang, di permukaan, hanya soal siapa yang mencetak gol lebih banyak.
Apa pun hasilnya nanti dini hari, satu hal sudah pasti: laga ini akan terus dibaca bukan hanya sebagai pertandingan sepakbola, tetapi sebagai babak lanjutan dari hubungan panjang dan rumit antara dua negara yang sejarahnya tidak pernah benar-benar selesai, dan mungkin tidak akan pernah selesai, hingga jauh setelah wasit meniup peluit akhir beberapa jam dari sekarang.
Jakarta, 9 Juli 2026 19:55
Leave A Comment