Seberapa berhasilkah aksi konservasi keanekaragaman hayati dunia? Berapa banyak jenis burung dan mamalia yang berhasil dicegah masuk dalam kepunahan? Pertanyaan ini dijawab dalam hasil penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal “Society for Conservation Biology

Friederike C. Bolam dan Louise Mair dari University of Newcastle dan Marco Angelico dari University of Rome adalah tiga peneliti utama – yang bersama dengan peneliti-peneliti yang lain – menganalisis capaian Target Keanekaragaman Hayati Aichi atau Aichi Target ke-12 dalam Convention on Biological Diversity (CBD) yang berisi upaya untuk mencegah kepunahan spesies.

Tim peneliti melakukan analisis dari kajian para ahli untuk menghitung seberapa banyak jenis burung dan mamalia yang berhasil dicegah dari kepunahan melalui aksi konservasi dalam periode 1993-2020.

Periode ini juga periode diberlakukannya CBD) dan spesifik untuk periode 2010–2020 adalah waktu berlakunya Target CBD ke-12 yaitu Target Keanekaragaman Hayati Aichi.

Hasilnya, tim menemukan bahwa aksi konservasi yang selama ini dilaksanakan di seluruh dunia berhasil mencegah kepunahan 21–32 jenis burung dan 7–16 jenis mamalia sejak 1993 dan 9–18 jenis burung dan 2-7 jenis mamalia sejak 2010.

Namun tim peneliti menyatakan, masih banyak jenis burung dan mamalia yang terancam dan akan punah. Karena selain catatan keberhasilan di atas, terdapat 10 jenis burung dan mamalia yang telah atau dianggap punah sejak 1993.

Dan tim peneliti menyatakan, laju kepunahan akan 2,9–4,2 kali lebih tinggi tanpa aksi konservasi. Untuk itu tim peneliti menyeru para pemangku kepentingan untuk meningkatkan aksi konservasi guna mencegah kepunahan baru.

Badan Pusat Statistik mencatat setidaknya ada 15 jenis burung dan mamalia yang terancam punah di Indonesia. Mereka adalah Harimau Sumatera, Gajah Sumatera, Badak, Banteng, Owa, Orangutan, Bekantan, Komodo, Jalak Bali, Maleo, Babi Rusa, Anoa, Elang, Tarsius dan Yaki atau Monyet Hitam Sulawesi.

Tantangan konservasi keanekaragaman hayati semakin meningkat. Selain komitmen diperlukan aksi yang lebih tegas di lapangan untuk mencegah kepunahan jenis dan anak jenis tumbuhan dan satwa liar.

Redaksi Hijauku.com