Sumbangan Pemikiran Raja Swamy untuk Memahami Krisis Kemanusiaan Kita

Oleh: Jalal

Memahami Bencana Seutuhnya

Di era ketika bencana iklim menghantam dengan kekuatan yang belum pernah terjadi sebelumnya, ketika kebakaran hutan melahap kota-kota, dan ketika pandemi mengekspos ketidakadilan sistemik yang telah lama kita biarkan, Raja Swamy, profesor antropologi kebencanaan di Universitas Tennessee, hadir dengan sebuah pernyataan yang berani: bencana bukanlah peristiwa acak yang menimpa masyarakat yang rentan, melainkan produk dari sistem ekonomi yang secara aktif mengeksploitasi manusia dan alam.

Kitab teranyarnya, bagi saya yang masih terus berduka untuk jutaan orang di Sumatera, Capitalism and Catastrophe: A Critical Disaster Studies bukanlah sekadar analisis akademis yang memikat. Swamy seakan berbicara langsung kepada saya, memanggil untuk benar-benar memahami bagaimana Kapitalisme global, imperialisme, dan rasisme struktural berkonspirasi menciptakan kondisi yang membuat sebagian penduduk dunia jauh lebih rentan terhadap bencana daripada yang lain.  Dengan menggabungkan etnografi mendalam khas antropolog jempolan, teori Marxis, dan solidaritas politik yang eksplisit dari seorang aktivis, Swamy menantang kita semua untuk melihat bencana bukan sebagai momen luar biasa yang terpisah dari kehidupan sehari-hari, tetapi sebagai puncak dari kontradiksi kapitalistik yang telah lama mengakar dalam tatanan material-sosial kita.

Bukan Kerentanan, Melainkan Eksploitasi

Swamy membuka bukunya dengan gambar yang menghantui: dunia yang dikuasai oleh para pemimpin politik dan bisnis yang bersikeras menyeret kemanusiaan ke jalur yang sama yang telah membawa kita pada krisis iklim, pandemi mematikan, dan tatanan kapitalis global yang dibangun di atas eksploitasi yang semakin dalam. Mengutip tesis kesembilan filsafat sejarah Walter Benjamin—tentang sudut pandang satu bencana tunggal yang terus menumpuk hingga terjadi ‘reruntuhan demi reruntuhan’—ia berpendapat bahwa Kapitalisme dalam fase imperialisnya terus mendatangkan malapetaka di seluruh penjuru Bumi, meninggalkan luka yang menganga maupun tak tampak dari lautan terdalam, di tanah, hingga lapisan atmosfer tertinggi.

Argumen inti Swamy adalah bahwa studi bencana konvensional gagal melihat ini semua lantaran berfokus pada kerentanan sebagai kategori analitis utama. Alih-alih, ia mengusulkan perpindahan teoretis menuju pemahaman tentang eksploitasi—bagaimana bahaya sehari-hari yang kita hadapi sebenarnya ‘produktif’ bagi kebutuhan eksploitatif hubungan produksi kapitalis kontemporer. Melalui kerangka materialisme historis, ia menunjukkan bagaimana kondisi yang berlaku sebelum bencana—yang ia sebut sebagai kondisi ‘normal’—sebenarnya penuh dengan kontradiksi dan bentuk-bentuk kekerasan struktural yang terus dinormalisasi.

Swamy lalu mengembangkan tiga alat konseptual temporal untuk menghubungkan yang sehari-hari dengan yang sistemik: ritme, retakan, dan konjungtur. Ritme memungkinkan kita memahami karakter siklus waktu dan aktivitas sehari-hari di bawah Kapitalisme—bagaimana orang harus terlibat dalam pola berulang dari aktivitas fisik dan mental untuk memenuhi kebutuhan dasar bertahan hidup. Retakan metabolik—konsep yang ia pinjam dari Marx—membantu kita memahami kontradiksi sistemik yang menentukan hubungan antara Kapitalisme di satu sisi, dan kemanusiaan serta alam di sisi lain. Konjungtur membuka analisis pada kemungkinan-kemungkinan politis yang melekat dalam momen krisis sistemik.

Swamy menerapkan kerangka kerjanya pada berbagai konteks: pekerja Latinx di Houston yang berjuang dengan rasisme lingkungan dan pekerjaan tidak tetap pasca-Badai Harvey; nelayan Tamil di India selatan yang melawan penggusuran atas nama industri wisata setelah tsunami 2004; komunitas kulit hitam di New Orleans yang menghadapi privatisasi dan gentrifikasi setelah Badai Katrina; dan penduduk Lahaina, Maui, yang berjuang keluar dari dampak kebakaran hutan 2023 yang meluluhlantakkan kehidupan mereka.

Yang sangat kuat menggamit benak saya adalah analisis Swamy tentang super-eksploitasi di Global South—kondisi di mana pekerja dibayar dengan upah di bawah nilai tenaga kerja mereka, menghasilkan keuntungan besar bagi korporasi Global North sambil mengutuk ratusan juta orang dalam kemiskinan dan kehidupan tidak aman. Ia menunjukkan bagaimana ekonomi pariwisata Maui, misalnya, dibangun di atas warisan sejarah Kapitalisme perkebunan, pencabutan hak masyarakat asli, dan eksploitasi air dan tanah yang terus berlanjut. Ketika akhirnya kebakaran hutan melanda pada Agustus 2023, tereksposlah kontradiksi yang telah ada sejak lama antara kebutuhan modal dan kebutuhan masyarakat pekerja dan penduduk asli Hawaii.

Sepanjang buku, Swamy tidak pernah membiarkan kita melupakan dimensi kemanusiaan dari dinamika sistemik ini. Ia menceritakan kisah-kisah seperti Cody, seorang mekanik muda di Manchester, Houston, yang selamat dari kebocoran benzena selama Badai Harvey tetapi kemudian kehilangan ayah tirinya dan pekerjaannya karena deportasi; atau anak-anak Gaza berusia 16 tahun yang telah mengalami enam perang, yang masa kanak-kanaknya ditandai bukan oleh tahun kalender tetapi oleh gelombang kekerasan berulang yang dilakukan oleh kekuatan pendudukan Israel. Atas pembelaannya yang gigih terhadap rakyat Palestina, Swamy sudah ‘kenyang’ difitnah oleh beragam kelompok pro-Israel.

Swamy juga secara kritis mengaji peran aktivitas humanitarian dalam tatanan Neoliberalisme. Sementara mengakui bahwa beberapa LSM terlibat dalam politik perlawanan yang bermakna, ia berpendapat bahwa sebagian besar praktik humanitarian masih berfungsi untuk mendepolitisasi masyarakat yang menderita lantaran bencana, mengubah mereka dari subjek historis dan politik menjadi penerima hadiah yang pasif. Humanitarianisme, dalam banyak kasus, menjadi alat untuk memfasilitasi akumulasi modal dengan menutupi tujuan pemulihan yang sesungguhnya dalam retorika belas kasihan, bukan menuntut tanggung jawab atas dampak keputusan dan aktivitas perusahaan.

Buku ini diakhiri dengan seruan mendesak untuk solidaritas kita yang peduli pada keadilan dan keberlanjutan. Mengakui bahwa kita hidup dalam konjungtur historis yang ditandai oleh krisis sistemik berganda—ekonomi, politik, sosial, dan ekologis—Swamy berpendapat bahwa resolusi di antara beragam krisis itu menuntut munculnya tatanan baru. Imperialisme yang dipimpin AS memang sedang menurun pengaruhnya, tetapi itu menjadikannya semakin represif dan tak lagi berpura-pura menghormati tata aturan global.  Blok kekuatan alternatif memang sedang muncul tetapi agaknya tetap berkomitmen pada varian Neoliberalisme. Sementara, gerakan sosial akar rumput di seluruh dunia mencoba mengartikulasikan visi untuk masa depan yang dilandaskan lebih pada Ekososialisme. Dalam konteks perubahan seperti ini, studi bencana kritis jelas tidak dapat sekadar menjadi upaya akademik, melainkan harus berkontribusi pada perjuangan politik global untuk dunia yang lebih baik.

Kekuatan Akademisi/Aktivis

Dari sudut pandang akademik, kekuatan terbesar buku Swamy jelas terletak pada sintesis teoretis yang luar biasa dan keberanian mengambil posisi politiknya. Ia berhasil menenun bersama beragam tradisi intelektual—dari ekologi politik hingga studi bencana, dari antropologi hingga ekonomi politik Marxis—menjadi kerangka kerja yang koheren dan dapat diterapkan. Penggunaan konsep ritme, retakan metabolik, dan konjungtur sangatlah cemerlang, menyediakan alat konseptual yang memungkinkan analisis yang menghubungkan perjuangan kehidupan sehari-hari dengan proses sistemik yang lebih luas tanpa menjadi reduksionis sama sekali.

Yang sama mengesankannya adalah komitmen eksplisit Swamy terhadap antropologi aktivis. Ia dengan tegas menolak ilusi netralitas akademis, dengan tegas menyatakan solidaritasnya dengan populasi yang dieksploitasi dan terpinggirkan yang ia pelajari. Posisi ini bukan sekadar sikap; ia membentuk metodologi dan analisisnya secara fundamental. Dengan memulai dengan pertanyaan “Dengan siapa saya bersama dalam solidaritas berlandaskan keadilan dan keberlanjutan?” ia mengingatkan kita bahwa produksi pengetahuan selalu berada di dalam dunia, tidak pernah berdiri di luarnya, atau bahkan sekadar dalam ilusi jarak di antara keduanya.  Oleh karenanya, kalimat-kalimat Swamy adalah analisis sekaligus seruan dari sudut pandang korban ‘kemajuan dunia’.

Studi kasus yang disajikan Swamy sangat kaya akan detail etnografis sambil tetap terhubung dengan keprihatinan masyarakat dan integritas teoretis yang lebih luas. Analisisnya tentang kebakaran Lahaina sangat kuat, menelusuri garis dari perjumpaan kolonial awal hingga ekonomi pariwisata kontemporer, menunjukkan bagaimana setiap fase mewakili tahap berbeda dalam retakan metabolik antara modal dan kehidupan. Demikian pula, diskusinya tentang Gaza—meskipun sangat memilukan untuk dibaca—sangatlah diperlukan, memaksa kita untuk menghadapi bagaimana logika Kapitalisme dalam fase imperialismenya sekarang mencakup bukan hanya super-eksploitatif tetapi juga eliminasi langsung dari kehidupan manusia. Kapitalisme yang mewujud dalam imperialisme memang tak malu-malu menangguk untung dari genosida.

Yang sangat saya sukai dari gaya penulisan Swamy itu adalah kejelasan dan kemudahannya diakses tanpa menyederhanakan ide-ide yang kompleks sama sekali. Ia menulis untuk memincamkan pengeras suara kepada seluruh korban Kapitalisme, dengan urgensi yang mencerminkan momen historis di mana kita berada, sambil terus memertahankan ketelitian analitis.

Mencari Rekomendasi Konkret

Meskipun cakupan yang ambisius adalah kekuatan buku ini, kadang-kadang terasa seolah-olah Swamy mencoba mencakup terlalu banyak hal. Setidaknya itulah yang saya rasakan. Diskusi tentang situasi mutakhir humanitarianisme, misalnya, meskipun memang sangat berharga untuk disampaikan, rasanya perlu dikembangkan menjadi buku terpisah. Demikian pula, sementara kritiknya terhadap konsep modernitas sangatlah penting, ia kadang-kadang terjebak dalam perdebatan akademik dengan cara yang mungkin mengasingkan pembaca yang tak berlatar belakang antropologi atau sosiologi yang kental.

Mungkin lebih mendasar lagi, meskipun Swamy sangat baik dalam mendiagnosa masalah dan mengidentifikasi kontradiksi yang ada, ia masih kurang detail tentang strategi politik konkret untuk transformasi. Seruan untuk masa depan berlandaskan Ekososialisme tentu saja sangat menginspirasi (dan saya amini berkali-kali), tetapi bagaimana kita bisa benar-benar sampai di sana dari situasi kita sekarang? Gerakan sosial manakah yang paling menjanjikan keberhasilan? Bentuk organisasi apa yang kita butuhkan untuk mewujudkannya? Ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang, menurut saya, para pembaca kritis akan merasa ditinggalkan untuk bergulat sendiri. Seandainya Swamy mau memberi ruang yang lebih luas bagi diskusi soal gerakan dan strategi sosial kontemporer, argumen buku ini bakal makin kuat.

Kitab bagi yang Peduli

Kitab Capitalism and Catastrophe karya Swamy ini jelas adalah bacaan penting bagi siapa saja yang mencoba memahami lebih dalam dunia kita yang ditandai dengan polikrisis. Buat akademisi, aktivis, atau warga yang peduli yang mencoba memahami mengapa bencana tampaknya semakin sering dan parah, Swamy menawarkan kejelasan yang jarang saya baca sekaligus mendesak untuk memikirkan ulang cara kita mengorganisasikan ekonomi. Ia menantang kita untuk melihat melampaui narasi resmi tentang bencana sebagai ‘tindakan Tuhan’ atau kegagalan individu, dan sebaliknya memahami mereka sebagai produk dari sistem eksploitasi yang bisa, perlu, dan harus diubah. Dalam momen ketika genosida disiarkan secara langsung, atmosfer Bumi terus memanas menuju kehancuran, dan air mata jatuh bercucuran untuk saudara-saudara di Sumatra, kita membutuhkan analisis yang tidak takut menyebut sistem itu dengan namanya, juga memanggil kita semua untuk bertindak melawannya. Buku Swamy melakukan keduanya dengan keberanian luar biasa.

Depok, 20 Desember 2025