Dalam beberapa tahun belakangan ini, rekor suhu permukaan bumi di berbagai penjuru dunia terus terpecahkan. Data tren pemanasan global jangka panjang mencatat periode sepuluh tahun terakhir antara 2015 hingga 2024 sebagai dekade terpanas dalam catatan sejarah. Tahun 2024 tercatat secara resmi sebagai tahun terpanas sepanjang sejarah, dengan temperatur ratarata 1,55°C di atas rata-rata tahunan tahun pada periode praindustri (antara 1850–1900).

Sementara itu, tahun 2025, secara resmi menempati peringkat ketiga tahun terpanas sepanjang catatan sejarah. Dan bulan terpanas sepanjang sejarah tercatat terjadi di bulan Januari 2025 berdasarkan data dari Copernicus Climate Change Service (C3S). Suhu udara permukaan ratarata global untuk bulan Januari 2025 tersebut adalah 13,23° C (55,8° F).

Data-data di atas memunculkan pertanyaan, apakah kondisi pemanasan global saat ini semakin parah? Jawaban atas pertanyaan tersebut terpapar gamblang dalam hasil riset terbaru yang diterbitkan dalam Jurnal Geophysical Reseach Letters, Jum’at, 6 Maret 2026. 

Dalam analisisnya yang berjudul Global Warming Has Accelerated Significantly, dua peneliti yaitu G. Foster dan S. Rahmstorf menemukan bahwa analisis percepatan atau peningkatan tingkat pemanasan global sebelumnya belum mencapai tingkat kepercayaan 95% akibat variabilitas suhu alami.

Untuk itu, keduanya kemudian menghilangkan perkiraan pengaruh dari tiga faktor variabilitas alami utama yaitu El Niño, vulkanisme atau letusan gunung berapi, dan variasi matahari. Dengan data yang disesuaikan ini, kedua peneliti berhasil menunjukkan bahwa telah terjadi akselerasi dengan kepercayaan yang lebih tinggi, yaitu lebih dari 98%. Menurut tim peneliti, pemanasan global juga terjadi lebih cepat selama 10+ tahun terakhir dibanding dekade-dekade sebelumnya.

Percepatan pemanasan global yang signifikan ini secara statistik terjadi sejak sekitar tahun 2015. Hal ini menimbulkan kekhawatiran dan menunjukkan betapa tidak memadainya upaya yang dilakukan sejauh ini untuk memperlambat dan akhirnya menghentikan pemanasan global di bawah Persetujuan Paris (Paris Agreement)

Kunci keberhasilan untuk menghentikan peningkatan tren pemanasan global ini menurut kedua peneliti ada di tangan kita. Studi menunjukkan bahwa pemanasan global akan berhenti sekitar saat umat manusia mencapai nol emisi CO2 (Jenkins, Sanderson, et al., 2022). Namun  dampak dan kerusakan akibat pemasan ini – seperti kenaikan permukaan air laut dan mencairnya lapisan es – hampir tidak bisa dipulihkan.

Dengan iklim politik saat ini, kedua peneliti menyatakan, sangat mungkin bahwa pemanasan global akan terus berlanjut dan bahkan bisa semakin parah. Dampaknya jelas: jika laju pemanasan global dalam 10 tahun terakhir berlanjut, batas kenaikan suhu bumi 1,5°C yang ditargetkan oleh Persetujuan Paris akan terlampaui pada 2030 dengan dampak perubahan iklim seperti cuaca yang akan semakin ekstrem lagi. Dunia, siap-siap lah beradaptasi! 

Redaksi Hijauku.com