Dunia terlalu meremehkan dampak ekonomi akibat perubahan iklim. Dunia berpotensi mengalami kerugian yang jauh lebih besar, mencapai triliunan dolar, menurut hasil penelitian terbaru yang disusun oleh pa ra ilmuwan dari Georgetown University dan University of Warwick. Hasil riset ini diterbitkan dalam jurnal Nature Communications, Selasa, 6 Oktober 2020.

Menurut tim peneliti, model prediksi kerugian ekonomi akibat krisis iklim yang digunakan saat ini gagal menghitung variasi temperatur dunia yang tidak terprediksi. Alih-alih, model ekonomi yang dipakai hanya menghitung kenaikan temperatur bumi yang bisa diprediksi.

Menurut Profesor Sandra Chapman, dari University of Warwick, “Saat kita memicu pemanasan global, kenaikan suhu tidak terjadi secara mulus dan seragam. Perubahan suhu bumi akan berdampak pada kerusakan ekonomi. Penelitian kami menemukan kerugian ekonomi tambahan dari fluktuasi suhu bumi, dibanding dari kenaikan suhu bumi secara konstan akibat peningkatan CO2 di atmosfer.”

Tim peneliti memberikan contoh Amerika Serikat. AS saat ini bergantung pada model prediksi yang dikembangkan oleh ekonom Yale University, William Nordhaus, yang, atas karyanya tersebut, mendapatkan Hadiah Nobel pada 2018. AS juga menggunakan dua model prediksi lain yang dikembangkan dari teori Nordhaus.

Namun Profesor Raphael Calel, dari Georgetown University menyatakan, model-model tersebut gagal menghitung kerugian ekonomi akibat fluktuasi kenaikan suhu bumi yang tidak bisa diprediksi dari tahun ke tahun.

Menurut Calel, dengan menggunakan model penghitungan yang baru, “Dunia  akan menanggung kerugian tambahan sebesar $10 triliun hingga $50 triliun dalam 200 tahun ke depan jika dihitung dengan nilai dolar saat ini.”

Kerugian ini semakin tinggi saat dunia gagal beraksi atasi krisis iklim. Menurut Calel, diperlukan upaya lebih cepat untuk mengurangi emisi guna menghindari dampak perubahan iklim yang bisa diprediksi, pada saat yang sama, perlu disiapkan aksi mitigasi perubahan iklim untuk mengantisipasi dampak dan biaya akibat fluktuasi kenaikan suhu bumi.

Diantaranya adalah dengan menyiapkan kebijakan-kebijakan baru termasuk kebijakan untuk menjaga dan mewujudkan ketahanan pangan tanpa merusak lingkungan, investasi infrastruktur yang tahan cuaca ekstrem dan menyiapkan lembaga dan dukungan sosial bagi jutaan penduduk yang akan terusir dari rumah mereka akibat krisis iklim.

“Manfaat dari investasi-investasi ini jauh lebih besar dari yang diperkirakan sebelumnya,” ujar Calel.

Redaksi Hijauku.com