Peningkatan suhu bumi menjadi penyebab hujan ekstrem yang terjadi di Indonesia, Malaysia, Sri Lanka, dan sejumlah wilayah di sekitarnya. Hal ini terungkap dalam penelitian ilmiah terbaru Sarah Kew beserta tim yang diterbitkan dalam World Weather Attribution, 10 Desember 2025.
Peningkatan peristiwa curah hujan ekstrem akibat peningkatan suhu bumi ini mengikuti prinsip Clausius-Clapeyron, yang menyatakan jika suhu bumi naik 1°C, retensi atau penyimpanan air di atmosfer akan meningkat sekitar 7% (Trenberth, 2011; Adam, 2023).
Meskipun ada variabilitas regional di Eropa, Asia, Afrika, dan Amerika (Alexander et al., 2006; Zhang et al., 2013; Donat et al., 2016), tren global menunjukkan peningkatan frekuensi dan intensitas curah hujan lebat, dengan proyeksi yang terus meningkat hingga akhir abad ini (Alexander et al., 2017; Seneviratne et al., 2021).
Peningkatan ini juga diamati terjadi di kawasan Asia Tenggara, di mana telah terjadi peningkatan variabilitas dan ekstremitas curah hujan dalam periode 1951 hingga 2014 (Singh dan Xiaosheng, 2020).
Proyeksi curah hujan ekstrem yang berfokus pada Indonesia (Kurniadi et al., 2023) menunjukkan variasi spasial dan musiman yang besar, tetapi secara keseluruhan menunjukkan peningkatan ekstrem basah yang berkelanjutan selama musim hujan, dengan nilai ekstrem atas melampaui rekor periode sejarah yang dipelajari antara tahun 1987-2014.
Di bagian utara Indonesia, di mana penelitian ini difokuskan, musim hujan (Desember hingga Februari) diperkirakan akan menjadi lebih basah dan musim kemarau (Juni hingga Agustus) lebih kering.
Memecah Indonesia menjadi wilayah yang lebih kecil, Marzuki et al., 2025 menemukan peningkatan curah hujan di Sumatera Tengah-Utara terkonsentrasi dari bulan November hingga Februari, bertepatan dengan puncak musim hujan.
Peningkatan ini juga berkaitan dengan peningkatan transportasi kelembaban dari Samudra Hindia dan Laut Cina Selatan. Pola serupa ditemukan di Malaysia, di mana ditemukan tren peningkatan curah hujan ekstrem (Ng et al., 2022) dan – melalui analisis data 25 tahun – ditemukan tren peningkatan curah hujan musiman untuk Semenanjung Malaysia (Tan, 2021). Kedua peneliti juga menemukan perbedaan spasial di mana daerah kering interior rata-rata semakin kering dan daerah basah pesisir semakin basah.
Di seluruh Sri Lanka, ada peningkatan keseluruhan dalam total curah hujan tahunan dengan peningkatan terkuat terjadi di wilayah timur, serta tren kenaikan yang mencolok selama musim Monsun Antar Monsun Pertama (Maret hingga April) dan Monsun Timur Laut (Desember hingga Februari) (Abeysingha, 2022).
Jayawardena et al. (2018) melaporkan bahwa indikator curah hujan ekstrem, termasuk curah hujan maksimum 1 hari, curah hujan maksimum 5 hari, dan curah hujan total pada hari curah hujan ekstrem (R95p dan R99p), menunjukkan tren peningkatan intensitas curah hujan di sebagian besar lokasi di Sri Lanka.
Variabilitas Iklim
Menurut tim peneliti, ada dua mode variabilitas iklim skala besar yang memengaruhi suhu, curah hujan, dan angin di wilayah penelitian yaitu Indian Ocean Dipole (IOD) dan El Niño Southern Oscillation (ENSO).
ENSO adalah pola suhu permukaan laut di Samudra Pasifik tropis yang terjadi kembali setiap 2-7 tahun, cenderung mencapai puncaknya pada bulan Desember, dengan El Nino menjadi fase hangat dan La Niña fase yang lebih dingin. ENSO juga memengaruhi pergerakan atmosfer skala besar di wilayah tropis – siklus yang dikenal sebagai Sirkulasi Walker (Walker Circulation).
Selama La Niña, Sirkulasi Walker meningkat yang mengarah pada penguatan gerakan udara ke atas (konveksi) di atas Benua Maritim atau Maritime Continent – sebutan bagi wilayah kepulauan di Indonesia, Filipina, Borneo, Papua Nugini dan Semenanjung Malaysia yang terletak di antara Samudera Hindia dan Samudera Pasifik – meningkatkan pembentukan badai di wilayah tersebut. La Niña juga mendorong air laut yang lebih hangat ke arah Samudra Pasifik barat, memberikan energi ekstra bagi badai tropis untuk terbentuk.
Keadaan IOD dan ENSO dapat berinteraksi, memperburuk dampaknya. Status IOD negatif secara resmi dinyatakan oleh Biro Meteorologi Australia pada 9 September 2025 (Biro Meteorologi, 2025). IOD negatif ditandai dengan perairan yang lebih hangat di Samudra Hindia timur dengan perairan yang lebih dingin di barat cekungan tersebut. Status IOD negatif saat ini adalah yang terkuat sepanjang catatan pencatatan dimulai pada tahun 2008 (Biro Meteorologi, 2025) dan kemungkinan besar berkontribusi pada perkembangan badai di wilayah tersebut.
Definisi Peristiwa
Dalam penelitian ini, tim peneliti mengkarakterisasi peristiwa dengan beberapa cara untuk mengaitkan curah hujan dengan siklon yang menyebabkan sebagian besar dampak yang dilaporkan, dan kondisi suhu permukaan laut yang menambah kelembaban dalam siklon tropis.
Pertama curah hujan. Untuk memahami efek curah hujan lebat di seluruh bagian Asia Tenggara dan Sri-Lanka, tim membagi domain spasial menjadi dua wilayah utama sebagai berikut:
- Selat Malaka: Domain poligonal didefinisikan yang mencakup bagian utara pulau Sumatera di Indonesia dan sebagian besar semenanjung Malaysia dan bagian paling selatan Thailand (selanjutnya disebut wilayah Selat Malaka), untuk menangkap wilayah yang mengalami dampak terburuk akibat hujan lebat selama Badai Senyar. Total curah hujan maksimum 5 hari tahunan (Rx5 hari) dipilih untuk mencerminkan durasi curah hujan dari Badai Senyar di wilayah ini.
- Sri Lanka: seluruh pulau Sri Lanka digunakan sebagai area studi kedua. Periode akumulasi maksimum 5 hari tahunan (Juli-Juni) dipilih untuk menangkap dampak curah hujan di Sri Lanka yang terkait dengan Badai Ditwah.
Kedua wilayah studi ini sebagaimana terlihat dalam gambar artikel juga mencakup sejumlah wilayah yang terkena dampak utama termasuk Trincomalee, Batticaloa, Mannar, dan Jaffna di Sri Lanka; dan Kelantan, Terengganu, Pahang, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Songkhla, Pattani, dan Narathiwat di Malaysia, Pulau Sumatera secara keseluruhan, dan Thailand.
Sebagaimana yang kita semua telah pelajari sejak pendidikan dasar, hujan terbentuk melalui siklus penguapan air laut yang membentuk awan, terbawa oleh angin dan menimbulkan hujan. Sama persis dengan hasil penelitian ini, saat suhu permukaan laut (SST/sea surface temperature) meningkat, penguapan air laut juga meningkat yang meningkatkan kelembaban atau kandungan air dalam udara di atmosfer. Kelembaban ekstra ini menurut tim peneliti memicu curah hujan yang lebih lebat dan lebih sering di kedua wilayah penelitian. Pada saat peristiwa hujan ekstrem terjadi di bulan November, wilayah ini berada di bawah pengaruh fase negatif IOD dan La Niña, yang keduanya terkait dengan anomali SST positif di wilayah tersebut.
Pertanyaan selanjutnya? Apa dan siapa penyebab pemanasan global yang telah memicu perubahan iklim dan cuaca ekstrem ini? Apakah cuaca ekstrem ini otomatis menjadi penyebab bencana di wilayah Indonesia, Sri Lanka, Malaysia dan sekitarnya? Anda akan menemukan semua jawabannya di Hijauku.com.
Redaksi Hijauku.com
Leave A Comment