Oleh: Jalal *

Sebagai penikmat buku berbagai genre dan tema, saya sangat jarang merasa iri pada koleksi buku milik orang lain.  Di antara sedikit sekali orang yang membuat saya iri pada koleksi bukunya adalah Noke Kiroyan, atau yang biasa saya panggil ‘Pak Noke’.  Tapi urusannya bukan sekadar pada deretan panjang buku-buku yang tersusun dengan rapi, melainkan juga pada ketekunannya membaca dan memanfaatkan isi koleksi bukunya itu sebagai rujukan ketika berbicara dan menulis.

Semua yang mengenalnya secara sepintas atau secara lebih mendalam pasti akan memiliki kesan yang sama dengan apa yang saya nyatakan itu.  Pak Noke tak pernah berbicara dan menulis sembarangan.  Isi pembicaraan dan tulisannya ‘daging semua’—atau di antara para sahabat saya penggemar durian, ‘Musang King semua’—dan selalu disampaikan dengan cara yang memikat.  Itu juga yang bisa dilihat dari buku kumpulan tulisan Pak Noke tentang public affairs yang baru saja terbit.

Dan, sebagaimana yang akan dengan cepat terbaca di dalam buku ini adalah bahwa Pak Noke merupakan sosok yang mendialogkan buku-buku yang dikutipnya itu dengan contoh-contoh yang ada di Tanah Air.  Pengalamannya sebagai CEO beberapa perusahaan multinasional terkemuka selama beberapa dekade, lalu memimpin perusahaan nasional di bidang public affairs, plus aktivitasnya di beragam organisasi, telah membuatnya memiliki segudang besar hal untuk dituturkan kepada para pembaca.

Saya membaca bagian pengantar buku ini sambil tersenyum.  Setelah mengenalkan tokoh bernama James Grunig—yang tak perlu diperkenalkan lagi kalau Anda adalah orang yang bertungkus lumus dalam dunia public affairs dan/atau public relations—Pak Noke menjelaskan penelitian klasik yang dilakukan oleh Universitas Boston di tahun 1978.  “Survei yang dilakukan oleh Boston University pada 1978 terhadap kegiatan unit-unit public affairs di berbagai perusahaan menunjukkan bahwa dua kegiatan mendominasi pekerjaan yang dilakukan oleh unit public affairs, yaitu hubungan komunitas (84,9%) dan hubungan pemerintah (84,2%) dari unit yang bisnis yang dimaksud.” Demikian yang dituliskan Pak Noke.  Menurut saya, ini adalah strategi yang menarik untuk menekankan bahwa dua pemangku kepentingan utama perusahaan pada saat itu adalah masyarakat dan pemerintah.

Tetapi, tak berhenti di situ, Pak Noke kemudian dengan tangkas melanjutkan diskusinya ke konsep social license to operate, yang pertama-tama dikenal di perusahaan-perusahaan berbasis sumberdaya alam, terutama pertambangan dan migas.  Dengan cara itu, buku ini menyeret perhatian para pembacanya ke kesadaran bahwa ini adalah buku yang bukan melulu bicara ‘teori’ dan kasus ‘di luar sana’, melainkan adalah buku yang memang berakar di kasus-kasus Bumi Indonesia, walau ‘langit’ teoretis dan konseptualnya tidak berasal dari negeri ini.  Bagaimanapun, perusahaan-perusahaan berbasis sumberdaya alam yang progresif adalah yang pertama-tama membawa konsep social license to operate itu ke Indonesia dan benar-benar mencoba meraihnya lewat beragam projek untuk dan bersama masyarakat tempatan.  Untuk menegaskannya, Pak Noke kemudian bertutur dalam tiga halaman penuh soal perkembangan public affairs di Indonesia sebelum menutup pengantar itu.

Sambutan Letjen TNI (Purn.) Agus Widjojo menegaskan signifikansi buku ini. “Buku karangan Noke Kiroyan berakar sebagai sumber dan bahan belajar yang banyak digunakan dalam pembelajaran tentang fungsi public affairs dengan memberi panduan yang cakap. Menjadi suatu hal yang esensial bagi segenap pemangku kepentingan agar memiliki dan sebagai rujukan dalam pelaksanaannya, khususnya yang sudah lama berkiprah dalam bidang public affairs.”  Tentu, mereka yang sudah bertungkus lumus mengurus bidang ini akan bisa memanfaatkan buku ini sebagai rujukan.  Tetapi, menurut saya, mereka yang masih baru atau bahkan yang masih hendak memulai menapaki karier di bidang ini, juga akan mendapatkan manfaat luar biasa dari membacanya.

Saya tidak tahu apakah ada buku dalam bahasa Indonesia yang menjelaskan seluk beluk public affairs sebernas dan setangkas yang ditunjukkan oleh Pak Noke di bab pertama.  Saya bahkan tidak tahu kalau ada buku dalam bahasa Indonesia tentang public affairs—yang saya baca adalah buku-buku yang dikutip Pak Noke, dan beberapa buku lainnya.  Diskusi bernas dan tangkas di bab pertama itulah yang membuat saya berpendirian bahwa baik mereka yang sudah lama berada di bidang ini maupun yang baru melangkah akan merasa menemukan dasar pijakan yang kokoh.  Bukan saja lantaran di situ ‘teori’-nya diberikan, namun juga lantaran Pak Noke bicara soal apa yang ia percayai di bidang ini.

Hal yang kemudian akan membuat orang-orang berbeda pendapat mungkin adalah ketika Pak Noke mendiskusikan soal keberlanjutan bisnis.  Di tulisan tersebut ditegaskan bahwa keberlanjutan bisnis adalah hal yang pragmatis, bukan normatif atau idealis.  Mereka yang memandang bahwa ada semacam polaritas di antara pragmatisme dan idealisme mungkin akan menemukan bahwa tulisan itu adalah Padang Kurusetra.  Penganut pragmatisme akan merasa menemukan kawan seperjuangan, dan mereka yang menganut idealisme mungkin akan merasa kecewa.

Namun, siapapun yang mengenal Pak Noke dengan dekat akan tahu bahwa yang dinyatakannya itu adalah penegasan bahwa keberlanjutan bisnis lagi-lagi bukanlah sekadar urusan ‘langit’, melainkan harus dibumikan dengan baik.  Pemahaman tentang apa itu keberlanjutan dan keberlanjutan perusahaan harus dituangkan ke dalam kebijakan, strategi, prosedur, serta program serta projek beserta implementasinya yang membuat keberlanjutan benar-benar bisa terwujud.  Untuk bisa menjadi berkelanjutan, perusahaan haruslah bisa memberikan solusi bagi permasalahan ekonomi, sosial, dan/atau lingkungan yang dihadapi oleh masyarakat dengan cara yang mendatangkan keuntungan bagi pemilik modalnya.

Studi kasus tentang kelapa sawit Indonesia dan sikap Parlemen Uni Eropa menjadi penutup yang sangat baik untuk bab pertama, mengenali sikap-sikap Pak Noke, sekaligus juga menjadi pengantar yang sangat efektif ke bab berikutnya.  Bab kedua, tentang pengelolaan pemangku kepentingan ini dimulai dengan menjelaskan apa itu pemangku kepentingan dan manajemennya.  Tulisan berikutnya, menjelaskan soal kesalahkaprahan yang banyak dianut oleh orang-orang Indonesia soal pemangku kepentingan—yang sedihnya hingga sekarang, menurut pengamatan saya, masih juga belum ‘sembuh’.

Pak Noke menjelaskan tentang bagaimana seharusnya perusahaan memulai pembinaan hubungan dengan terlebih dahulu memetakan pemangku kepentingannya.  Hanya dari pemetaan itu, kemudian pendekatan terarah bisa dilakukan.  Di sini tampak sekali pengalaman panjang Pak Noke dalam memanfaatkan teori pemangku kepentingan, teori identifikasi pemangku kepentingan, dan beragam standar dan panduan internasional untuk situasi Indonesia.  Penegasan tentang pendekatan ‘senapan mesin’ dan ‘penembak jitu’—agaknya ini adalah buah pemikiran asli Pak Noke—sangat bermanfaat bagi pembaca yang ingin mendapatkan strategi besar dalam pembinaan hubungan.

Penting untuk diingat bahwa Pak Noke tidak sedang menulis sebuah buku petunjuk praktis atau metodologi pemetaaan dan pembinaan hubungan dengan pemangku kepentingan.  Seluruh prinsip telah dikemukakan dengan jelas, dan kasus-kasus yang menegaskan keberlakuan prinsip-prinsip itu juga didiskusikan dengan sangat memadai.  Studi kasus di industri pertambangan—di mana jejak karier Pak Noke sangatlah kuat dalam membuat industri ini menjadi bertanggung jawab sosial—semakin menegaskan manfaat pendekatan pemangku kepentingan.

Di Indonesia, mungkin praktisi yang paling banyak mendetailkan apa yang Pak Noke sampaikan di bab tersebut adalah Herry Ginanjar.  Puluhan posting yang ia buat di media sosial LinkedIn sangatlah bermanfaat untuk diikuti.  Saya berharap Mas Herry, begitu ia biasa saya panggil, kelak bisa menerbitkan karyanya yang tentu akan sangat melengkapi bab kedua buku Pak Noke ini.

Bab ketiga buku ini menunjukkan bahwa Pak Noke bukan saja piawai dalam memanfaatkan pendekatan pemangku kepentingan dalam ‘situasi normal’.  Krisis adalah ujian bagi perusahaan yang bisa membawa pada kematiannya, dan mereka yang lulus dari krisis akan menjadi semakin kuat.  Tulisan pertama Pak Noke dalam bab ini menegaskan soal risiko kematian itu, dengan merujuk pada kasus terkenal, perusahaan reputasi dan pemasaran Bell Pottinger.  Pada tulisan-tulisan berikutnya lah kita bisa membaca bagaimana Pak Noke memandu perusahaan keluar dari berbagai krisis dan mengambil pelajaran darinya.  Di bab ini, saya benar-benar menyukai tulisan “Ada Kalanya Lebih Baik Diam” dan “Hargailah Jurnalis, Mereka Akan Membantumu.”  Keduanya sangat praktis sekaligus mengandung kebijaksanaan yang dalam.

Untuk mereka yang ingin tahu tentang apa saja ragam aktivitas yang ada dalam ranah public affairs, bab keempat akan sangat bermanfaat.  Debat publik soal energi di Jerman, penggalangan dukungan publik untuk pembangunan infrastruktur, hingga bagaimana mengevaluasi dan mengomunikasikan CSR ada di sini.

Apakah ada isu-isu terkait public affairs yang belum didiskusikan di buku ini?  Tentu saja.  Pak Noke tidak mendiskusikan soal tantangan yang datang dari perkembangan media sosial atau bahkan Kecerdasan Buatan terhadap public affairs yang mungkin sudah dihadapi secara tergagap oleh banyak orang di dalam perusahaan.  Tetapi, apakah itu kemudian membuat buku ini menjadi ketinggalan zaman?  Sama sekali tidak.  Semua pengetahuan dan pengalaman Pak Noke yang dituangkan di sini tetap memiliki manfaat yang sangat besar untuk membuat public affairs ‘menggapai langit’ sekaligus ‘menjejak Bumi’, sekarang dan bertahun-tahun ke depan.

Kembali ke soal koleksi buku dan Pak Noke.  Saya tentu saja bisa menaruh tambahan deretan buku dan artikel jurnal yang belum disebutkan oleh Pak Noke di halaman daftar pustaka.  Tetapi itu tidak berarti Pak Noke belum membacanya atau memanfaatkan pustaka itu di dalam menyusun buku ini.  Keyakinan saya bulat, Pak Noke menyarikan pustaka yang jauh lebih banyak daripada yang ditulis di penghujung bukunya sebagai kutipan langsung.  Pak Noke juga telah menyarikan pengalamannya yang sangat panjang menjadi kebijaksanaan dan nasihat praktis yang tersebar di sekujur bab dalam buku ini.  Bab kelima, seberapapun orang akan membacanya dengan kagum, tak cukup meringkas pengalaman luar biasa seorang Noke Kiroyan, dan jejaknya dalam public affairs di Indonesia.

–##–

* Jalal menulis esai-esai tentang keberlanjutan, tanggung jawab sosial perusahaan, dan bisnis sosial. Ia memegang sejumlah posisi dalam bidang-bidang tersebut, di antaranya sebagai reader dalam bidang tata kelola perusahaan dan ekologi politik di Thamrin School of Climate Change and Sustainability; pimpinan dewan penasihat Social Investment Indonesia; pimpinan dewan pakar Social Value Indonesia; strategic partner CCPHI Partnership for Sustainable Community; anggota dewan pengurus Komnas Pengendalian Tembakau; dan pendiri sekaligus komisaris di perusahaan sosial WISESA dan ESG Indonesia.