Empat indikator utama perubahan iklim – konsentrasi gas rumah kaca, kenaikan permukaan air laut, suhu air laut, dan tingkat keasaman air laut – mencatat rekor baru pada tahun 2021. Hal ini semakin menggarisbawahi fakta bahwa aktivitas manusia menyebabkan perubahan dan kerusakan dalam skala planet baik daratan, di lautan, dan di atmosfer. Perubahan dan kerusakan ini memiliki konsekuensi berbahaya dan jangka panjang bagi keberlanjutan pembangunan dan ekosistem.
Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memaparkan dalam “State of the Global Climate“, konsentrasi gas rumah kaca global mencapai level tertinggi baru di 2020, saat konsentrasi karbon dioksida (CO2) mencapai 413,2 bagian per juta (ppm) secara global, atau 149% dari level pra-industri. Data dari sejumlah lokasi menunjukkan angka ini terus meningkat pada tahun 2021 dan awal 2022, dengan rata-rata konsentrasi CO2 bulanan di Mona Loa, Hawaii mencapai 416,45 ppm pada April 2020, 419,05 ppm pada April 2021, dan 420,23 ppm pada April 2022.
Suhu rata-rata tahunan global pada tahun 2021 mencapai 1,11±0,13°C di atas suhu rata-rata pra-industri 1850-1900. Tujuh tahun terakhir, 2015 hingga 2021, adalah tujuh tahun terpanas sepanjang sejarah.
Suhu air laut mencapai rekor tertinggi. Suhu air laut hingga di kedalaman 2000 meter terus meningkat di 2021 dan diperkirakan akan terus menghangat di masa depan. Perubahan ini tidak akan bisa diubah dalam waktu seratus tahun hingga milenium atau seribu tahun. Semua kumpulan data oleh para ilmuwan setuju suhu air laut menunjukkan peningkatan yang sangat kuat dalam dua dekade terakhir. Kenaikan suhu ini bahkan semakin dalam menembus lautan. Dan menurut WMO, sebagian besar lautan mengalami setidaknya satu gelombang panas laut yang ‘kuat’ di beberapa titik pada tahun 2021.
Tingkat keasaman air laut. Laut menyerap sekitar 23% emisi tahunan CO2 yang dilepaskan oleh manusia (antropogenik) ke atmosfer. Emisi ini kemudian bereaksi dengan air laut dan memicu peningkatan keasaman laut, yang membahayakan organisme dan jasa ekosistemnya, mengancam ketahanan pangan, pariwisata dan keselamatan penduduk di wilayah pesisir. Saat pH laut turun, kapasitasnya untuk menyerap CO2 dari atmosfer juga turun. IPCC menyimpulkan “dengan keyakinan yang sangat tinggi bahwa pH permukaan di laut terbuka saat ini adalah yang terendah dalam setidaknya 26.000 tahun dan tingkat perubahan pH saat ini belum pernah terjadi sebelumnya setidaknya sejak saat itu.”
Tingkat permukaan air laut rata-rata global mencapai rekor tertinggi baru pada tahun 2021, setelah meningkat rata-rata 4,5 mm per tahun selama periode 2013 -2021. Rekor ini naik lebih dari dua kali lipat antara tahun 1993 dan 2002 terutama disebabkan oleh mencairnya lapisan es yang semakin cepat. Hal ini berimplikasi besar bagi keselamatan ratusan juta penduduk di wilayah pesisir dan meningkatkan kerentanan terhadap siklon tropis.
Salah satu indikator percepatan kehilangan massa es dunia tampak dari kondisi rata-rata gletser dunia yang telah menipis 33,5 meter (disetarakan dengan es) sejak 1950, dengan 76% dari penipisan ini terjadi sejak 1980. Tahun 2021 adalah tahun yang sangat berat bagi gletser di Kanada dan Barat Laut AS yang mengalami rekor kehilangan massa es akibat gelombang panas dan kebakaran pada bulan Juni dan Juli. Greenland juga mengalami pencairan es yang luar biasa pada pertengahan Agustus saat hujan untuk pertama kalinya terjadi di Stasiun Summit, titik tertinggi lapisan es di ketinggian 3.216 m.
Kepala Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati, menyatakan pada Agustus tahun lalu bahwa, perubahan iklim yang terjadi secara global, kini telah mengakibatkan dampak lokal yang sangat serius. Salah satunya mencairnya es abadi di puncak Jaya Wijaya, Papua yang diperkirakan akan terjadi di 2025.
Gelombang Panas, Banjir dan Kekeringan
Gelombang panas yang luar biasa hingga memecahkan rekor terjadi di wilayah Amerika Utara bagian barat dan Mediterania. Suhu di Death Valley, California mencapai 54,4 °C pada 9 Juli 2021, menyamai rekor suhu di 2020 yang tercatat sebagai rekor suhu tertinggi di dunia setidaknya sejak 1930-an. Tren ini juga terjadi di Syracuse di Sisilia dengan suhu yang mencapai 48,8 °C. Sementara suhu di Provinsi British Columbia di Kanada mencapai 49,6 °C pada 29 Juni.
Menurut WMO anomali ini berkontribusi pada lebih dari 500 kematian terkait panas yang dilaporkan dan memicu kebakaran hutan dahsyat yang, pada gilirannya, memperburuk dampak banjir pada November, 2021. Banjir tersebut menyebabkan kerugian ekonomi sebesar $17,7 miliar di provinsi Henan, Cina, dan Eropa Barat yang mengalami beberapa banjir paling parah yang pernah tercatat pada pertengahan Juli terkait. Kerugian ekonomi dari banjir di Jerman diperkirakan melebihi $20 miliar.
Tidak hanya banjir, kekeringan juga melanda banyak bagian dunia, termasuk di wilayah Tanduk Afrika (Horn of Africa), Kanada, Amerika Serikat bagian barat, Iran, Afghanistan, Pakistan, dan Turki. Di daerah sub-tropis Amerika Selatan, kekeringan menyebabkan kerugian pertanian yang besar dan mengganggu produksi energi dan transportasi sungai.
Afrika Timur menghadapi ancaman yang sangat nyata bahwa hujan akan gagal untuk musim keempat berturut-turut, menempatkan Etiopia, Kenya dan Somalia ke dalam kekeringan panjang yang tidak pernah dialami dalam 40 tahun terakhir. Badan-badan kemanusiaan memperingatkan dampak yang menghancurkan pada orang-orang dan mata pencaharian di wilayah tersebut.
Cuaca ekstrem – yang menjadi “wajah” perubahan iklim sehari-hari – menyebabkan kerugian ekonomi hingga ratusan miliar dolar. Badai Ida adalah yang paling signifikan. Badai dari Atlantik Utara ini memorakporandakan Louisiana, Amerika Serikat pada 29 Agustus 2021, dengan kerugian ekonomi mencapai $75 miliar. Badai ini juga menimbulkan banyak korban jiwa, mengguncang ketahanan pangan dan air serta memaksa masyarakat tinggal di pengungsian.
Dampak yang Lebih Kompleks
Ketahanan pangan: dampak kompleks dari konflik, peristiwa cuaca ekstrem, dan guncangan ekonomi, yang semakin diperparah oleh pandemi COVID-19, merusak puluhan tahun kemajuan yang dicapai oleh pembangunan guna mencapai peningkatan ketahanan pangan secara global. Memburuknya krisis kemanusiaan pada tahun 2021 juga telah menyebabkan semakin banyak negara yang mengalami kelaparan. Dari total jumlah penduduk kurang gizi pada tahun 2020, lebih dari setengahnya tinggal di Asia (418 juta) dan sepertiga di Afrika (282 juta).
Migrasi/Perpindahan: Bahaya hidrometeorologi juga terus berkontribusi terhadap perpindahan internal. Negara-negara dengan jumlah perpindahan tertinggi yang tercatat pada Oktober 2021 adalah Cina (lebih dari 1,4 juta jiwa), Filipina (lebih dari 386.000 jiwa) dan Vietnam (lebih dari 664.000 jiwa).
Ekosistem: Ekosistem darat, air tawar, pesisir dan laut – dan jasa yang mereka berikan, dipengaruhi oleh perubahan iklim dan beberapa diantaranya lebih rentan daripada yang lain. Beberapa ekosistem mengalami degradasi pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Misalnya, ekosistem pegunungan – yang berfungsu sebagai menara air dunia – sangat terpengaruh oleh krisis iklim.
Kenaikan suhu juga meningkatkan risiko rusaknya ekosistem laut dan pesisir yang tidak dapat dipulihkan, termasuk padang lamun dan hutan rumput laut. Terumbu karang juga sangat rentan terhadap perubahan iklim. Dunia diproyeksikan kehilangan antara 70-90% wilayah terumbu karang jika pemanasan global mencapai 1,5 °C dan akan kehilangan wilayah terumbu karang lebih dari 99% pada 2 °C.
Sebanyak 20-90% lahan basah di wilayah pesisir saat ini berisiko hilang pada akhir abad ini, tergantung pada seberapa cepat permukaan air laut naik. Hal tersebut akan membahayakan ketersediaan pangan, pariwisata, dan perlindungan bagi penduduk di wilayah pesisir, selain hilangnya jasa-jasa ekosistem yang lain.
“Hanya masalah waktu sebelum kita melihat rekor tahun terpanas lainnya,” kata Sekretaris Jenderal WMO Prof. Petteri Taalas. “Iklim kita berubah di depan mata kita. Panas yang terperangkap oleh gas rumah kaca yang disebabkan oleh manusia akan menghangatkan planet ini selama beberapa generasi mendatang. Kenaikan permukaan laut, panas laut, dan pengasaman akan berlanjut selama ratusan tahun kecuali kita menemukan cara untuk menghilangkan karbon dari atmosfer. Beberapa gletser telah mencair hingga mencapai titik tidak bisa kembali dan ini akan berdampak jangka panjang di dunia di mana lebih dari 2 miliar orang sudah mengalami kesulitan air bersih.”
Laporan WMO, State of the Global Climate melengkapi laporan IPCC Sixth Assessment, yang mencakup data hingga 2019. Laporan WMO baru disertai dengan peta cerita dan memberikan informasi dan contoh praktis bagi pembuat kebijakan tentang bagaimana indikator perubahan iklim diuraikan dalam laporan IPCC selama beberapa tahun terakhir secara global serta bagaimana implikasinya secara ekstrem yang telah dirasakan di tingkat nasional dan regional pada tahun 2021. State of the Global Climate akan digunakan sebagai dokumen resmi untuk konferensi Perubahan Iklim PBB yang dikenal sebagai COP27 yang akan berlangsung di Mesir akhir tahun ini.
Redaksi Hijauku.com
[…] post 4 Indikator Perubahan Iklim Cetak Rekor Baru appeared first on Situs Hijau […]
[…] indikator perubahan iklim tersebut ternyata juga ikut mengancam kesehatan manusia. Suhu yang makin meninggi dapat berdampak […]